Nusantara
11-Sep-2007 16:21:16 WIB
TEROPONG
Senja di Dayak Gaai



Reporter : Ahmad Baehaqi
Juru Kamera : Dedi Suhardiman
Tayang : Selasa, 11 September 2007, Pukul 12.30 WIB

indosiar.com, Kalimantan - Sangat menarik mengamati dari dekat kehidupan suku dayak di pedalaman Kalimantan. Sebagian masih hidup primitif. Sebagian lagi sudah cukup maju. Mereka adalah Dayak Gaai yang bermukim di pinggiran sungai. Namun seiring dengan bergulirnya waktu, populasi mereka semakin berkurang karena sudah bersentuhan dengan dunia luar.

Lokasi Suku Dayak Gaai berada di Kecamatan Sambal Liyung, sangat jauh sekitar satu jam perjalanan dengan pesawat udara dari kota Balikpapan. Dari Kabupaten Berau, perjalanan masih sekitar 100 kilometer melewati jalan yang sulit dan berbukit-bukit dan menembus lebatnya perjalanan hutan Kalimantan.

Gaai adalah suku Dayak yang sudah sedikit lebih maju. Mereka tidak lagi berpindah-pindah dan hidup terasing seperti suku Dayak yang lain. Jumlah mereka hanya 300 jiwa dan menetap di tepian Sungai Kelai. Sungai memang menjadi penopang kehidupan Dayak Gaai.

Selain sebagai transportasi, mereka menggunakan sebagai sumber air minum dan mencuci. Sejak 30 tahun yang lalu mereka sudah mengenakan pakaian dan tidak lagi menganut animisme atau kepercayaan asli mereka kaharingan. Melainkan Islam dan Nasrani.

Tidak ada lagi perahu kayu kas Gaai. Mereka kini menggunakan perahu ketinting dengan motor tempel. Sejak remaja, Zakaria sudah menjadi pengemudi perahu yang mengantar penduduk yang hendak pergi ke kota. Ia masih keturunan Dayak Gaai.

Sungai Kelai, lebarnya sekitar 100 meter dan panjangnya sekitar 100 kilometer, bermuara hingga ke Sungai Sega.

Tarian Perang ini bernama Bajiat yang dipersembahkan untuk menyambut tamu. Dayak mempunyai tradisi mencoreng muka bila mereka menyambut tamu. Sebagai tanda persahabatan.

Pemukiman Suku Daya Gaai sangat sederhana dan mereka sudah menikmati listrik dari genset yang menyala pada petang hari. Mereka sebagian masih mempertahankan ciri-ciri dayak seperti membiarkan daun telinga menjulai dan tato di tubuh.

Yakhong ini memiliki 7 orang cucu. Ia salah satu yang masih membiarkan telinganya menjulai. Sejak kecil, ia dipakaian anting-anting sebanyak 30 buah. Sebagian tubuh Yakhong, juga bertato. Bagi dia, tato adalah cahaya abadi dan menandakan wanita Dayak sudah boleh menikah.

Tradisi bertato tidak bisa dilepaskan dari sumber yang mereka keramatkan. Salah satu sumber itu adalah bungkusan berisi kepala manusia yang mereka awetkan untuk mengenang jasa leluhur mereka.Dayak Gaai menyimpanya sejak ratusan tahun lalu dan hingga kini tidak seorang pun yang boleh membukanya.

Leluhur yang Terlupakan

Dayak Gaai juga tinggal di Kampung Tumbit Dayak yang luasnya sekitar 8 hektar. Jumlah mereka sekitar 350 jiwa dan bercampur dengan para pendatang dari Sulawesi dan Jawa.

Suku Dayak Gaai kini menunggu kepunahannya karena populasi mereka semakin menurun, karena program keluarga berencana dan transmigrasi. Mereka juga meninggalkan kebiasaan asing mereka seperti hidup yang harus berpindah-pindah dan berburu.

Kini mereka bertani dan berdagang mengikuti apa yang dilakukan para pendatang. Kendati sudah larut dengan jaman yang berubah begitu cepat, Dayak Gaai masih menyimpan peninggalan yang membuktikan ketangguhan mereka pada masa lalu.

Rumah adat ini sudah berusia ratusan tahun dan menjadi tempat tinggal raja dan ratu mereka. Ditempat ini pula Dayak Gaai dahulu sering mempersembahkan kepala manusia kepada leluhur mereka bernama Boplai dan Bopein.

Sayang, rumah sudah tidak terawat seolah Dayak Gaai mulai melupakan kebesaran mereka pada masa silam. Namun Da Kekping, Keturunan Raja Gaai ini masih memegang kuat tradisi Dayak Gaai dan ia yakin sang leluhur Boplai dan Bopein masih memimpin kehidupan mereka.

Salah satu leluhur Boplai mereka simpan di langit-langit rumah. Boplai ternyata alat masak berupa wajan, bakul padi dan alat-alat pertanian. Kendati demikian, tidak satupun orang dayak berani membukanya. Menurut mereka, benda ini berisi segengam padi yang merupakan simbol kesejahteraan.

Dan Kekting serta keluarganya selalu meminta kepada Boplai agar mau memenuhi keinginan mereka. Kami dengan rasa penasaran ingin melihat Bopein, leluhur kedua yang juga dikeramatkan Dayak Gaai. Berbeda dengan Boplai, sosok Bopein berbentuk kepala manusia yang terbungkus rapi. Usianya diperkirakan sudah ratusan tahun. Bopein adalah kepala seorang panglima kerajaan yang menjadi tumbal.

Nama sebenarnya adalah Boding Deplok, ia pandai berperang, namun tragis ia akhirnya tewas dipegal rajanya sendiri. Mereka percaya bila ada yang berani membuka bungkusan maka akan terjadi musibah besar.

Mereka tetap masih menghormati Bopeing dengan memotong unggas berbulu merah sebagai tumbal. Seperti kita, kelahiran merupakan suatu yang sakral bagi Dayak Gaai.Runjuk merasakan kebahagian itu dan ia harus melakukan ritual yang bernama Neablong untuk memberikan nama pada anaknya.

Pesta yang Tak Lagi Sakral

Tidak ada pilihan bagi Dayak Gaai selain harus menyesuaikan diri dengan jaman yang berubah begitu cepat. Generasi baru sebagian tidak lagi ingin tubuhnya bertato atau membiarkan daun telinganya memanjang.

Jaman juga telah mengubah sebagian tradisi mereka yang sudah ratusan tahun mereka taati. Termasuk adat Bakudung Betiyung. Bakudung Betiyung adalah ritual yang menguji pria Dayak Gaai untuk menjadi mandiri. Beberapa pekan lalu, mereka menampilkannya dalam sebuah pesta yang dilakukan setahun sekali.

Namun sayang, tradisi ini sudah kehilangan ritus sakralnya. Dayak Gaai menggelar tradisi ini biasanya setiap akan menanam padi atau usai panen. Untuk menjadi dewasa, setiap pemuda Dayak Gaai harus menempuh ujian berat, salah satunya membawa pulang kepala musuh.

Ujian ini biasanya setelah para pemuda ini diasingkan keluarga dan masyarakat selama berbulan-bulan. Kemudian mereka merayakannya dengan menggelar pesta bajiat, yakni tarian adat semalam suntuk selama seminggu lamanya.

Bajiang diakhiri dengan mencoreng muka dengan serbuk hitam sebagai tanda persahabatan. Lebih dari lima bentuk bajiat. Bedanya dari gerakan dan hentakan kaki. Bila ke kiri berarti tarian kematian, ke kanan berarti tarian suka cita.

Seperti panca atau adu kekuatan otot, mirip panco. Bedanya, mereka menggunakan sebatang kayu. Atau mau melihat kebolehan menggunakan sumpit. Senjata tiup yang terbuat dari kayu ulin. Membuat sumpit tidak semudah yang kita bayangkan.

Lubang dibagian tengah yang berdiameter lima inci, mereka lubangi selama berbulan-bulan. Mirip lubang peluru dari senjata api berkaliber 55. Anak sumpit mereka buat dari sejenis tulang pelepah daun nira, sangat tajam dan mematikan, karena ujungnya diberi racun.

Dalam hajatan ini banyak ditampilkan adu ketangkasan kas Dayak Gaai seperti mengadu gasing. Berbeda dengan gasing dari daerah lain. Gading daerah Dayak Gaa'i bentuknya lebih gemuk dan terbuat dari kayu ulin.

Di sungai Kelai ini para pedayung melakukan adu ketangkasan sejauh 1 kilometer. Start awal dari hulu sungai dan finish di depan perkampungan dayak. Ada dua kelompok yang bertanding. Kelompok pria dan wanita. Masing-masing kelompok berjumlah 4 hingga 5 orang.

Pesta meriah Bakudung Betiyung ini seolah memberikan isyarat bahwa tradisi dan budaya Dayak Gaai yang asli kini tinggal kenangan. Perubahan zaman telah mengalahkan kesaktian leluhur mereka. (Irianto Mahani/Sup)

Nama:
Email:

More TEROPONG:
[ more Teropong ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :