
Bagi nelayan mencari ikan tidak sekedar menebar jaring lalu menunggu hasilnya. Mereka juga harus bisa membaca tanda–tanda alam yang akan menunjukan daerah dimana ikan-ikan yang mereka buru berlimpah.
Sekelompok nelayan di Lombok, Nusa Tenggara Barat, memiliki kemampuan itu. Mereka mengandalkan insting yang secara turun temurun mereka yakini. Dan insting itu pula yang membuat mereka bisa bertahan hidup dengan mencari ikan berpindah–pindah.
Suasana di Pantai Batu Bolong di kawasan pesisir di Nusa Tenggara Barat hari itu berbeda. Sejumlah nelayan membangun tenda–tenda untuk tempat tinggal sementara. Para nelayan memilih lokasi ini, karena yakin banyak ikannya dibanding lokasi sebelumnya. Mereka membawa seluruh keluarga, anak, istri dan sebagian kerabat. Mereka ini adalah nelayan tradisional di Lombok yang mencari ikan berpindah–pindah.
Tidak seperti nelayan lain yang hidup menetap lalu membangun perkampungan. Mereka ini justru sebaliknya. Bila suatu daerah banyak ikannya, disitu pula mereka membangun tempat tinggal sementara. Sebelum melaut, memeriksa jaring dan kapal adalah pekerjaan rutin yang sudah bertahun–tahun mereka lakukan.
Mereka terdiri dari delapan kelompok nelayan yang sejak sore sudah berkumpul di sini. Hari itu mereka yakin, akan mendapat ikan yang lumayan banyak. Keyakinan itu berdasarkan insting atau kemampuan membaca tanda-tanda alam yang mereka sebut warige. Warige yang membuat mereka hingga saat ini bisa terus bertahan sebagai nelayan yang berpindah–pindah atau nomaden. Tanda–tanda itu bisa bulan atau bintang dan perilaku binatang.
Bulan gelap seperti ini adalah pertanda baik untuk menebar jaring. Petromak ini ibarat mercusuar yang akan membantu mereka kembali ke darat. Satu kelompok terdiri dari delapan hingga sembilan nelayan. Masing–masing mempunyai tugas. Ketua kelompok biasanya si pemilik jaring dan perahu.
Semua persiapan mereka lakukan dengan cepat dan tangkas. Cara mencari ikan seperti ini, yakni berpindah–pindah, telah mengajarkan mereka bekerja seperti itu. Sementara yang lain bertugas di darat. Mereka ini nantinya yang akan menarik jala yang sudah ditebar. Biasanya mereka menggunakan berbagai cara untuk menghabiskan waktu hingga subuh.
Bagi nelayan nomaden ini, menjaring ikan memang tetap sebuah pertaruhan. Tidak selamanya mereka meraih peruntungan, kendati mereka berpegang tetap pada insting yang bertahun–tahun mengajarkan mereka membaca tanda–tanda alam.
Segmen – 2
Nelayan nomaden ini adalah warga Dusun Perempat yang tinggal di Desa Meniping yang tidak jauh dari kawasan pantai ini. Mereka memang secara tradisional mencari ikan dengan cara berpindah–pindah. Insting mereka sudah terlatih. Toh kendati demikian, tidak selamanya berhasil. Kadang beberapa lokasi tidak memberikan mereka ikan berlimpah.
Ketika melaut, yang lain menggelar perhelatan, semacam pesta pantai. Perhelatan ini tidak lebih dari permohonan kepada Yang Maha Kuasa, agar jala yang mereka tebar akan menjaring ikan sebanyak-banyakya.
Tugas pembawa jaring atau istilah mereka di sini adalah penyepak, tentunya sangat berat. Banyak atau tidak ikan yang mereka dapat pada malam itu bergantung di pundak mereka. Jika mujur, malam itu mereka akan mendapat ikan yang banyak. Oleh karena itu mereka, sekali lagi sangat mengandalkan indera keenam atau insting.
Malam itu, cuaca cukup baik. Para penyepak tidak mengalami kesulitan menebar jala yang panjangnya bisa berkilo–kilo meter ini. Setelah jala ditebar, para penyepak ini harus menunggu, untuk melihat hasilnya. Bila banyak, mereka akan mengirimkan kode ke kelompoknya di darat agar segera menarik jala.
Di darat, kaum wanita menyiapkan makanan malam bagi mereka yang bertugas. Sebagian lagi menghabiskan waktu mereka melawan kantuk dengan bermain kartu. Karena subuh nanti mereka harus bekerja menarik jala. Anak–anak mereka mengabiskan waktu bermain. Tanpa sadar, orang tua mereka sebenarnya sedang mewariskan kebiasaan turun temurun dalam menangkap ikan kepada mereka. Kelak suatu hari nanti, merekalah yang menggantikannya.
Kawasan Pantai Batu Bolong malam itu cukup semarak. Ibarat sebuah perkampungan nelayan yang sudah berdiri lama di sini. Angin malam yang bertiup cukup kencang, membuat suasana cukup dingin.
Kelompok Ajak biasanya terdiri dari enam orang. Mereka harus memiliki fisik yang kuat serta penglihatan yang tajam. Mata mereka harus bisa menangkap kode berupa sinyal cahaya yang dikirim kelompok-nya dari tengah laut. Sudah waktunya untuk menarik jala. Mereka mengirim kode balasan ke penebar jala. Cara yang cukup unik.
Menangkap ikan dengan berpindah–pindah mengandalkan kerja sama yang baik, sehingga kesalahan harus dibuat sekecil mungkin agar tidak menimbulkan banyak kerugian. Sebagian kelompok penebar jala, sudah memberikan kode ke kelompok-nya agar jala ditarik, karena ikan sudah cukup banyak terjaring. Setiap kelompok mempunyai kodenya sendiri.
Ketika sebagian perahu tiba di darat, sebagian ajak sudah mulai bekerja menarik jala. Mereka menariknya perlahan–lahan dengan gerakan yang seragam. Suasana pantai yang biasa sepi, subuh itu menjadi ramai.
Segmen - 3
Menarik jala bukanlah pekerjaan mudah dan butuh kesabaran serta fisik yang kuat. Ajak atau penarik jala ini biasanya sudah tahu, bila menariknya berat, maka besar kemungkinan mereka mendapat ikan cukup banyak.
Kaum perempuan sudah bersiap–siap dengan keranjangnya untuk menampung ikan–ikan yang terjaring. Sementara rekan–rekannya sibuk menarik jala, sebagian kelompok pemuda ini ada yang masih menunggu kode dari kelompoknya. Waktu menarik memang tidak sama. Begitu pula dengan hasilnya. Semua bergantung pada kebaikan alam. Alam memang telah mengajarkan kepada orang tua mereka dahulu bagaimana menjadi nelayan yang baik.
Kebiasaan itu hingga sekarang tidak berubah. Baik caranya menangkap ikan hingga jaring dan kapal yang mereka gunakan. Hasil tangkapan hari itu lumayan banyak. Dari jumlah tangkapan sebanyak ini, bisa ditentukan seberapa bayaran yang harus diberikan kepada penyepak dan ajak.
Jumlahnya memang tidak seberapa. Biasanya setelah dikurangi dari keuntungan pemilik jaring. Selain uang, mereka juga mendapat sekantong ikan. Hingga pagi sebagian ajak masih terus menarik.
Kendati demikian hasil tangkapan malam itu cukup memuaskan. Rasa kebersamaan sangat mereka junjung tinggi, karena umumnya sebagian besar dari mereka masih ada kaitan kerabat.
Mendapat sekantong ikan memang tidak sebanding dengan menarik jala dari subuh hingga pagi. Hari-hari selanjutnya akan ditentukan oleh pemilik jaring. Apakah masih perlu bertahan di tempat ini atau pindah ke lokasi lain. Biasanya keputusan pemilik jaring sangat dihormati. Kalaupun pindah, biasanya tempat yang dipilih tak begitu jauh, kurang lebih satu hingga dua kilometer dari lokasi yang lama.
Bisa jadi tempat ini, sudah yang kesekian kalinya. Mereka akan terus berpindah sesuai dengan pergerakan ikan di laut, dan selama itu pula mereka tetap mengandalkan intusi yang mereka percaya turun temurun.(Irianto Mahani/Ijs)