Sosbud
21-Aug-2007 17:15:36 WIB
TEROPONG
Dari Sunda Kelapa Hingga Imam Bonjol



Reporter : Ahmad Baehaqi
Juru Kamera: Joni Suryadi - Damar Galih
Tayang : Selasa, 21 Agustus 2007, Pukul 12.30 WIB

indosiar.com, Jakarta - Pelabuhan Sunda Kelapa, Gedung Fatahillah dan Rumah Laksamada Maeda di Jalan Imam Bonjol adalah saksi perjalanan bangsa ini hingga menjadi republik.

Mereka merekam Indonesia dengan baik. Sejak kedatangan kekejaman mereka selama bercokol ratusan tahun hingga kejatuhannya. Sunda Kelapa adalah salah satu pelabuhan tertua di nusantara.

Kapal-kapal kayu sudah sejak seribu tahun yang lalu keluar masuk pelabuhan ini. Hingga sekarang, kesibukan itu masih terlihat, kendati sudah bukan lagi menjadi pelabuhan yang besar.

Sejak abad 12, Sunda Kelapa sudah menjadi pelabuhan penting dan sibuk. Kapal-kapal membongkar muat lada dan rempah-rempah, komoditas unggulan saat itu dan semua transaksi diatur oleh Kerajaan Pajajaran.

Tidak hanya pedagang lokal yang berbisnis. Pedagang dari Cina, India dan Arab, datang membawa poslin, kopi dan sutra yang mereka tukar dengan rempah-rempah dan lada.

Aktifitas ini terus berkembang hingga abad ke 15 bersamaan dengan berkembangnya Kerajaan Islam di Pulau Jawa.

Harumnya rempah-rempah membuat Bangsa Portugis melirik pelabuhan dan mereka datang sekitar tahun 1512. Namun mereka punya kepentingan lain. Portugis ingin memonopoli perdagangan yang berarti harus menguasai pelabuhan ini.

Upaya itu gagal. Sunan Gunung Jati dengan pasukan Kerajaan Islam Banten dan Demak berhasil mengusirnya pada tanggal 22 Juni tahun 1527. Sejak itu pula Sunda Kelapa berganti nama menjadi Jayakarta dan Fatahillah menjadi Adipatinya.

Tidak ada peninggalan Portugis di pelabuhan ini. Sebaliknya Belanda yang datang 60 tahun kemudian meninggalkan jejak yang hingga sekarang masih bisa kita lihat.

Menara pengintai setinggi 8 meter ini adalah salah satu peninggalan Belanda yang masih berdiri dengan kokoh. Ibarat gadis cantik, Sunda Kelapa menjadi rebutan. Setali tiga uang, Belanda dengan kelompok dagangnya VOC ingin memonopoli perdagangan rempah-rempah. Sejarahpun kembali berulang.

Sejumlah bangunan menjadi saksi. Benteng Selatan yang dibangun tahun 1839 ini adalah peninggalan VOC. Termasuk menara pandang. Dari menara ini Belanda bisa mengendalikan semua kegiatan di pelabuhan.

Untuk menyimpan rempah-rempah, Belanda menggunakan bangunan ini yang kini berubah fungsi menjadi Museum Bahari. Dengan armada kapal yang besar dan modern untuk ukuran saat itu, Belanda membawa rempah-rempah ke Eropa dan kapal-kapal itu mereka perbaikan di galangan kapal ini.Hingga abad ke 17, VOC memegang kendali Sunda Kelapa. Hingga mereka mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia.

Jan Pieterszoon Coen menjadi Gubernur Hindia - Belanda. Dia merancang tata kota Batavia mirip Amsterdam. Bangunan-bangunan yang berjajar ini merupakan pusat benteng kota Batavia, termasuk kawasan Taman Fatahillah yang hingga kini masih berdiri dengan megah.

Namun dibalik kemegahan, bangunan ini menyimpan kisah kekejaman VOC saat itu. Kekejaman yang membuka era baru kolonialisme, langkah awal dari perjalanan panjang untuk lahirnya sebuah negara.

Bercak Darah di Fatahillah

Gedung Fatahillah adalah salah satu bangunan peninggalan Belanda yang hingga kini masih berdiri dengan kokoh. Kendati usianya sudah lebih dari 300 tahun.

Gedung seluas 13000 meter persegi ini awalnya dibangun pemerintah Kolonia Belanda sebagai Balaikota. Arsitekturnya W.J.van der Velde meniru bangunan Balaikota di Amsterdam Belanda yang bergaya baroklass.

Disinilah berkantor Gubernur Jenderal yang mengurusi kegiatan pemerintahan mulai dari urusan perkawinan hingga peradilan. Komplek bangunan ini adalah saksi bisu dari keinginan VOC atau Belanda yang ingin memonopoli jalur perdagangan rempah-rempah di Pelabuhan Sunda Kelapa.

Yang menarik adalah ruang bawah tanah yang khusus dibangun untuk menjebloskan para pemberontak. Ada 5 ruangan dengan ukuran 8 x 3 meter. Ruangan sangat pengap dan gelap dan para tahanan harus membungkuk karena tingginya ruangan hanya sekitar 1 meter.

Sulit dibayangkan bagamana mereka bisa bertahan dalam kondisi seperti ini. Apalagi di ruangan sekecil ini mereka harus berdesak-desakan dengan 80 tahanan lainnya. Sejumlah pejuang seperti Pangeran Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten dan Untung Suropati pernah merasakan pengapnya penjara ini.

Penjara ini juga pernah menyekap 500 orang etnis Cina yang tertangkap karena memberontak. Satu persatu mereka mati. Jangan berharap bisa melarikan diri, karena bandul baja seberat 100 kilogram ini telah melumpuhkan kaki para tahanan.

Di gedung ini pula para tahanan di adili. Ruangan ini bernama Mahkamah Keadilan. Para pribumi yang memberontak biasanya langsung divonis mati. Namun tidak jarang para tahanan sudah mati lebih dahulu di penjara sebelum tiba di ruangan ini.

Fatahillah kini menjadi museum sekaligus saksi dari kekejaman kolonial Belanda ketika itu. Bahkan anda masih bisa mendapati bercak darah manusia di pedang ini.

Bagi pemerintah Kolonial Belanda pada waktu itu memberontak adalah kejahatan yang tidak pernah diampuni. Mereka langsung digantung di taman ini, termasuk ribuan etnis Cina yang terlibat dalam pemberontakan pada tahun 1740 dan masyarakat umum dapat menyaksikannya.

Tiga abad lebih Belanda bercokol. Setelah itu giliran Jepang. Kedatangan mereka semakin membangkitkan kesadaran nasionalisme yang kemudian membuka jalan untuk lahirnya Indonesia.

Proklamasi

Tahun 1942 adalah tahun yang paling pahit bagi Belanda. Mereka harus menyerah di tangan negara baru yang berambisi menjadi penguasa di Asia yakni Jepang. Mereka harus angkat kaki dari bumi nusantara yang selama 300 tahun memberikan segalanya dari hasil bumi hingga kehormatan.

Babak baru kolonialisme pun dimulai. Jepang hanya 3 tahun bercokol. Perubahan cepat peta politik dunia saat itu dengan terlibatnya Amerika Serikat dalam Perang Dunia II mengharuskan Jepang bertekuk lutut karena pasukan sekutu.

Kendati singkat, 3 tahun, kita sulit melupakannya. Temuan ilmuan pertama open Heng dan kawan - kawannya menghentikan perang dunia yang berlangsung selama 6 tahun.

Pasukan Jepang panik ketika cendawan besar membumi -hanguskan 2 kota Hiroshima dan Nagasaki. Jepang pun akhirnya menyerah.

Situasi dunia yang tidak menentu juga menimbulkan ketidak -pastian di Tanah Air. Kelompok muda seperti Syahril, Khairul Saleh, Adam Malik dan AM Hanafi berseteru dengan Soekarno - Hatta yang mereka tuduh antek - antek Jepang yang telah memperlambat lahirnya Indonesia.

Tanggal 15 dan 16 Agustus, situasi semakin genting. Para pemuda mengharapkan Soekarno - Hatta untuk segera mengambil keputusan. Kelompok pemuda ini kemudian menculik kedua tokoh ini karena ada selentingan kabar bahwa Jepang akan membunuh mereka.

Kelompok muda ini kemudian membawa Soekarno - Hatta ke Rengasdengklok. Kelompok muda meminta kedua tokoh ini agar segera memproklamirkan kemerdekaan. Bila tidak mereka akan mengambil langkah sendiri.

16 Agustus dinihari, kaum muda membawa Soekarno - Hatta ke Jakarta. Di rumah Laksamada Maeda yang terletak di Jalan Bolu Vat Awing yang diganti nama menjadi Jalan Imam Bonjol No. 1 Menteng, Jakarta Pusat. Mereka mempersiapkan lahirnya sebuah negara.

Rumah ini terdiri dari 4 ruangan yang masing - masing mempunyai kisah tersendiri. Di ruangan ini teks Proklamasi akhirnya dirumuskan, setelah para tokoh gagal menyepakatinya di Rengasdengklok.

Suasana saat itu begitu tegang mulai dari perumusan hingga penandatanganan naskah Proklamasi, melewati 4 ruangan dirumah ini. Naskah asli yang masih dalam bentuk coret - coretan ini oleh Sayuti Melik dan BM Diah diketik ulang. Semua berlangsung tanpa persiapan matang, bahkan bendera negara belum ada.

Situasi makin kritis ketika menjelang pembacaan Soekarno dikabarkan menderita sakit malaria. Hingga pukul 8 pagi, Presiden Pertama Republik Indonesia ini masih belum bisa bangun.

Begitulah situasi saat itu. Kacau, tegang dan tidak terencana dengan rapi. Akhirnya mereka membacakan teks bersejarah itu, tanpa seorang wartawan pun yang mengabadikan peristiwa bersejarah itu.

Sebagian kecil barangkali yang mengetahui bahwa negara dengan penduduk nomor 5 terbesar didunia ini, lahir bukan karena dirancang sejak awal dari para pendirinya. Melainkan melalui perjalanan panjang yang hanya sejarah bisa mencatat. (Irianto Mahani/Sup/Dv).

Nama:
Email:

More TEROPONG:
[ more Teropong ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :