jeruk bali
Sosbud
24-Jun-2008 16:17:10 WIB
TEROPONG
Jakarta 481 Tahun



Reporter : Ahmad Faizal
Kameraman : Warsam Aji
Tayang : Selasa, 24 Juni 2008 Pukul 12.30 WIB

indosiar.com, Jakarta - Jakarta tahun ini berusia 481 tahun, usia yang sudah sangat tua untuk sebuah kota di Asia. Lebih tua dibandingkan Kuala Lumpur, Ibu Kota Malaysia yang usianya 158 tahun. Lalu apa yang menjadi daya tarik dari Jakarta yang beberapa tahun terakhir ini seolah berlomba ingin menjadi sebuah kota yang moderen. Jakarta yang moderen ? Mari kita lihat.

Jakarta adalah kota besar. Luasnya sekitar 750 kilometer persegi, tiga kali luas Kuala Lumpur, ibu kota Malaysia. Selain luas, Jakarta memiliki sejarah panjang untuk menjadi kota sebesar ini dan di ujung utara Jakarta atau Sunda Kelapa, adalah lembaran pertama dari sejarah kota Jakarta.

Jakarta sejak awal dibangun untuk menjadi Kota Pelabuhan. Pada jaman Tarumanegara, kota yang bernama Sunda Pura menjadi kota penting pada abad ke – empat. Kota ini semakin berkembang ketika dibawah Kerajaan Sunda. Dibantu Portugis saat itu, mereka menyulapnya menjadi Kota Pelabuhan yang sangat penting.

Lalu kecantikan kota ini menarik hati Sultan Demak yang dibawah Fatahillah lalu menguasainya dan mengganti namanya menjadi Jayakarta. Tahun 1596 Belanda kemudian membangun kota Jayakarta menjadi pos dagang penting, tetapi hubungan mereka dengan Sultan Demak memuda. Pangeran Jayakarta dibantu Inggris ingin mengusir Belanda, namun justru berakhir tragis.

Jan Pieterzoen Coen adalah orang yang mati – matian mempertahankan kota ini. Dengan bala tentaranya, dia berhasil memukul balik serangan Jayakarta hingga akhirnya menguasai kota ini pada tahun 1619. Jayakarta pun berganti nama menjadi Batavia, dan tiga ratus tahun kemudian baru menjadi Jakarta.

Dibawah Belanda wajah Jakarta berubah. Belanda membangun kanal serta gedung – gedung penting. Peninggalan itu sebagian masih bias kita lihat ada ditengah kemacetan dan himpitan pencakar langit. Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen tentu akan tercengang dan tidak percaya melihat Jakarta saat ini.

Kota yang ia rebut dari tangan Pangeran Jayakarta, menjadi kota megapolitan yang tidak lagi disandari kapal – kapal Portugis atau Belanda yang membawa rempah – rempah, melainkan bisnis dengan transaksi miliaran rupiah perhari.

Namun Jakarta, ibarat kapal kecil yang sarat penumpang, berat untuk berlayar jauh. Jumlah penduduk yang hampir sembilan juta jiwa, menempatkan Jakarta dalam urutan ke sepuluh sebagai kota terpadat di dunia.

Jumlah penduduk sebanyak itu, tentu merupakan masalah yang tidak ringan. Jakarta tentu harus memberikan sesuatu bagi mereka. Selama 480 tahun perjalanannya, kota ini seolah berlomba dengan kota lainnya untuk menjadi yang moderen, dan tentu pelayanan adalah ciri khas dari kota yang ingin maju.

Jakarta Hutan Besi

Macet dan semrawut, adalah kesan pertama bagi siapa saja yang baru pertama kali menginjakan kaki di Jakarta. Jakarta adalah hutan besi. Jumlah kendaraan bermotor adalah salah satu penyebab jakarta seperti ini.

Sejak negara ini merdeka, kendaraan bermotor adalah soal yang paling runyam. Jumlah terus bertambah. Lima tahun lalu, jumlah kendaraan bermotor sekitar enam setengah juta, dan sekitar 98 persen adalah kendaraan pibadi, sisanya hanya dua persen, kendaraan umum yang bentuknya mengerikan.

Tidak heran bila orang Jakarta lebih menikmati kendaraan pribadi. Bus way adalah sebuah terobosan untuk mengatasi kesemrawutan ini. Usianya baru empat tahun, ketika diresmikan tahun 2004 lalu, namun Busway atau Trans Jakarta sedikit banyak telah mengubah wajah Jakarta.

Busway atau Trans Jakarta sebenarnya bukan barang baru. Sistem ini kita tiru dari kota Bogota – Kolombia. Sistem bernama Transmilineo ini memang berhasil membuat orang malas menggunakan kendaraan pribadi di kota Bogota. Bagaimana dengan jakarta ?.

Bagi penduduk kelas menengah kebawah yang lahir dan dibesarkan di Jakarta, naik busway barangkali mimpi. Selain murah, kita tidak perlu kuatir diturunkan seenaknya, atau dipaksa pindah ke kendaraan lain. Di sini hak penumpang lebih terjamin. Sebagian lagi melihatnya, tidak yang ada istimewa dari angkutan ini.

Saat ini armada busway baru beroperasi empat ratus dua puluh buah, memang jauh dari jumlah orang yang harus diangkut. Sehingga waktu menunggu menjadi lama. Belakangan ditambah lagi tiga belas busway gandeng yang diimpor dari Cina.

Bus gandeng ini pada tahap awal melayani rute Kampung Melayu - Ancol yang padat. Busway memang bukan obat mujarab yang bisa membuat sebagian orang Jakarta agar mau menyimpan kendaraan pribadinya di garasi, dan naik angkutan ini.

Jakarta tetap seperti itu, macet dan semrawut. Ini karena sebagian dari kita rupanya masih melihat kendaraan pribadi, tidak saja sebagai alat angkut, tetapi sebuah penampilan atau gengsi. Busway memang belum cukup membuat Jakarta menjadi kota yang moderen dan manusiawi. Kita perlu keajaiban selanjutnya, yakni proyek Mas Rapid transit, atau M–R–T, yang belakangan sempat tidak jelas.

Benarkan proyek ini akan menyelesaikan masalah angkutan di jakarta hingga ke akarnya ?. Kita masih harus menunggu !. Jakarta ibarat rumah yang setiap saat harus kita benahi. Di usianya yang ke 481 tahun, tanpa disadari rumah yang kita tinggali ini telah berubah banyak. Ia semakin tua namun semakin cantik.

Kecantikannya telah menarik hati siapa saja yang ingin mengadu nasib di kota. Sebagian berhasil dan menikmati surganya Jakarta. Mereka memilih tinggal di apartemen, karena praktis dan aman. Mereka kelompok kelas menengah yang secara ekonomi. Mereka secara tidak langsung telah membawa nafas baru dari kota ini.

Tidak Melupakan Masa Lalu

Banyak orang bermimpi untuk tinggal dan hidup di Jakarta. Dan kota ini tentu akan memberikan apa saja bagi mereka yang mempunyai uang berlimpah dan kekuasaan, itulah Jakarta. Dan tidak bisa dipungkiri, kelas menengah yang menikmatinya.

Ciri mereka berusia muda dan berkocek tebal. Mereka inilah yang menuntut Jakarta berbeda, tidak sekedar aman dan nyaman. Dan rupanya Jakarta berusaha menyesuaikan diri dengan gaya hidup kelas ini.

Golongan ini menuntut ruang yang lebih luas melakukan bisnis atau pekerjaan mereka, karena waktu adalah uang. Salah satu ciri mereka adalah komputer jinjing atau laptop yang tidak pernah lepas, kemana saja mereka pergi.

Mereka biasanya menghabiskan waktu di gerai kopi yang belakangan menyediakan akses internet gratis, atau istilah sekarang hot spot, seperti di salah satu gerai di kawasan Thamrin ini.

Bagi Ari yang bekerja di perusahaan terkemuka, hotspot memudahkan dia menyelesaikan pekerjaannya dimana saja. Menarik, hotspot ini telah mengubah sebagian cara kita bekerja, yang tidak lagi sebatas rumah dan kantor. Kelas menengah yang cenderung berpikir praktis, juga menuntut tempat tinggal yang berbeda. Maka apartemen pun menjamur di mana - mana.

Jakarta yang terus tumbuh berkembang, memang membuat ruang semakin kecil. Tidak ada jalan lain, tentunya selain membangun ke atas. Menjamurnya apartemen adalah ciri Jakarta saat ini. Mereka menutup sebagian langit Jakarta. Kita bisa lihat jalan – jalan dikawasan Thamrin, Sudirman atau Kuningan.

Bagi sebagian warga Jakarta, tinggal di apartemen adalah kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Mereka yang solusi untuk mendapatkan rumah yang jauh dari kemacetan dan lebih aman. Itu yang dirasakan Vina. Vina yang bekerja sambil kuliah, memilih tinggal di apartemen, karena nyaman dan aman. Ia juga tidak harus berjuang menembus kemacetan Jakarta yang luar biasa.

Vina bersama Zelda kakaknya sudah setahun menyewa apartemen yang terletak di kawasan strategis. Harga sewa berkisar antara 5 – 6 juta rupiah perbulan. Cukup mahal. Namun menurut Vina sebanding dengan fasilitas yang didapat.

Biasanya apartemen di Jakarta dibangun lengkap dengan pusat perbelanjaan dan sekaligus perkantoran atau sekolah. Sebagian besar penduduk Jakarta kini memilih tinggal di apartemen, seperti yang dilakukan Vina dan Zelda. Mereka bukan memilih halaman yang luas, melainkan nilai startegisnya.

Begitulah Jakarta saat ini. Apartemen, kantor dan hotspot, adalah mata rantai yang menjadi ciri khas kota kita saat ini. Sudah tidak lagi Jakarta yang tua dan bersejarah. Ia tenggelam dengan hiruk pikuk kemajuan yang terjadi. Dan tentu kita berharap, Jakarta tidak melupakan masa lalu itu. (Dv/Sup).

Nama:
Email:

More TEROPONG:
[ more Teropong ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :