
indosiar.com, Sulawesi Selatan - Karampuang adalah kawasan adat di Sulawesi Selatan yang tidak banyak dikenal luas. Namun ternyata, Karampuang adalah sebuah desa megalitik yang sudah ada puluhan ribu tahun lalu. Beberapa situs membuktikan itu. Karampuang adalah misteri yang belum sepenuhnya terungkap.
Perjalanan ke Karampuang sekitar 1 jam dari kota Sinjai. Karampuang adalah desa yang berada di ketinggian sekitar 1000 meter dari permukaan laut. Desa ini hanya berpenduduk sekitar 70 kepala keluarga. Kendati begitu, harmoni kehidupan masih terjaga dengan baik.
Masyarakat adat Karampuang cenderung masih sangat tertutup. Bagi mereka, dunia luar bisa merusak adat dan tradisi yang mereka jaga selama puluhan ribu tahun.
Itulah sebabnya tidak mudah masuk ke sini. Sehingga kami meminta bantuan Muhanis yang sudah belasan tahun hidup bersama mereka.Karampuang adalah desa purba yang sudah ada sejak zaman megalitik atau zaman batu.
Buktinya adalah goresan purba ini. Situs purba ini bernama Manusia Kangkang. Beberapa simbol ini adalah catatan penting tentang perjalanan hidup dari generasi ke generasi sebelumnya.
Em...mengagumkan. Karampuang yang terpencil ternyata puluhan ribu tahun silam nenek moyang mereka sudah mengenal tanda baca. Namun Karampuang adalah masyarakat yang masih lugu. Mereka memahami dunia dengan berbagai mitos.
Kolam tua ini adalah untuk memandikan balita. Bila air melimpah, warga akan berebut memandikan bayinya, karena airnya akan membawa berkah. Dan ini adalah dolmen atau batu gong.Dalam ritual tertentu, masyarakat menggunakannya sebagai alat meminta berkah dari leluhur.
Lubang-lubang ini diperkirakan dibuat sekitar abad ke 12 untuk menumbuh hasil pertanian. Cukup cerdik, mereka tidak membuatnya dari kayu karena akan menimbulkan suara keras yang bisa memancing musuh.
Sebagian posisinya menunjukkan masuknya pengaruh Islam. Ini adalah ponden berundak. Disinilah para raja yang memimpin kawasan adat ini dilantik. Raja yang baru harus memberikan sesaji disini supaya mendapat berkah dan keselamatan. Kami berada di puncak bukit yang tingginya 1000 meter dari permukaan laut.
Inilah situs yang mereka sangat keramatkan bernama Batu Lapa. Masyarakat Karampuang percaya manusia pertama di bumi berasal dari sini.
Mereka menamakannya Tok Manurung, sosoknya berupa wanita yang turun dari langit.
Mitos Tok Manurung mereka wariskan turun temurun. Dan ternyata menjadi sumber pengerak kehidupan mereka hingga saat ini.
Rumah Sebagai Pusat Kehidupan .......
Rumah bagi orang Bugis, Makassar tidak hanya sebagai tempat tinggal, namun melambangkan status sosial. Masyarakat adat Karampuang melihat lebih dari itu. Rumah bagi mereka adalah pusat kehidupan.
Mereka menamakan rumah ini Toma Toa. Kendati sudah berusia 14 abad, Toma Toa masih berdiri kokoh. Seluruh kegiatan pemerintahan di Karampuang berpusat di rumah yang mereka sangat sakralkan ini.
Berbeda dengan rumah adat Bugis pada umumnya, yang lebih menonjolkan sifat ke laki-lakian, sebaliknya Toma Toa melambangkan keangunan dari sosok perempuan. Masyarakat Karampuang adalah matrilinial. Sesuatu yang unik dan langka di Sulawesi Selatan.
Begitu sakralnya rumah ini, bila ingin memperbaiki Toma Toa, mereka harus melakukan ritual tertentu. Tidak sebarang orang bisa tinggal di Toma Toa. Hanya pemangku adat.
Arung adalah pemimpin masyarakat adat Karampuang yang berhak tinggal di Toma Toa. Ia sangat disegani dan hanya sesekali berbicara.
Gella tinggal tidak jauh dari Toma Toa. Bila Arung adalah raja, maka Gella adalah perdana menteri yang juga bertanggungjawab soal hukum dan peradilan di Karampuang.
Di tangan Gella, ketertiban Karampuang terjaga. Ia tidak segan menghukum siapapun yang melanggar aturan adat yang berlaku.
Ada dua lagi yakni Sandro dan Guru. Sandro harus dijabat seorang wanita. Dialah yang mengatur soal kesejahteraan rakyat. Selain Sandro ada juga Guru yang mengatur soal pendidikan.
Keempat pemangku adat inilah yang mengatur jalan roda kehidupan di Karampuang. Mereka sangat dihormati, namun juga bertindak bijaksana. Masyarakat Karampuanglah yang memilih mereka dan pada waktu tertentu masyarakat pula yang akan menggantinya. Biasanya 40 tahun sekali.
Belum lama masyarakat Karampuang menggelar hajatan besar yang mereka namakan mapugao hanuai, hajatan menyambut masa bercocok tanam setelah mereka menikmati panen berlimpah.
Persembahan Buat Leluhur....
Panen telah mereka nikmati. Kini sudah waktunya menanam kembali. Arung dan pemangku adat lain berkumpul mengadakan rapat karena acara penting dan melibatkan masyarakat luas.
Arung adalah pemimpin generasi ke 7 Karampuang. Nama aslinya Wongtolah. Dia seorang petani biasa, namun sangat disegani. Masyarakat memilihnya karena Wongtolah dianggap tidak cacat moral. Maju mundurnya Karampuang ada di tangan dia.
Sandro lah yang memimpin ritual mapugao hanuai. Ia bernama Puang Jene. Dia adalah Sandro dari generasi ke 5. Dusun yang sepi menjadi ramai. Toma Toa yang lengang kini penuh sesak dengan kaum wanita yang mempersiapkan segala kebutuhan ritual.
Seluruh anggota masyarakat mengumpulkan hasil bumi untuk kepentingan bersama. Kaum laki-laki memotong ayam yang sudah diberi mantra oleh Sandro.
Ayampun dipilih sesuai warna bulunya yang melambangkan 4 unsur kehidupan. Mereka akan mempersembahkan untuk sang leluhur yang ada di bukit ini. Darahnya dipersembahkan ke roh penunggu hutan agar lahan pertanian selalu subur dan berlimpah berkah.
Masyarakat Karampuang adalah penganut Islam taat. Namun kami merasakan pengaruh pra Islam atau animisme yang begitu kuat. Seluruh sesaji mereka bawa ke bukit untuk dipersembahkan ke Tok Manurung leluhur mereka yang turun dari langit.
Gella harus memsucikan lebih dulu tempat dimana turunnya Tok Manurung. Mapugao hanuai mengundang perhatian ribuan orang. Kami memperkirakan ada sekitar lebih dari 5000 anggota masyarakat yang menghadiri tradisi tahunan ini.
Ada yang datang dari penjuru nusantara karena mereka memiliki ikatan batin yang kuat dengan masyarakat disini. Seluruh sesaji mereka persembahkan di bukit yang mereka percaya merupakan tempat turunnya leluhur mereka Tok Manurung.
Ada harapan, sesaji yang mereka ikhlaskan ini akan memberikan keselamatan dan berkah bagi mereka. Di tempat punden berundak atau tempat penobatan raja-raja Karampuang sesaji kemudian diperebutkan.
Pesta semacam ini kabarnya sudah ada sejak 30 ribu tahun lalu. Era megalitikum, em.. sulit dipercaya. Pesta mapugao hanuai telah membuka sedikit demi sedikit Karampuang ke dunia luar bahwa ada tradisi tua yang selama ini tersembunyi.
Mungkinkah Karampuang bertahan dengan harmoni dan kearifan yang mereka miliki. Sulit menjawabnya. Semua ini terletak di tangan Arung dan 3 pemangku adat yang lain. Semoga saja mereka memahami bahwa keterbukaan tidak selamanya membawa kebaikan. (Suprie)