Reporter : Yadi Supyandiindosiar.com, Kalimantan Timur - Berburu adalah hobi menyenangkan sekaligus menantang. Tim Teropong bersama Perbakin atau Persatuan Menembak Indonesia belum lama ini berburu babi dikawasan perkebunan sawit di Kalimantan Timur.
Selama beberapa hari kami menjelajahi kawasan ini. Lelah bercampur tegang. Itulah berburu, tidak semudah yang kami bayangkan. Kalimantan sebagian besar wilayahnya masih ditutupi hutan yang luasnya diperkirakan 1,5 kali luas Pulau Jawa dan Madura. Hutan seluas ini tentu mengiurkan bagi para pemburu.
Kami memilih tiga lokasi di Kalimantan Timur yakni kawasan Panajam, Tanah Grogot, Paser dan Bukit Bangkirai. Dari kota Balikpapan ke lokasi perburuan cukup jauh tetapi menyenangkan. Wilayah perburuan pertama di Kabupaten Panajam, Paser Utara yang jaraknya cukup jauh dari kota Balikpapan.
Mereka ini adalah para pemburu profesional dimana berburu bukan sekedar gagah-gagahan atau pamer senjata. Ada misi lain, membasmi babi hutan yang menjadi hama bagi petani. Kelompok Peca Tiga. Pemenangnya adalah kelompok yang paling banyak mendapat buruan.
Senjata yang mereka gunakan adalah jenis laras panjang yang harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Kendaraan sudah siap. Begitu pula berbekal. Inilah malam pertama semoga menjadi peruntungan kelompok kami. Berburu mirip berjudi, tidak bisa ditebak. Kadang beruntung kadang pula sial, tetapi justru ketidakpastian berburu menjadi suatu yang menantang sekaligus menyeramkan. Sasaran kami adalah babi hutan jenis singa. Nanti Anda akan lihat perawakannya.
Malam yang Sial
Malam itu malam sial bagi kelompok kami. Tembakan kami banyak yang meleset sehingga tidak seekor babi pun kami dapat. Bulan yang bersinar penuh memang membuat babi malas keluar. Setelah beberapa jam rasa capek mulai terasa.
Berburu tidak harus membawa senjata dan peluru juga harus memperhitungkan waktu dan perbekalan. Tim lain datang membawa hasil buruan. Inilah babi singa ukurannya lebih besar dibandingkan babi sejenis bentuknya juga menyeramkan.
Hingga subuh kami masih tidak mendapatkan babi seekor pun. Kendardi yang sudah bertahun - tahun berburu ia bisa menyembunyikan kekecewaanya. Kali ini kami menuju kawasan Tanah Grogot di Kabupaten Paser. Jaraknya lumayan jauh 5 jam perjalanan dari Kabupaten Panajam Pasir Utara lokasi perburuan pertama.
Di Tanah Grogot lahan perburuan berawa - rawa. Selain itu lokasi ini berdekatan dengan perkampungan penduduk. Ini tantangan tersendiri. Senjata api dan peluru kembali diperiksa.
Pemburu biasanya menyukai peluru kaliber 7 milimeter dan 3006, karena akurasinya yang tinggi. Satu kelompok pemburu biasanya terdiri dari 2 penembak dan 5 orang kru pendukung. Dua penyorot lampu atau pengeblor dan seorang pengemudi.
Hutan sawit seluas puluhan hektar ini merupakan tempat menyenangkan bagi babi hutan. Juru senter memberikan kode tertanda mereka melihat binatang buruan. Kesabaran kami akhirnya terbayar, setelah hampir dua hari menjelajahi dua kabupaten. Seekor babi mati terkena peluru kami.
Seluruh isi perut babi harus dikeluarkan agar dagingnya bisa dimanfaatkan. Biasanya isi jeroan ini ditinggalkan begitu saja untuk santapan babi hutan yang lain. Seekor babi selama dua hari perjalanan adalah hasil yang belum maksimal. Itulah perburuan kadang harus menelan pil pahit. Masih ada satu tempat lagi kawasan Bukit Bankirai disinilah pertaruhan kami yang terakhir.
Perburuan Berakhir
Bukit Bangkirai berada di Kabupaten Kutai Timur. Daerah ini adalah kawasan hutan sekunder. Sebagian merupakan areal perladangan dan perkebunan. Dikawasan inilah perburuan kami yang terakhir.
15 pemburu dari Perbakin, Kalimantan dan Jakarta masih belum terlihat letih. Mereka umumnya menggunakan senjata yang otomatis dan masih menggunakan grenden pengaman.
Jengkal demi jengkal jalan kami lalui. Sekali kilatan mata hewan terlihat ketika diblor cahaya lampu mobil. Bila kilatan berwarna merah berarti mata babi. Berburu memang menguji kesabaran.
Hampir lewat tengah malam, belum ada seekor babipun yang kami dapat di daerah ini. Kami kembali harus beristirahat. Saat seperti ini biasanya mereka bercerita tentang babi buruan yang luput dari sasaran.
Satu buruan lepas. Kali ini hanya sekali tembakan, peluru langsung kena pada bagian jantung. Ukurannya tidak terlalu besar, cukuplah untuk membuat hati kami senang. Biasanya para pemburu membiarkan hidup babi-babi kecil yang masih muda.
Bagi pemburu profesional seperti mereka ini berburu adalah membeli suasana. Bagi mereka masuk hutan keluar hutan lebih dari segalanya. Dan yang penting bagi mereka kebersamaan dan persaudaraan. (Sup/Dv)