Nusantara
23-Oct-2007 16:41:49 WIB
TEROPONG
Sekali Lagi Kami Berlebaran Diatas Lumpur



Reporter : Nuruddin Muhammad Zait
Juru Kamera : Dedi Suhardiman - L Agung Nugroho
Tayang : Selasa, 23 Oktober 2007, Pukul 12.30 WIB

Satu tahun lebih bencana lumpur Lapindo terjadi. Namun lumpur hingga kini masih saja terus keluar. Sulit berharap bencana ini akan berakhir dalam waktu dekat. Bahkan belum lama, lumpur di tanggul di Desa Renokenongo, meluber keluar mengenai desa dan areal persawahan.

Semakin pelik masalahnya, ketika menyangkut soal ganti rugi. Sebagian korban, masih merasakan tidak adil. Mereka kini masih bertahan di desa yang tidak layak huni dan merayakan Idul Fitri dengan kondisi yang memprihatinkan.

Mulanya hanya semburan kecil di pagi hari. Senin, pada tanggal 29 Mei 2005. Tetapi itulah awal dari bencana besar seperti dialami sekarang.

Lumpur kini menggenangi 3 kecamatan.Yaitu Porong, Tanggulangin, dan Jabon. Dan menyebabkan ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal. Lumpur juga mengancam 3 kecamatan lain, yaitu Kecamatan Candi, Prambon dan Kota Sidoarjo, yang jaraknya sekitar 15 kilometer dari lokasi bendungan.

Masih simpang siur. Gempa dashyat yang mengguncang Yogyakarta beberapa waktu yang lalu, bisa saja menjadi penyebab. Bisa pula faktor manusia. Sebuah kesalahan kecil yang berakibat fatal. Tiga belas ribu jiwa menjadi korban. Mereka tentu tidak pernah bayangkan, desa yang mereka tinggali kini menjadi desa mati. Sawah, tambak udang, dan lahan pertanian, berubah menjadi danau lumpur dengan bau yang sangat menyengat.

Sebagian penduduk yang menjadi korban, masih bertahan di pengungsian. Karena mereka menolak tawaran ganti rugi yang mereka rasakan tidak adil. Sebagian lagi sekitar 5000 orang sudah menerimanya, namun 70 ribu korban yang lain nasibnya masih terkatung-katung.

Saat ini ada 7 tanggul untuk menahan lumpur. Satu tanggul utama yang dikelilingi 6 tanggul. Namun semua itu tidak mudah. Lumpur yang meluber di titik 42 beberapa waktu yang lalu adalah contoh.

Padahal tinggi tanggul, 10 meter. Rupanya lumpur yang keluar sudah tidak terukur tingginya. Terus bertambah dan akhirnya luber menggenangi rumah penduduk dan areal persawahan di Desa Renokenongo.

Kekhawatiran ini yang dialami penduduk di Desa Pajarakan di Kecamatan Jabon. Yang letaknya persis dibawah tanggul. Bila musim hujan tiba, misalnya, tanggul ini belum tentu bisa menahan lumpur. Dan bila jebol, berarti 3 kali desa mereka tergenang.

Menjelang Idul Fitri, penduduk di desa ini hanya bisa pasrah seperti pada lebaran tahun sebelumnya. Mereka merayakannya dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.

Lumpur yang keluar memang bertambah banyak dan disalurkan melalui "spillway" agar tidak meluber keluar dari tanggul. Dan para pekerja inilah yang bertugas mengalirkan lumpur ke spillway sehingga Sidoarjo hingga saat ini masih aman. Menjelang Idul Fitri rasa tanggungjawab telah memaksa mereka bekerja siang dan malam.

Hanafi harus bertugas sebagai operator di pusat semburan di Sumur Banjar Panji Kecamatan Porong kendati lebaran tinggal beberapa hari lagi. Sayang kami tidak bisa melihat dari dekat bagaimana Hanafi bekerja, karena memang sangat berbahaya.

Ia hanya berharap lebaran nanti ia bisa ingin berziarah ke makam orangtuanya yang sudah terbenam lumpur.

Lumpur Lapindo juga menjadi cerita menyedihkan bagi penduduk di Desa Pajarakan di Kecamatan Jabon. Mereka selalu harus siaga, karena desanya terletak persis dibawah tanggul yang sewaktu-waktu bisa jebol.

Lebaran kedua tidak jauh berbeda dengan yang pertama, tetap bergelut dengan ketidakpastian apakah mereka akan terus bertahan atau pindah. Persoalannya, warga di desa Pajarakan tidak mendapat ganti rugi karena tidak masuk dalam Keppres No.14 tahun 2007. Padahal Pajarakan sudah dua kali terkena lumpur. Ibarat jatuh tertimpa tangga pula.

Tidak ada jalan lain bagi Abdul Kolik dan Rohma. Mereka harus tetap tertahan di tempat yang sebenarnya sudah tidak layak huni. Mereka membuka usaha tambal ban karena lahan pertanian mereka sudah terbenam lumpur.

Mereka juga harus mencari ranting kayu bakar untuk tambahan pemasukan. Idul Fitri tahun ini tidak ada bedanya dengan tahun lalu. Yang mereka takutkan bila musim hujan tiba, tanggul tidak kuat lagi menahan lumpur.

Bagi Romlah, Kolik dan penduduk di Desa Pajarakan merayakan Idul Fitri selama ini sangat memprihatinkan. Jauh dari sanak keluarga dan kemeriahan. Bagi mereka bertahan saja sudah bagus.

Penduduk di desa ini sudah dua kali merayakan Idul Fitri diatas lumpur. Pertanyaannya sampai kapan mereka seperti ini, tidak ada yang bisa menjawab. Barangkali selama lumpur masih menyembur dan persoalan ganti rugi yang belum terselesaikan.
Tahun ini takbiran lebih ramai. Ratusan penduduk dari 4 desa Siring, Jatirejo, Renokenongo dan Desa Mindi bersama-sama melakukan takbir untuk mengenang setahun lebih panasnya lumpur Lapindo.

Mereka selama ini tinggal di pengungsian di Pasar Porong Sidoarjo, karena menolak tawaran ganti rugi. Malam itu tanggul yang biasanya sunyi dan gelap berubah temarang dan gaduh dengan suara takbir.

Takbir sejenak mempersatukan mereka. Mereka bisa bersuka cita setelah sebulan penuh berpuasa. Termasuk Sudarto, namun ia juga sedih karena hingga saat ini nasib dia dan keluarganya tidak jelas. Setahun lebih ia tinggal di pengungsian yang tidak layak bersama anak dan istrinya.

Dengan berkumpul seperti ini ia merasa senasib dan seperjuangan. Sudarto tinggal bersama ratusan pengungsi di banguna ruko berlantai dua di Pasar Porong Sidoarjo. Ia menempati ruangan 3x5 meter bersama anak dan istrinya selama satu tahun lebih.

Selama ganti rugi belum memuaskan Sudarto, ia akan terus bertahan disini kendati tempat ini tidak layak untuk membesarkan anak mereka. Idul Fitri memang akan selalu menjadi peristiwa penting bagi korban lumpur Lapindo.

Dan tahun ini warga korban lumpur dari Desa Jatirejo kembali merayakan Idul Fitri seperti tahun sebelumnya yakni melakukan sholat Ied diatas tanggul. Sholat Ied mereka lakukan diatas tanggul yang membendung lumpur yang kini mengering dan mengubur desa mereka.

Umbang Puspitasari, sulit untuk melupakan rumahnya yang kini ia hanya bisa lihat atapnya saja. Sholat Ied berlangsung khimad dan dengan perasaan haru. Sebelum bencana itu datang Umbang tinggal di rumah kecil bersama dua anaknya. Ia sempat membuka salon untuk membiayai hidup sehari-hari setelah suaminya meninggal dunia dan rumah itulah yang menjadi kenangan yang tidak bisa ia lupakan.

Sejak itu Umbang hidup bersama kedua anaknya di pengungsian Pasar Porong selama setahun lebih. Umbang dan warga memang telah menerima 20 persen uang ganti rugi dan sisanya lagi akan dibayar menyusul. Mereka semua berharap proses ganti rugi berjalan mulus dan adil.

Umbang dan Sudarto suatu saat akan memiliki rumah dan menjalani kehidupan yang baru. Namun berapa pun nilai ganti rugi yang mereka terima sebenarnya tidak akan cukup menggantikan yang telah hilang termasuk kenangan indah itu. (Sup)

Nama:
Email:

More TEROPONG:
[ more Teropong ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :