
indosiar.com, - Danau Toba adalah salah satu danau terluas di dunia. Danau ini terbentuk akibat letusan gunung maha dasyat yang terjadi sekitar 75 ribu tahun yang lalu. Kini Danau Toba dengan pulau kecil bernama Samosir sudah terkenal dan mendunia.
Selain itu pula, danau ini juga menjadi gantungan hidup bagi banyak orang. Mulai dari nelayan kerambah apung hingga pedagang telur di atas Ferry. Itulah berkah dari letusan dasyat ribuan tahun yang silam.
Darmaga Aji Bata adalah satu-satunya dermaga yang menjadi penghubung ke Pelabuhan Tombok di Pulau Samosir.
Anak-anak ini adalah bagian dari denyut kehidupan di sini. Tanpa disuruh, mereka akan bernyanyi menghibur penumpang Kapal Ferry yang hendak menuju Samosir. Tidak heran bila orang Batak pandai menyanyi.
Kedua orangtua mereka sengaja menyuruhnya untuk mencari uang demi membantu biaya hidup keluarga. Saat liburan, mereka sudah ada di dermaga sejak pukul 7 pagi dan baru pulang sekitar pukul 9 malam. Sesuai jadwal keberangkatan Kapal Ferry.
Hari itu kami akan ke Samosir. Dalam sehari ada 5 kali penyebrangan dengan dua kapal motor. Jadwal terakhir sekitar pukul setengah delapan malam. Perjalanan dengan kapal ini hanya satu jam menuju Samosir.
Kapal ini bisa memuat sekitar 56 kendaraan bermotor. Mulai dari mobil pribadi hingga truk tronton. Suasana didalam Ferry tidak jauh berbeda dengan kesibukan di dermaga. Tidak saja dipadati penumpang, kapal ini juga dipenuhi para penjual makanan yang mengantungkan hidup dari kapal ini.
Seandainya Ferry ini tidak beroperasi, mulai dari pedagang telur hingga perekonomian Samosir bisa terganggu. Sebagian besar mereka adalah wanita yang menjual telur dan kacang rebus. Mereka baru berhenti berjualan bila kapal juga berhenti beroperasi. Lumayan, dalam sehari mereka bisa menjual hingga 150 butir telur bebek.
Anak-anak kembali melakukan aksinya didalam kapal. Biasanya sehabis menyanyi mereka menunjukkan kebolehan mereka menyelam. Ketrampilan mereka ini memberikan tambahan uang saku. Saat kapal meninggalkan dermaga, mereka menceburkan diri ke danau lalu menyelam untuk berebut uang logam yang dilempar para penumpang kapal.
Menenun Masa Depan
Inilah Dermaga Tomok yang berada di Kabupaten Samosir. Kami menuju Kecamatan Pangururan yang jaraknya sekitar 43 kilometer dari dermaga ini. Bukti-bukit gundul ini menjadi ciri kas Samosir.
20 tahun yang lalu pemandangannya tidak seperti ini. Ini akibat ulah penebangan pohon pinus besar-besaran yang dilakukan sebuah perusahaan besar pada waktu itu.
Samosir adalah kabupaten dengan penduduk 130 ribu jiwa. Pulau ini berada di ketinggian 1000 meter dari permukaan laut dan terdapat 2 danau kecil.
Masyarakat disini masih ketntal mempertahankan rumah adat Batak atau yang biasa disebut rumah bolon. Semua terbuat dari kayu, baik tiang kerangka rumah hingga pintu, kecuali bagian atap.
Rumah ini biasanya tingginya tidak sampai 2 meter. Dan masuk ke rumah bolon ini harus menaiki tangga yang terletak dibagian tengah dengan jumlah yang ganjil. Satu rumah biasanya dihuni 5 hingga 6 keluarga.
Di Desa Parbaba ini sebagian besar warganya masih banyak tinggal di rumah bolon. Ini karena faktor suhu udara yang cukup dingin yaitu berkisar 17 hingga 29 derajat Celsius, sehingga membuat warga memilih tinggal di rumah panggung.
Kaum wanita di tanah Batak, adalah pekerja keras. Sebagian besar mereka di desa Parbaba ini bekerja menenun ulos. Orang Batak menyebutnya Parteno Ulos. Sedangkan kaum lelakinya biasanya bekerja di ladang.
Ma Ice Boru Sihotang adalah wanita yang sudah turun temurun bekerja sebagai penenun. Kendati sudah tua ia tak henti - hentinya membuat pakaian tradisional yang terbilang cukup rumit ini.
Alat penenun yang bernama mambu menjadi saksi sejarah dan teman hidup Ma Ice. Untuk mendapatkan sehelai ulos dengan panjang 180 dan lembar 60 centimeter, Ma Ice harus mengerjakannya selama satu minggu. Ia menjualnya seharga 160 ribu rupiah.
Ulos bagi orang Batak awalnya hanya sekedar kain untuk menghangatkan badan. Namun kini ia memiliki fungsi simbolis yang melambangkan ikatan kasih sayang antara orang tua dan anak atau antar sesama.
Dalam perayaan adat, ulos tidak pernah luput. Ulos tidak hanya diberikan kepada sesama orang Batak, namun kepada suku lain sebagai lambang kasih sayang dan penghormatan. Kita tidak pernah tahu awalnya siapa yang membuat ulos ini. Namun Ma Ice dan anak perempuannya, akan mewariskannya turun temurun, tanpa mereka ini ulos tidak pernah akan ada.
Bekerja keras juga ditunjukkan Berliana Simbolon. Tidak seperti Ma Ice yang bekerja sebagai penenun ulos, Berliana Simbolon ini bersama anak-anaknya menghabiskan waktu mereka di pesisir danau.
Danau Toba sudah lama menjadi sumber kehidupan masyarakat disini. Berliana dan masyarakat disekitarnya memanfaatkan air untuk kebutuhan hidup sehari-hari seperti memasak, mencuci, mandi dan minum.
Danau Toba yang luasnya sekitar 3000 kilometer persegi ini tidak hanya menjadi daya tarik bagi wisatawan, tapi juga gantungan hidup bagi Berliana dan keluarganya serta masyarakat yang tinggal di pesisir.
Termasuk bagi para nelayan di jaring apung ini. Jumlah mereka sangat banyak, hingga membuat Danau Toba menjadi kurang sedap di pandang mata. Sejak beberapa tahun terakhir, pemerintah mencoba menatanya kembali untuk memulihkan keindahan Danau Toba.
Danau Toba Aku Bergantung
Danau Toba adalah salah satu obyek wisata yang banyak dikunjungi wisatawan dari mancanegara dan pemerintah berusaha mempertahankan keindahan danau. Bila berkunjung kesini 3 atau 4 tahun yang lalu, anda akan menemukan banyak sekali jaring apung atau kerambah seperti ini.
Bagi pemerintah, kerambah ini menimbulkan pemandangan yang tidak sedap. Tapi bagi sebagian penduduk, kerambah adalah mata pencaharian dimana mereka mengantungkan hidup.
Pemerintah sejak tahun 2003, mencoba menertibkan jaring apung ini. Saat ini hanya sebagian kecil saja penduduk yang masih menggunakannya.
Namun kerambah adalah kisah tersendiri bagi Rohani Simbolon. Ia tinggal di Desa Tanjung Bunga yang sebagian penduduknya masih menggunakan kerambah. Desa yang berpenduduk sekitar 150 kepala keluarga ini kini hanya tinggal 30 kepala keluarga yang masih menggunakan kerambah.
Rohani Simbolon masih menggunakan kerambah untuk membiayai 7 orang anaknya. Kerambah-kerambah ini, tiga tahun lalu dianggap menjadi perusak pemandangan. Namun sebaliknya bagi sebagian warga disini, kerambah-kerambah ini adalah tempat mereka mengantungkan hidupnya.
Kerambah terbuat dari kayu dan terapung oleh bantuan drum yang dipasang dibagian pinggirnya.
Kerambah bagi Rohani adalah kehidupannya. Ia bercerita, dahulu di danau ini banyak orang yang berternak ikan di kerambah, namun karena musibah virus yang menyebabkan banyak ikan yang mati sehingga sebagian bangkrut. Kini Rohani mencoba untuk bangkit kembali.
Rohani harus bekerja sendiri. Setiap pagi hingga menjelang siang, ia harus memberikan makan ikan - ikan ternaknya yakni nila dan emas. Rohani adalah sosok perempuan di tanah Batak yang sederhana namun pekerja keras.
Rohani membeli bibit ikan nila dan emas di Kabupaten Siantar dengan harga 500 rupiah perekor. Bila sudah besar, ia menjual ikannya ke Pasar di Pangurulan.
Ia hanya menggunakan sampan seorang diri, padahal jarak dari rumahnya ke Pasar Onan 9 kilometer. Kami sempat menemui dia lagi pada esok hari, inilah sebagian yang masih tersisa.
Rohani tidak saja menjual ikan miliknya sendiri. Ia juga menawarkan jasa menjual ikan orang lain sekedar untuk menambah pemasukan untuk menghidupi keluarga. Rohani Simbolon adalah potret perempuan di tanah Batak yang pekerja keras.
Masih banyak lagi wanita lain seusia Rohani yang tanpa lelah bekerja bahu membahu bersama sang suami. Bagi Rohani dan penduduk lainnya Danau Toba adalah tempat dimana mereka bergantung seperti yang dilakukan leluhur mereka ribuan tahun yang lalu. (Irianto Mahani/Suprie)