jeruk bali
Nusantara
15-Jul-2008 16:49:51 WIB
TEROPONG
Sepenggal, Seni Ancol



Reporter : Ahmad Baehaqi
Juru Kamera : Mugi Wiyono
Produser : Irianto Mahani
Tayang: Selasa, 15 Juli 2008, Pukul 12.30 WIB

indosiar.com, Jakarta - Seniman mempunyai cara dalam melihat dunia. Mereka mencoba merekam dunia yang semakin gelisah akibat ulah manusia. Dan mereka menggunakan bahasa yang tidak mudah untuk kita menangkapnya. Mereka inilah para seniman Ancol yang sudah puluhan tahun hidup dengan dunia mereka sendiri. Ancol sebenarnya tidak bisa dipisahkan dengan Pasar Seni.

Layaknya pasar, hanya bedanya barang yang diperdagangkan adalah karya seni yang kadang harga bukan menjadi faktor penentu. Pasar Seni di Ancol ini sebenarnya sudah berdiri sejak tahun 70 an dan luasnya mencapai 5 hektar.

Dinamakan Pasar Seni karena sejumlah seniman menjual dagangannya di lapak yang terdiri dari blok dan blok. Aneka barang seni dan kerajinan bisa anda temui disini mulai dari lukisan hingga kerajinan tangan.

Kalau di pasar, tidak membeli barangkali bisa menjadi masalah, disini para seniman barangkali akan berlapang dada bila anda tidak membeli. Itulah seniman.

Disini anda juga bisa berbincang-bincang tentang ilmu seni rupa dengan para seniman dari berbagai daerah di Indonesia.Anda bisa bertukar pengalaman dalam hal seni rupa. Pokoknya tidak kalah bagusnya dengan pasar seni di tempat lain.

Bogeng adalah salah satu orang yang banyak mengetahui kawasan disini. Dahulu tempat ini hanya sebuah lokasi pameran yang berkembang menjadi tempat yang belakangan kini dikenal hingga ke mancanegara.

Tidak ada teriakan, layaknya seperti pedagang kaki lima. Semuanya berjalan seiring dengan irama goresan tangan para seniman disini. Cubung Sugiarto, Makroni dan rekannya ini adalah seniman yang kami temui.

Disini mereka sering berkumpul dan berkarya. Warna hitam merupakan pakaian kebanggaan mereka, karena simbol kritis terhadap keadaan. Hidup mereka untuk seni, sebagian ada yang lupa berkeluarga dan menumpahkannya dalam karya seni.

Lajang Demi Seni

Pasar Seni memang bukan makanan yang enak. Kesan asri dan suasana yang tenang sehingga membuat kita bisa berlama-lama disini. Para seniman disini mengeluti karya seninya sesuai dengan bidangnya.

Seperti halnya Pak Sugiarto, pria setengah baya ini sudah hampir 20 tahun hidup sebagai seniman. Lukisannya lumayan rumit dan penuh corak. Maklum ia beraliran realis ekpresionis. Ia memadukan kenyataan dengan ekspresi rasa dan fikiran dengan permainan warna yang memukau.

Kelihaian jarinya memainkan kuas dan cat menghadirkan karya yang mengagumkan.Sugiarto memang pandai.

Sri Hartono adalah seniman yang disegani disini. Ia merupakan perupa yang karyanya berwujud empat dimensi yang terbuat dari tanah. Ia sudah menjalani dunia seni ini sejak Pasar Seni ini berdiri. Usianya pun sudah lebih dari 50 tahun. Dan di toko inilah ia menghabiskan waktunya menjari perupa. Aneka motifasil karya berupa patung dan karya seni lainnya sudah ia ciptakan.

Bahkan saat ini sedang merancang sebuah karya di monumen bersejarah di Solo, Jawa Tengah. Sri termasuk seniman yang banyak menghabiskan waktunya untuk berkarya sehingga ia lupa berkeluarga. Padahal seharusnya ia sudah memiliki anak atau pun cucu.

Berbeda halnya dengan Makroni. Saat kami temui ia tengah asyik merajut mainan di tokonya. Pria inipun mengaku tidak sempat memikirkan untuk beristri, bahkan memiliki keluarga seperti orang lain. Perjalanan waktu telah mengubah sosok pria ini untuk tetap melajang.

Disini Makroni merupakan seorang perajin dan hasil karyanya cukup bagus dan memiliki nilai seni yang tinggi. Makroni merupakan perajin otodidak dan dia berhasil memanfaatkan bahan tali sayuran untuk membuat patung.

Patung ini terbuat dari ikatan tali sayuran yang terbuang di pasar. Dan hanya Makroni yang bisa mengubahnya menjadi hasil karya.

Ada sekitar 2500 ikatan tali yang membungkus patung hewan ini. Hasil karya Makroni sudah banyak terjual hingga ke mancanegara. Biasanya ia menjual patung seperti ini hingga 20 juta rupiah. Makroni termasuk yang pintar menciptakan peluang bisnis.

Dan ini maha karya yang memukau sepanjang sejarah Pasar Seni ini berdiri. Karya Cubung Wasono Putro. Namanya Pagelaran Karya Seni Instalas, seni perpaduan benda-benda dengan kehidupan nyata yang tergambar dalam karya yang ekspresionis.

Bumi yang Gelisah

Di Pasar Seni Cubung Wasono Putro mengasah kemampuan seninya sejak hampir 10 tahun yang lalu. Toko tempat ia berkarya terdapat aneka lukisan yang belum rampung. Jangan heran bila melihat kayu gelondongan seperti ini. Kayu gelondongan ataupun kayu-kayu yang tanpa lapuk ini merupakan sebuah karya seni Cubung. Ia memainkan visual, keindahan seni melalui kayu gelondongan selain melukis.

Kayu-kayu ini umumnya ia dapat dari tepi pantai yang terbawa gelombang atau dari pohon yang sengaja ditebangnya. Cubung memang kreatif mengembangkan ide-idenya. Seongok kayu ini mungkin oleh masyarakat hanya dipergunakan untuk kayu bakar.

Seniman asal Yogya ini termasuk orang yang tidak pernah puas dengan hasil karyanya sendiri. Ia selalu mencari hal baru untuk kelangsungan karier di masa datang selain melukis.

Cubung mempersiapkan karya seni ini hampir dua bulan lamanya. Yang jelas kesulitannya adalah mengangkut kayu-kayu ini. Ia mendapati kayu inipun dari 200 pohon yang ditebang dikawasan protokol di Jakarta. Saat itu pohon yang tumbang ini hanya akan dijadikan sampah belaka oleh Pemda setempat dan alhasil, Cubung mengubahnya.

Seni instalasi ini merupakan seni pemasangan benda-benda. Berarti juga seni yang menyatukan dan membangun sebuah benda yang bertujuan untuk merujuk pada kesadaran makna hidup.

Dalam instalasi, interaksi karya seni dengan penonton lebih diutamakan. Persiapa karya termasuk padat karya, lebih dari 100 orang terlibat. Termasuk pameran lain yang menghadiri.

Pohon-pohon bekas ini ditata sesuai dengan tema, pemanasan global atau global warning. Disini Cubung menggelar karyanya di trotoar ditengah Pasar Seni sepanjang 5 kilometer. Diawali pementasan kuda lumping. Tumpukan kayu dan ranting pohon ini merupakan korban.

Makanya dalam karya ini terdapat alat seperti golok, gergaji, kapak. Ada lima pesan yang ingin disampaikan Cubung, mulai dari rimba yang hilang, tangan siapa, bumi gelisah, yang terperangkap hingga bercerminlah. Dan adalah patung-patung instalasi yang mengambarkan pejabat yang menutup mata dengan keadaan.

Dan melahirkan masyarakat kerdil dan buta. Dengan karya ini Cubung berharap sepotong ranting bisa membuka lebar mata kita semua terhadap realitas termasuk bumi yang kita pilih.

Disini suasana terkesan menyeramkan. Karena ada bencana yang datang bertubi-tubi. Bermula dari hutan yang gundul, banjir, tsunami hingga lumpur Lapindo.Semua menyatu dalam karya seni instalasi ini termasuk aksi penari bertopeng yang serba hitam.

Bumi pun merana banyak yang terperangkap dan hancur karena ulah manusia. Sosok manusia yang sedang merasakan akibatnya sekarat ditengah hutan yang rusak.

Ia kepanasan oleh terik matahari dan tanpa sadar ia telah kehilangan kehidupan akibat bumi yang semakin panas. Dan cermin ini menjadi tempat kita untuk berkaca dan dengan cermin ini apa yang meski kita perbuat dengan kerusakan yang telah terjadi. (Sup)

Nama:
Email:

More TEROPONG:
[ more Teropong ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :