Reporter : Windu Tiastutiindosiar.com, Jakarta - Sore itu kami menaiki hingga ke puncak mercusuar di lepas pantai utara Jakarta. Dari puncak sini, kota Jakarta terlihat samar. Ya....mercusuar Edam, mercusuar ini menjadi satu – satunya bangunan peninggalan Belanda di Pulau Damar Besar yang masih bisa dipergunakan.
Sisanya hanyalah tembok rapuh yang dililit akar. Bangunan – bangunan di Pulau Damar Besar ini menyimpan cerita menarik. Kenapa Belanda mendirikan bangunan di pulau terpencil yang jauh dari Batavia saat itu ? Dan untuk apa bangunan – bangunan ini didirikan... Kami menumpang kapal milik Dinas Angkatan Laut yang akan menjalani latihan rutin di Pulau Damar Besar.
Damar Besar adalah salah satu pulau di lepas pantai Jakarta yang jaraknya hanya satu jam dari Jakarta. Pulau Damar atau yang biasa disebut Edam adalah kawasan tertutup yang luasnya 36 hektar. Pulau ini dikelola oleh Direktorat Jendral Perhubungan Laut. Sunyi dan menyeramkan, adalah kesan pertama ketika menginjakan kaki di pulau ini.
Reruntuhan bangunan kolonial Belanda di tengah rapatnya pepohonan seolah menebarkan aroma mistis. Beberapa televisi swasta memanfaatkan situasi seperti ini untuk melakukan pengambilan gambar buat film – film misteri dan gaib.
Misalnya bangunan ini, yang terdiri dari dua ruangan berukuran sama. Anda bisa merasakan, bila berada seorang diri di tempat ini, di pulau ini, pada malam hari…
Yang pasti adalah belum ada data pasti berapa jumlah bangunan peninggalan Belanda di Pulau Edam ini. Apalagi sebagian bangunan sudah rata dengan tanah. Setiap bangunan yang kami temui, selalu dilengkapi dengan bak penampungan air hujan. Pada masa itu, kebutuhan air tawar rupanya menjadi masalah di pulau ini.
Harus berhati-hati menyusuri pulau ini, sebab meski pepohonan tidak terlalu lebat dan rapat, tumbuhan semak bisa menyesatkan anda. Itu kami rasakan. Kami sudah berputar-putar di tempat ini sebanyak dua kali, ketika mencari reruntuhan bangunan lain. Tidak tahu apa jadinya bila tidak ada bantuan dari anggota Dinas Angkatan Laut yang sudah berkali – kali merambah hutan di pulau ini.
Edam yang Terlupakan
Dari penulusuran kami di Pulau Edam ini, kami menemukan empat sisa bangunan kolonial Belanda yang terpencar di beberapa tempat hingga radius satu kilometeran. Kenapa Belanda membangun pemukiman di pulau terpencil yang jauh dari keramaian Batavia ketika itu ?.
Yang menarik, ketika merdeka, tempat ini seolah terlupakan. Padahal sebagian besar bangunan – bangunan peninggalan Belanda di tempat lain dijadikan cagar budaya, sedangkan di Pulau Edam ini terlantar dan menyisakan pemandangan yang memilukan. Reruntuhan bangunan ini seolah makam yang mengubur cerita dan informasi tentang masa lalu.
Bangunan besar ini, secara tidak sengaja kami temukan. Ia terdiri dari tiga ruangan besar yang dipisahkan lorong panjang yang memisahkan satu sama lain sejauh lima puluh meter. Belum diketahui fungsi bangunan ini ?.
Tidak ada petunjuk apapun ..., sehingga kami sempat berpendapat bangunan ini hanyalah sebuah proyek yang dibangun instansi tertentu pada masa sekarang yang tidak terselesaikan hingga terbengkalai seperti ini.... Namun genting ini..., seketika itu juga mengubah pendapat kami.
Bangunan ini ternyata rumah Dinas Gubernur Jendral VOC, Johannes Champhuis yang dibangun tahun 1685, sekitar 300 tahun yang lalu. Yang kemudian diserahkan ke Joan Van Horn yang menjadi pengganti dan penguasa VOC pada tahun 1691. Tahun 1705, Belanda sempat membangun kincir angin di Pulau Edam ini.
Tujuannya untuk keperluan penggergajian kayu dan bengkel pemintalan tali jangkar. Bangunan itu kemudian dihancurkan Inggris sekitar seratus tahun kemudian. Bangsa Jepang tidak mau ketinggalan. Sebagai negara yang menguasai asia tahun 40'an, mereka pun seolah berhak atas wilayah jajahan dan mereka meninggalkan jejak berupa gudang peluru di pulau ini.
Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini sempat dipakai sebagai asrama yatim piatu dan anak gelandangan pada tahun 1950. Namun anak – anak itu lari meninggalkan pulau ini dengan menggunakan kayu dan batang pisang. Tahun 1957, Edam kembali dipergunakan untuk menampung orang jompo, tetapi sekali lagi kegiatan inipun berlalu tanpa hasil, dan Pulau Edam kembali menjadi pulau sepi yang menjadi saksi perjalanan waktu.
Saksi Bisu Sang Mercusuar
Pada masa itu jalur pelayaran ke Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi sangat penting. Kapal – kapal VOC yang mengangkut rempah – rempah dari penjuru tanah air perlu secepatnya tiba di pelabuhan ini.
Untuk itu, mercusuar ini begitu penting untuk memandu kapal yang sudah terlihat jauh di laut Jawa hingga merapat ke pelabuhan. Konstruksi mercusuar di Edam ini terbuat dari plat besi yang dicor hingga setinggi 52 meter, dan untuk sampai ke puncak anda harus menaiki 272 anak tangga.
Pemerintah Belanda membangun mercusuar Edam ini pada tahun 1879 ketika raja Willem III berkuasa. Mercusuar ini sudah bisa terlihat dari jarak 20 mil. Padahal ketika itu hanya menggunakan nyala api minyak tanah yang dikerek dari bawah. Kini mercusuar ini menggunakan tenaga listrik dengan daya 1000 watt yang berasal dari empat generator.
Diperlukan waktu dua hingga tiga hari untuk menelusuri pulau Edam ini. Sebagian besar pulau ini ditumbuhi pohon – pohon besar yang diselingi semak – semak yang menjadi habitat menyenangkan bagi burung yang berimigrasi dari belahan bumi lain. Semak – semak ini jauh menjadi tempat persembunyian aman bagi ular dan hewan melata lain seperti biawak.
Jadi harus hati – hati melangkah........... Makam ini adalah situs menarik di pulau ini. Makam inilah yang menjadikan Edam dikenal segelintir orang yang kerap datang berziarah untuk mencari berkah. Ada lima makam ..., yakni makam Syarifah Fatimah dan empat pengikutnya.
Siapa Syarifah Fatimah ? . Dia adalah gadis keturunan arab yang bekerja sebagai mata – mata di Banten pada abad ke tujuh belas. Karena Belanda kuatir, banten yang sedang berkembang akan bekerjasama dengan kerajaan mataram. Fatimah sendiri berhasil menjadi istri Sultan Arifin, raja Banten saat itu yang kemudian pada akhirnya Fatimah menjadi penguasa Banten lalu membuang suaminya sendiri sultan Banten ke Ambon.
Sulit mempercayai makam ini ternyata tempat pembaringan terakhir bekas penguasa Banten. Kekuasaan Fatimah tidak bertahan lama. Pada oktober tahun 1750, rakyat Banten memberontak, sehingga memaksa Fatimah meminta perlindungan Belanda di Batavia.
Tetapi Belanda sendiri kena batunya...., rakyat Banten melumatkan pasukan Belanda yang didatangkan dari Batavia. Tetapi Belanda berhasil menyelamatkan Fatimah dan membawanya ke pulau yang saat itu sedang terjangkit wabah malaria dan pulau itu adalah Edam.
Rupanya Fatimah menderita, hidup menjadi orang buangan. Di pulau ini pula, wanita bekas penguasa Banten itu menutup mata selamanya. Pulau Edam adalah pulau kecil yang mempunyai peran penting bagi Belanda saat itu. Kini ia seolah menjadi pulau yang tidak berarti, sepi dan menyeramkan. Padahal, namun disinilah sebagian sejarah republik ini terpendam selamanya.(Sup)