
indosiar.com, Jakarta - Jakarta memang menjadi magnet tersendiri bagi para pendatang dari berbagai daerah. Seakan Jakarta menjanjikan segalanya untuk memperbaiki kehidupan, terutama ekonomi. Akibatnya beragam problem menyerang ibu kota ini. Masalah sosial kependudukan tak pernah terselesaikan. Salah satunya masalah anak jalanan.
Di setiap perempatan jalan, traffic light, bahkan di sudut - sudut kemacetan jalan, mereka berjibaku mencari sesuap nasi. Beginilah pemandangan sehari-hari anak-anak jalanan. Karena sudah terbiasa, seolah keadaan seperti ini menjadi lumrah.
Pekerjaan menjadi pengamen, menjual jasa, pedagang asongan dan pengemis, adalah pilihan yang bisa mereka kerjakan di jalanan. Sekilas aksi-aksi mereka di jalanan mengganggu arus lalu lintas.
Ketertiban dan kenyamanan pengendara dan pejalan kaki kerap terusik.Nyatanya anak-anak ini, tetap tak peduli, bahkan mereka semakin agresif menantang kerasnya jalanan ini. Buat mereka jalanan juga merupakan tempat bermain.Umumnya, mereka berlatar belakang ekonomi yang morat marit.
Orang tuanya tidak bisa mencukupi hidup mereka secara layak. Sebagian nekad ke jalanan karena faktor keretakan dan kekerasan dalam rumah tangga. Bahkan ada yang hidup di jalanan sejak bayi, lantaran ikut orangtuanya mencari nafkah di jalanan. Salah satunya supriyati, gadis berusia sepuluh tahun ini. Sehari-hari ia mencari nafkah di jalanan dengan cara menjual suara.
Supri bersama anak jalanan yang lain, kerap nongkrong di Perempatan Coca Cola, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Lokasi tongkrongan ini, ia pilih karena letaknya tak jauh dengan tempat tinggalnya di Pedongkelan, Jakarta Timur.
Supri adalah produk keluarga broken home. Ia nekad hidup di jalanan, lantaran tidak ada yang menopang hidupnya, secara ekonomi. Bersama Supri kami menjadi kenal dengan anak-anak jalanan yang lainnya, di sini.
Jalanan sudah menjadi bagian dari hidup Supri. Sepertinya ia sudah menikmati kerasnya hidup di jalanan. Dari bis ke bis Supri bersama Puput, dan Mina mengamen.Tidak setiap bis memperbolehkan mereka mengamen. Bila boleh mengamen pun, mereka harus tunggu giliran, dengan pengamen lainnya.
Sepuluh hingga lima puluh ribu rupiah uang hasil mengamen selama satu hari ia bisa peroleh. Uang itu ia setorkan ke ibunya, untuk menopang hidup mereka. Terlalu lemah jari Supri bila harus memecahkan batu karang. Karena seharusnya ia berada di sekolah, menuntut ilmu bersama rekan-rekan sebayanya.
Memang Supri berhenti dari sekolah lantaran ia takut menghadapi gurunya yang galak, ditambah tak lagi ada biaya. Selesai mengamen, Supri dan rekannya ini, kembali ke tempat mangkal mereka di sini. Sambil beristirahat, mereka ngobrol ngalor ngidul bersama anak-anak senasib lainnya.
Di warung kagetan milik emak Icah inilah tempat mereka mangkal. Uang yang mereka dapat hari ini cukup untuk makan sehari. Sepuluh ribu rupiah, mereka bagi tiga. Biasanya, di sini Supri sudah ditunggu Sari, sang ibu, yang sudah kenyang makan asam garam di jalanan, 20 tahun lalu.
Dari Supri pula kami tahu lebih banyak perihal kehidupan anak jalanan. Salah satunya mereka hidup di gubuk-gubuk nan kumuh, di kawasan Pedongkelan. Di kawasan ini, Supri bergaul dengan beragam jenis manusia. Mereka umumnya bekerja sebagai buruh kasar, pemulung, pengamen, dan bahkan waria dan preman.
Segmen 2
Inilah Pedongkelan di Jakarta Timur. Letaknya sangat strategis, di perbatasan Jakarta Pusat, Timur, dan Utara. Tampak, sejumlah rumah dan gubuk berdiri di tepi Waduk Ria Rio. Penduduk Pedongkelan umumnya pendatang, yang sudah bermukim di sini sejak puluhan tahun lalu.
Sebagai pemukiman terbuka, jumlah penduduk Pedongkelan tiap hari bisa bertambah dan berkurang. Tapi jelasnya, ada lebih dari seribu jiwa tinggal disini. Umumnya mereka bekerja di sektor informal, seperti buruh kasar, pemulung, pedagang asongan, dan pengamen.
Daerah ini juga dikenal sebagai lokasi rawan tindak kriminal. Pelaku kejahatan kapak merah, pencopet, waria tumbuh subur di pemukiman ini. Supriyati, si anak jalanan yang mengamen bermukim disini. Ia tinggal di kontrakan kumuh berukuran 3 meter kali 2 meter. Lingkungan ini, adalah lingkungan Supri.
Ia tumbuh dan berkembang disini. Dan jalanan yang membesarkan Supri. Saat kami bertandang ke pemukiman ini, kegiatan warga sekitar seolah tak pernah ada hentinya. Mulai dari mencuci, masak, bahkan mengasuh anak-anak. Termasuk para waria ini. Waria ini, adalah tetangga kamar Supri. Memang sebagian besar tetangga Supri merupakan waria.
Ada sekitar dua puluh orang waria yang tinggal di sini. Bahkan diantaranya ada yang hidup berpasangan dengan lelaki. Layaknya suami istri. Salah satunya Ina. Penampilannya nyaris mengelabui lelaki. Jika melihat sekilas seperti wanita asli, apalagi dengan kulitnya yang putih bersih.
Ina yang berasal dari Jawa Timur, sengaja datang ke Jakarta untuk mengadu nasib. Sayangnya tak ada pekerjaan formal yang ia peroleh. Dan menjadi waria adalah pilihannya. Sejak itu Ina tak lagi berhasrat dengan wanita. Dan bahkan kini ia telah memiliki suami. Tidak sedikit waria yang menggunakan suntik silikon, meski mereka tahu pasti akibatnya.
Awalnya bentuk wajah memang sesuai dengan yang diinginkan, namun seiring pertambahan usia, efek silikon mulai tampak. Bentuk wajah menjadi tak menentu. Karena kulit wajah sudah tak kencang lagi, silikon menggelayut seperti tumor. Mereka pun banyak yang malu, saat kami datang bertandang.
Umumnya para waria ini bekerja sebagai pengamen.Buat Supri, keberadaan waria ini bisa menjadi hiburan. Kelakar mereka yang lucu, membuat suasana menjadi hangat. Di sini juga kami bertemu Babe, ayah tiri Supri. Ia banyak menjelaskan kenapa mereka memilih jalan hidup menjadi waria.
Salah satunya, karena hasrat kepada lawan jenis, tidak ada sejak kecil. Lebih ekstrim, biasanya mereka tidak percaya diri kepada lawan jenis karena alat kelamin mereka nyaris tidak berbentuk.
Mereka, termasuk Supri tinggal di kontrakan ini dengan membayar sewa kamar seratus ribu rupiah, per bulannya. Makanya beban hidup Supri dan ibunya, lumayan berat. Karena mereka tidak hanya butuh tempat tidur, mereka juga butuh makan, bahkan mereka butuh pendidikan.
Supri rela meninggalkan bangku sekolahnya, demi sesuap nasi. Mulanya ia diajak ibunya yang terbiasa hidup di jalanan. Mengamen menjadi pilihan mereka.
Mungkin juga lagu yang dibawakannya tidak mengikuti perkembangan jaman. Akibatnya pemasukan jadi sedikit, paling hanya lima sampai sepuluh ribu rupiah per hari. Sementara Supri bisa mengantongi uang sampai 50 ribu rupiah dalam sehari mengamen. Saat kami liput, Supri terlihat tidak nyaman.
Meski telah sepakat dengan kami, ia tetap berusaha berjalan menghindar dari kamera, dan terburu buru melintasi areal pemukiman kumuh ini. Namun sesampainya di Perempatan Coca Cola, Cempaka Putih, keceriaannya muncul, apalagi ia bertemu dengan rekan sepermaianannya.
Di sini kami bertemu Risa, Mina, Puput dan puluhan anak jalanan lainnya. Sebagian dari mereka enggan kami liput. Bahkan mereka menutup wajahnya dengan alat musik gitar. Kami pun pasang jurus bujuk rayu, pada Risa dan Mina.
Beruntung, mereka mau kami liput. Risa, Mina dan Puput, merupakan anak jalanan, seperti Supri. Usia mereka rata 10 hingga 15 tahun. Dan mereka sudah malang melintang di jalanan. Layaknya anak-anak, terkadang mereka tidak bisa memilah antara bermain dan mengamen. Mereka juga sama dengan anak-anak lainnya yang hidup layak.
Hanya saja, jalanan dan cara hidup mereka yang membedakan. Mereka pun ingin hidup normal dan layak seperti yang lainnya. Termasuk tetap ingin bersekolah, namun hanya Mina yang masih bersekolah.Bagaimana dengan Risa, Puput dan anak-anak jalanan lainnya.
Segmen 3
Anak-anak ini sudah terbiasa hidup di tengah kerasnya Kota Metropolitan. Di sini mereka dibesarkan dan dididik. Meski sempat mengenyam bangku sekolah, mereka tetap kembali ke jalanan, karena jalanan adalah segalanya buat mereka. Tidak mudah untuk masuk ke kehidupan mereka.
Butuh waktu untuk menjinakkan mata nanar mereka. Rasa curiga, dan penuh was-was, selalu menghinggapi mereka. Kedatangan kami mengusik mereka. Terlebih jika ada aparat penertiban yang datang.
Wah..… Itu jelas musuh mereka.Kami bisa masuk ke tempat mangkal mereka, setelah Supriyati mau berbaik hati kepada kami. Dari sinilah, kami bisa berkenalan dengan anak-anak jalanan yang lain, bahkan bisa lebih banyak mengetahui tentang mereka.
Sayangnya anak jalanan yang laki-lakinya sedikitpun tidak mau kami dekati. Hanya saja, mereka tetap waspada. Dalam benak mereka, bila ada wartawan, aparat Tramtib atau polisi akan menggaruk mereka. Runyamlah urusan bila anak-anak ini harus tertangkap aparat Tramtib.
Susah payah mengurusnya ke panti sosial nantinya.Tentu tak sedikit uang yang harus dikeluarkan dari kocek. Dengan membayar uang ratusan ribu rupiah, mereka bisa bebas. Pendapatan mereka pun menjadi hilang begitu saja.
Ada sekitar seratus orang anak jalanan di sini. Mereka beroperasi hanya di kawasan perempatan ini, dari jam dua siang hingga jam dua belas malam. Terkadang diantara merekapun tertidur lelap di pinggir jalan ini.
Mungkin rumah sejati mereka adalah jalanan, karena di jalanan-lah mereka makan, tidur dan beristirahat.Rumah kontrakan hanya singgah saja untuk perlindungan dari garukan aparat. Tak terkecuali, Mina, Risa dan Puput, dan juga anak hilang ini.
Risa, Puput dan Mina, biasanya mengamen secara berkelompok. Mereka mengamen di antrian lampu lalulintas. Risa, yang berumur 13 tahun, seharusnya ia sudah duduk di bangku SLTP. Tapi karena tidak punya biaya, dan rapornya juga hilang ia tak bisa sekolah lagi.
Kini ia nekad menjadi anak jalanan, untuk membantu orang tua dan adiknya bertahan hidup di Jakarta. Risa dulu tinggal di Pedongkelan, namun setelah musim banjir lalu, ia bersama keluarganya tinggal di daerah Galur, Jakarta Pusat.
Sebagai anak sulung Risa, menjadi andalan keluarga. Setiap hari ia menjual suara, diantara antrean kendaraan ini. Lumayan.… Pendapatan kali ini, cukup banyak. Sepuluh ribu sekali mengamen ia dapati. Karena mengamen berdua, ia harus berbagi rata.
Puput juga punya cerita. Ia, sejak berusia satu tahun ikut di jalanan bersama ibunya. Puput termasuk dari kelurga broken home. Ia menikmati hidup menjadi anak jalanan, lantaran sang ibu mengenalkannya cara mudah mencari uang.
Ia juga sempat sekolah hingga kelas lima SD, tapi sejak mengenal uang di jalanan, bangku sekolah ditinggalkannya. Setali tiga uang, dengan Mina. Bedanya Mina masih mau melanjutkan sekolahnya. Kini ia duduk di kelas lima SD, di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat.
Mina, juga berasal dari keluarga broken home. Ia tinggal di Pedongkelan bersama neneknya, setelah kedua orang tuanya bercerai. Setiap pagi Mina berangkat sekolah. Perahu ini menjadi alat penyeberangan Mina, menuju sekolah. Begitu juga saat pulangnya. Usai sekolah, Mina langsung berkemas, untuk mengamen.
Hanya dengan cara inilah ia bertahan hidup di Jakarta. Amplop-amplop ini, mungkin jimat andalan Mina. Aamplop yang bertuliskan permohonan bantuan ini akan mengetuk hati penumpang bis untuk menyisihkan uangnya buat Mina. Jalanan ini, biasa dilalui Mina. Menuju tempat mangkalnya di perempatan Cempaka Putih.
Mina memang hidup tanpa kasih sayang kedua orangtua. Jalanan juga yang turut membesarkannya. Jalanan, tetaplah jalanan, yang keras dan tajam persaingan. Untungnya Supri dan Puput masih mau bergabung dengan Mina untuk mengamen.
Puput dan Supri, bergantian main gitar dan menyanyi. Begitu juga dengan Mina. Di sela-sela kesibukannya membagikan amplop ia pun menyanyi.
Turun naik bis. Mencari penumpang yang pas bangku, akan lebih memudahkan mereka mengamen. Terkadang awak bis pun melarang mereka mengamen. Bahkan mereka pun harus jeli melihat pengamen lain di bis.
Meskipun mereka ini anak-anak jalanan, mereka tetap memiliki harapan masa depan. Jalan hidup mereka masih panjang. Butuh tangan-tangan untuk menuntun mereka. Perlu belaian untuk melindungi mereka. Jalanan saja tidak cukup. (Irianto Mahani/Ijs)