Nusantara
28-Mar-2006 17:06:07 WIB
TEROPONG
Tabot



Reporter: Eliza Amanda
Juru Kamera: Mugi Wiyono

indosiar.com, Bengkulu - Sepengal adegan ini terjadi awal bulan Muharam tahun 61 Hijriah di Padang Karbala. Pasukan Husien Bin Ali bin Abi Thalib salah satu keturunan Nabi Muhammad SAW bertempur melawan pasukan Yazid bin Muawiyah. Perkelahian tidak seimbang menyebabkan Husien akhirnya dipancung lalu tubuhnya dicincang.

Potongan tubuh Husien ditemukan lalu diarak keliling kota. Kematian Husien ini kemudian diperingati oleh kaum Syiah. Tradisi kemudian membudaya dan menjadi bagian masyarakat Bengkulu yang dinamakan Tabot.

Bengkulu merupakan ibukota Provinsi di Pulau Sumatera. Disinilah sebagian warga keturunan Bengala, India merayakan upacara Tabot yang berlangsung selama 10 hari. Dari tanggal 1 hingga 10 Muharam 1427 Hijriah.

Sebelum melakukan ritual, mereka memanjatkan doa di rumah salah satu tokoh Tabot, agar upacara ini berjalan lancar. Tradisi Tabot dibawa oleh para pekerja asal Bengalih, India.

Salah satu tokohnya Syekh Burhanuddin atau Imam Senggolo adalah orang yang pertama kali memperkenalkan dan mewariskannya ke anak cucu.

Sehingga tradisi ini kini menjadi budaya dan masyarakat Bengkulu.Dua kelompok Tabot akan melakukan ritual ini yakni Tabot Bangsal dan Tabot Imam yang prosesinya saat ini Kami ikuti.

Ribual diawali dengan mengambik atau mengambil tanah yang dilakukan di Pantai Nala. Untuk mengetahui prosesi ini lebih dekat, Kami langsung menuju ke Pantai Nala sebelum ritual dilakukan pada malam nanti.

Di bangunan dengan atap berlambang Gerga ini, ritual mengambik atau mengambil tanah dilakukan. Bangunan ini hanya dibuka saat ritual Tabot berlangsung. Dan setelah itu dikunci agar masyarakat setempat tidak mengkramatkannya.

Disini Kami menjumpai Mahyudin, keturunan ke 6 Syekh Burhanuddin yang sehari-harinya menjaga lokasi ini. Dan kini ia sibuk mempersiapkan upacara Tabot.

Sebelum tanah diambik ada beberapa ritual yang harus dikerjakan para Imam Tabot. Pukul 10 malam, ritual mengambik tanah dilakukan. Baik keluarga Tabot Imam dan warga berjalan kaki menuju Pantai Nala.

Mereka menggelar sesajian berupa bubur merah putih, gula merah, sirih tujuh subang, rokok 7 batang, air kopi pahit, air srobat, air susu sapi murni dan air cendana. Tanah diambil sebanyak dua kepal, lalu dibungkus dengan kain putih.

Prosesi ini merupakan simbol untuk mengingatkan kembali proses penciptaan manusia yang berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Di akhir ritual, mereka meninggalkan sebagian dari sesaji. Ini kebiasaan yang dilakukan sejak awal upacara ini dan terkadang sesaji yang diberikaan tergantung keinginan sang roh halus.

Tanah Disemayamkan

Inilah Gerga, bangunan yang menjadi simbol dari benteng pertahanan Husein Bin Ali Abi Thalib saat berperang melawan Yazid. Bangunan ini lebih mirip miniatur masjid dan dipercaya sebagai tempat sakral keluarga Tabot.

Hanya ada satu Gerga yang dibuat permanen. Gerga lain yang Kami temui hanya dibuat dari kayu beratapkan seng dan dibangun sementara. Selama upacara, tanah yang diambil dalam prosesi semalam ditaruh disini hingga akhir perayaan.

Sejak pagi keluarga Tabot mempersiapkan sesaji berupa nasi emping dengan empat macam air. Air jahe, srobat, susu dan kopi. Hanya orang tertentu yang boleh menyiapkan sesaji ini . Sesaji ini nantinya akan diperebutkan keluarga Tabot dan warga.

Tanggal 4 Muharam, kelompok Tabot Imam melakukan ritual duduk penja. Yakni tahapan kedua dari 9 tahapan upacara Tabot. Duduk penja adalah upacara mencuci benda keramat berupa telapak tangan manusia atau penja. Yang diibaratkan potongan tangan Husein Bin Ali bin Abi Thalib. Berbagai peralatan pencucian disiapkan. Yakni 4 macam air jeruk, nipis serta gula merah. Ritual pun dimulai dan penja dicuci tiga kali.

Namun ritual ini terkesan sedang mempersiapkan perang. Setelah itu sesaji berupa nasi emping dikeluarkan. Warga seolah tidak sabar menanti akhir dari ritual.

Nasi emping ini dipercaya dapat mengabulkan keinginan mereka yang dapat memakannya. Sayangnya, Kami yang sudah menunggu sejak tadi tidak kebagian sedikitpun.

Keranda yang berisi penja kemudian dimasukkan kedalam Gerga. Pertanda ritual ini berakhir. Bendera panji, lambang pohon tebu hitam dan pisang emas ditegakkan di 4 penjuru Gerga, sebagai perlambang dalam suasana perang tetap harus dilakukan dengan kepala dingin dan tidak ceroboh.

Keesokan harinya, giliran 15 Tabot Bangsal menggelar ritual serupa. Sore menjelang malam, Tabot Bangsal siap menyerang Tabot Imam. Obor disiapkan. Begitu pula dol atau gendang yang mereka bersihkan dengan air bekas cucian penja.

Perang Dimulai

Suara gendang atau dol dan tasa menyemarakan ritual malam menjara. Kelompok Tabot Bangsal siap menyerang ke kelompok Tabot Imam. Panji kebesaran dan jari-jari diarak.

Ritual menjara diibaratkan perjalanan menuju kancah peperangan. Untuk mengetahui lebih dalam ritual ini Kami mengikuti perjalanan rombongan Tabot Bangsal yang terdiri dari 8 kampung.

Rombongan Tabot ini mendatangi setiap kampung untuk menggalang massa. Sehingga jumlah rombongan terus bertambah.

Kami melihatnya dari jari-jari yang mereka usung. Karena setiap jari-jari mewakili satu kampung. Suasana terkadang menjadi panas dan tegang ketika rombongan yang satu bertemu dengan kampung lainnya.

Dol atau gendang dipanasi sebelum diadu dengan dol lawan. Tradisi ini masih bertahan. Konon dahulu, dol ini diadu hingga pecah. Kedua kelompok akhirnya bertemu. Kedua pasukan langsung beradu dol dan menabuh sekuat-kuatnya.

Dua menit adu dol berlangsung. Pasukan Bangsal kemudian beranjak lalu mengunjungi Gerga tua. Disini seluruh jari-jari Tabot Bangsal melakukan soja atau bersambut dengan jari-jari Tabot Imam. Dan ritual menjara untuk malam ini berakhir.

Esok malamnya, ritual menjara kembali dilakukan. Kali ini kelompok Tabot Imam balas mengunjungi ke Tabot Bangsal.

Kali ini peralatan lebih lengkap. Rombongan berjalan kaki ke Gerga tua untuk mengambil jari-jari dan menjemput rombongan di 9 kampung.

Api unggun dinyalakan saat rombongan beristirahat sejenak. Biasanya, hal ini dilakukan beberapa kali selama perjalanan. Suasana lebih meriah dibanding malam sebelumnya.

Kerasnya bunyi dol terkadang memicu emosi massa, sehingga nyaris bentrok dengan sesama rombongan.

Perjalanan ke Lapangan Merdeka masih panjang. Untuk menyemangati pasukan yang sudah mulai lelah, dol terus ditabuh.

Kendati dengan irama yang sudah tidak sesuai. Rombongan tiba di Lapangan Merdeka. Namun pasukan bubar, karena alam yang tidak bersahabat.

Sebaliknya di Kampung Bali, Tabot Bangsal sudah menunggu di Gerga mereka. Tidak beberapa lama kemudian, pasukan Tabot Imam tiba lengkap dengan 9 jari-jari yang mewakili 9 kampung.

Kedua pasukan kemudian berperang mengadu gendrang, bukan senjata sebagaimana yang Kami tunggu.

Prosesi panjang menjara berakhir sudah. Ritual ini mengenang kembali kecintaan mereka terhadap Husien Bin Ali Abi Thalib serta menanamkan rasa kebencian terhadap Yazid bin Muawiyah. (Sup)

 

Nama:
Email:

More TEROPONG:
[ more Teropong ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :