Sosbud
28-Aug-2007 14:31:06 WIB
TEROPONG
Melepas Penat di Pulau Seribu



Reporter : Ahmad Baehaqi
Juru Kamera : Warsam Aji
Tayang : 29 Agustus 2007, Pukul 12:30 WIB

Pulau Seribu... Berapa kali Anda mengunjungi kawasan ini ?. Berani bertaruh !. Dari sepuluh juta penduduk Jakarta, barangkali hanya segelintir yang pernah mengunjungi kawasan ini.

Pulau Seribu memang tidak segemerlap Jakarta. Bahkan PLN baru berencana akan masuk ke kawasan ini. Toh... Pulau Seribu mempunyai dunia sendiri, dimana Anda bisa berlibur menikmati penatnya Jakarta. Kapal ojek ini yang menjadi alat transportasi menuju Pulau Seribu.

Kapal tidak terlalu besar, sehingga mudah sekali goyang terkena hempasan gelombang. Biasanya semua kapal ojek ini akan membawa penumpang dari Jakarta menuju Pulau Pramuka.

Pulau Pramuka paling ramai diantara pulau – pulau lain di Kepulauan Seribu. Luasnya sekitar lima belas hektar namun penduduknya hanya dua ribu jiwa. Cukup padat.

Semua kegiatan pemerintahan di Pulau Seribu berpusat disini. Termasuk sekolah yang hanya satu – satunya di Kepulauan Seribu.

Karena tidak begitu luas, sebagian besar penduduk di sini hanya mengandalkan hasil untuk mencukupi kehidupan sehari – hari. Satu dua orang yang memiliki kendaraan bermotor. Sarana angkutan biasanya gerobak yang dibantu tenaga manusia.

Lebih dari dua hari, suasana seperti ini barangkali akan menjenuhkan kita yang biasa tinggal di kota besar dengan beragam hiburan. Tidak jauh dari pelabuhan, ada tempat penangkaran penyu milik Salim.

Masyarakat di pulau ini memang sering memburu penyu, lalu telurnya mereka jual. Namun lama kelamaan, populasinya makin berkurang, hingga akhirnya dibangun penangkaran agar hewan purba ini tetap lestari.

Salim adalah orang pertama yang menangkarkan penyu di sini. Sejak lama ia memang menyukai binatang ini, hingga pemerintah membantunya menjadikan penangkarannya lebih baik.

Salim merasa tidak sulit menangkar penyu. Ia awalnya hanya mencari telurnya lalu ia tetaskan. Setelah itu, ia merawatnya baik - baik. Bagi Salim, penyu – penyu ini ibarat istri yang kedua.

Ia habiskan waktunya membersihkan lumut dan mengobati penyakit yang biasa menyerang penyu, seperti jamur yang ada di leher dan pangkal kaki. Salim memiliki lebih dari seribu ekor penyu yang suatu saat ia akan kembalikan habitatnya di laut. Berkat kerja kerasnya pemerintah akhirnya memberikan penghargaan kepada Salim.

Selain itu Salim juga membudidayakan mangrove atau pohon bakau. Tanaman ini sengaja ia perbanyak untuk menghijaukan pantai dan mencegah abrasi. Ia menanam batangnya yang sudah memiliki tunas. Setelah besar, tanaman – tanaman ini ia akan pindahkan ke pantai. Bila pemerintah atau lembaga tertentu membutuhkannya, ia menjualnya seharga seribu rupiah perbatang.

Kepulauan Seribu memiliki sekitar lima ratus pulau, dan hanya lima belas pulau yang bisa dihuni. Sisanya, pulau karang dan pasir.

Kami menuju Pulau Rambut. Perjalanan sekitar satu jam dari Pulau Pramuka. Pulau Rambut adalah surga bagi burung. Ada sekitar enam puluh jenis burung, sebagian diantaranya nyaris punah, seperti bangau Bluwok dan cekakak.

Segmen – 2

Dari Pulau Pramuka kami menuju Pulau Rambut, sekitar satu jam lebih. Pulau Rambut luasnya sekitar 45 hektare ini dan tidak berpenghuni karena dijadikan cagar alam.

Pulau ini sering juga disebut kerajaan burung, karena di sinilah habitat dari sekitar dua puluh ribu ekor burung dengan enam puluh spesies yang bebas - liar berterbangan. Alam di pulau ini dibiarkan liar.

Sebagian besar pulau ditutupi oleh hutan manggrove dan kotoran burung. Bau kotoran burung sangat menyengat. Maklum puluhan ribu burung di sini tidak hidup dalam sangkar. Mereka bebas berterbangan, sehingga setiap pengunjung, wajib menenakan topi. Kalau tidak, keluar dari pulau ini, bau rambut akan berbuah.

Kami ke kawasan ini bersama rombongan cinta laut dari Institut Pertanian Bogor yang berjumlah sekitar seratus orang.

Sebagian burung yang hidup sudah terancam punah, seperti bekakak. Mereka membuat sarang di pohon yang tidak berdaun. Namun ada juga di rimbunan pepohonan, sehingga agak sulit melihatnya. Biasanya burung bangau Bluwok yang membuat sarang seperti, agar terhindar dari serangan binatang lain.

Biasanya bangau Bluwok maupun bekakak, suka dengan alam liar seperti ini, karena jauh dari gangguan manusia atau pemburu. Sebelum dijadikan cagar alam, pulau ini juga menjadi sasaran pemburu, sehingga menyebabkan sebagian habitat beberapa burung di sini punah.

Kondisi hutan masih asli, sehingga memungkinkan hewan berkembang biak dengan baik, termasuk biawak dan ular phyton. Biawak populasinya tidak begitu banyak, sehingga agak sulit menemukannya. Cagar alam ini juga tersedia menara setinggi tiga puluh meter yang posisinya , menara persis di tengah pulau.

Dengan menara seluruh pulau bisa terlihat. Dari sini, terlihat sekelompok bangau Bluwok. Dari kejauhan terlihat seperti titik-titik putih yang bertebaran di atas pepohonan.

Bangau Bluwok memang senang hidup berkoloni dengan kelompok atau jenisnya sendiri. Mereka sangat menyukai hutan mangrove, karena menyediakan banyak makanan kesukaan mereka -- ikan.

Namun hutan mangrove semakin sedikit, akibat polusi sampah dan limbah beracun, sehingga mengancam populasi bangau Bluwok. Sebagian burung – burung ini, akhirnya terbang ke wilayah lain untuk mencari makan.

Pada musim - musim tertentu, banyak burung migran dari Australia yang datang ke pulau ini, seperti Sikatan Emas dan Burung Bubut Pacar Jambul. Mereka biasanya datang enam bulan sekali atau setiap peralihan musim dari musim panas ke musim dingin.

Mereka datang untuk bertelur, lalu kembali lagi ke habitat asalnya – Australia. Musim panas seperti saat ini, telur – telur burung migran ini mulai menetas.

Masih banyak yang menarik di Kepulauan Seribu. Kami akan mengajak Anda ke pulau lain untuk melihat bagaimana membudidayakan ikan kerapu yang menjadi gantungan hidup nelayan di sini. Mereka membudidayakannya di tengah laut di atas kolam apung.

Cukup menarik. Bagaimana nelayan – nelayan ini menghabisi waktu mereka berbulan – bulan di kolam apung, jauh dari anak dan istri yang memilih tinggal di Kota Jakarta.

Segmen - 3

Dari Pulau Pramuka ke Pulau Panggang hanya setengah jam. Pulau Panggang merupakan pulau terpadat. Bayangkan saja, luas pulau yang hanya delapan hektar dihuni oleh lima ribu kepala keluarga. Sehingga pulau ini bisa saja merupakan pulau terpadat di dunia.

Setiap jengkal lahan di pulau, mereka manfaatkan, termasuk membangun rumah di bibir pantai. Akibatnya, perairan di sekitar mulai tercemar dengan limbah rumah tangga. Ini bisa mengancam populasi ikan di perairan ini.

Membersihkannya memang salah satu cara untuk menyelamatkan ekosistem laut di sini, kendati tidak menyelesaikan masalah utamanya. Sekitar satu ton sampah yang berhasil diangkat.

Nelayan dahulu menangkap ikan dengan menggunakan bom, sehingga mengakibatkan kerusakan terumbu karang yang cukup parah. Sebagian nelayan mulai mengubah cara menangkap ikan, namun sebagian lagi sudah lebih maju dengan membudidayakan ikan.

Misalnya membudidayakan ikan kerapu yang harganya cukup mahal di pasaran. Dengan cara ini kelangsungan ikan kerapu memang akan tetap terjaga. Mereka membudidayakannya di kawasan laut semak daun yang jaraknya setegah jam dari Pulau Panggang.

Di rumah apung ini, anak – anak ikan kerapu dibesarkan hingga mereka ekspor ke negara lain. Biasanya yang sudah berumur enam bulan hingga setahun. Ada tiga jenis ikan kerapu yang dikembangkan, jenis napoleon, macan dan kerapu bebek.
Yang menarik adalah ketahanan mental dan fisik nelayan yang tinggal di rumah apung ini.

Misalnya Gilang dan tiga rekannya ini. Mereka sudah lebih dari setahun hidup di rumah apung. Gilang yang berasal dari Sukabumi menghabiskan waktunya memberi makan dan memelihara ikan–ikan ini hingga besar.

Kadang ia takut juga, kalau sewaktu-waktu badai menyerang rumah apungnya. Sambil membudidayakannya, mereka tetap bekerja mencari ikan untuk kebutuhan sehari-hari.

Abdul Syukur dan Basri misalnya, mereka mengisi waktu dengan mencari ikan hias untuk dijual. Dibantu anak – anak mereka. kedua nelayan ini menyelam hingga kedalaman dua sampai lima meter. Kami ikut melihat bagaimana mereka menangkapnya dengan jaring.

Dahulu nelayan di sini biasa menggunakan bom ikan. Untuk mencapai lokasi mencari ikan, kami menumpang perahu mereka. Lokasinya berada di tengah laut. Mereka tidak menggunakan pelampung atau alat menyelam yang memadai, hanya mengandalkan insting dan kebiasaan.

Hari itu, tidak banyak ikan yang mereka dapat, kendati sudah berjam-jam menyelam. Mereka hanya mendapat ikan berukuran kecil. Bila syukur dan basri menjualnya harganya paling hanya seribu rupiah per-ekor.

Namun berbeda dengan ikan hias jenis kakatua yang sulit menangkapnya. Penampilannya memang lucu dan dijual ke pengepul harganya sepuluh ribu rupiah per-ekor, namun kalau sudah di Jakarta bisa dua hingga sepuluh kali lipat.

Tiga hari menyusuri Kepulauan Seribu rasanya memang belum cukup, karena masih banyak pulau – pulau lain di kawasan ini yang bisa menjadi pelepas kejenuhan kita yang tinggal di kota Jakarta. (Irianto Mahani/Ijs)

Nama:
Email:

More TEROPONG:
[ more Teropong ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :