Reporter : Sukwan Hanafi
Juru Kamera : Nyoman Ifrozim
Produser : Irianto Mahani
Tayang : Selasa, 29 Juli 2008, Pukul 12.30 WIB
Segmen 1
indosiar.com, Bali - Ngaben adalah salah satu upacara keagamaan penting dan akbar di Bali. Perhelatan suci ini menyedot ribuan orang, mereka ingin menyaksikan upacara yang jarang terjadi. Apalagi yang di Ngaben adalah seorang pemimpin Ubud yang sangat dihormati.
Sulit memisahkan Bali dari ritual keagamaan. Ritus ini bagi masyarakat Bali sama pentingnya dalam menjalankan kehidupan mereka sehari - hari.
Jadi tidak usah heran dengan pemandangan seperti ini. Ritual keagamaan yang sederhana sudah menjadi pemandangan biasa, bagi siapa saja sejak pagi hingga malam hari.
Sesajian bagi sang dewata ini merupakan ungkapan terima kasih atas berkah Sang Dewata yang barangkali menjadikan pulau ini tetap indah dan eksotis. Daun kelapa muda (janur) menjadi pemandangan yang Anda temui disetiap tempat bila Anda mengunjugi Bali.
Di Bali setiap fase kehidupan harus dijalani dengan upacara. Sekecil apapun itu, tentu ini menghabiskan biaya yang tak tidak sedikit dan salah satu upacara itu adalah Ngaben.
Ngaben adalah upacara sakral dan besar yang ditunggu banyak orang. Disinilah fase dimana jasad manusia kembali ke langit. Upacara ini menelan biaya yang tidak sedikit dan harus dilakukan pihak keluarga. Ini sebagai bentuk Dharma (bakti) kepada anggota keluarga yang telah meninggal dunia.
Ngaben yang sederhana persiapan saja sudah memakan waktu berhari - hari. Mulai dari pembuatan bade yang tingginya disesuaikan dengan kemampuan dan derajat orang yang di abadi. Lalu bagaimana dengan keturunan raja ? Ngaben itu menjadi upacara yang maha besar dan meriah.
Ini yang terjadi di Ubud 15 Juli lalu, dimana yang di Ngaben adalah seorang tokoh kharismatik dan berpengaruh Cokorda Gede Suyasa (pemimpin Puri Agung Ubud). Dan malam itu adalah puncak kerja keras mereka selama berbulan - bulan. Puri Ubud seolah tidak redup dengan aktivitas untuk menghantar sang Cokorda menuju pelebonannya.
Segmen 2
Hari itu semua mata warga Ubud dan turis tertuju ke bade setinggi 28 meter ini. Butuh waktu 3 bulan lamanya untuk membangun. Bade ini akan digunakan sebagai wadah untuk mengarak jenazah Sang Cokorda ke tempat pelebon yang terakhir yang berjarak kurang lebih 1 kilometer dari halaman puri.
Selain itu ada bade yang lebih pendek yang ditemani 2 ekor lembu setinggi 4 meter. Hari itu seluruh masyarakat Ubud berhenti melakukan kegiatan. Jalan utama ditutup berganti dengan ribuan warga yang tumpah di Jalan Sueta menjadi jalur arak - arakan jenazah.
Pemandangan seperti ini sangat langka, bisa 10 tahun lagi atau bahkan lebih untuk merasakan suasana semacam ini. Selain jenazah Cokorda Gede Agung Suasa, upacara Ngaben kali ini juga mengkremasi jenazah Cokorda Gede Raka yang juga anggota keluarga dari Puri Ubud.
Patung naga yang bernama Naga Banda akan mengiringi jenazah ke tempat kremasian. Sulit mempercayai kalau upacara ini adalah upacara kematian. Pihak keluarga mengundang sejumlah tamu penting termasuk keraton yang ada diseluruh nusantara.
Dan keraton Solo misalnya mengirim utusan khusus yang berpaket khas, sehingga pemandangan menjadi menarik. Mereka memberikan penghormatan terakhir bagi sang pemimpin Ubud. Kendati ia sudah lama tutup usia. Yang menarik adalah melihat kesibukan pihak keluarga maupun warga dari 4 banjar (desa).
Mereka meninggalkan pekerjaannya dan bahu membahu membawa perangkat upacara seperti bebantenan dan sesajen. Menjelang tengah hari barulah Sang Naga bergerak. Tidak mudah mengeluarkan dari pintu Puri, belum lagi tali mengurai yang dililitkan ke petijenazah.
Ini baru sebuah prosesi awal pemindahan jenazah kedalam bade. Kain putih adalah jalan yang akan dilewati kedua jenazah sebelum ditempatkan kedalam bade. Melewati tengah hari barulah jenazah diangkat.
Jenazah ditempatkan di bade masing - masing. Jenazah Cokorda Gede Agung Suyase yang meninggal bulan Maret lalu langsung diusung menuju bade utama setinggi 28 meter. Untuk membawanya diperlukan tangga setinggi 18 meter.
Cokorda Gede Rakes Kowati kini menemani sang ayah untuk melangkah pengabegan karena ia adalah seorang pedanda yang diuji kesaktiannya harus memanahsang naga. Barulah kemudian arakan dimulai. Dan bade ini kabarnya tidak akan bergerak tanpa bantuan 1200 makhluk halus yang diundang untuk membantu. Percaya atau tidak.
Ngaben menyita perhatian ribuan orang sehingga bade sulit menembusnya. Perjalanan sepanjang satu kilometer menuju lokasi kremasi harus ditempuh 2 jam lamanya. Inilah lokasi Setra. Dua lembu diusung naik setinggi 2 meter, lembu akan menjadi wadah yang menampung jasad yang dibakar.
Segmen 3
Prosesi upacara Ngaben sangat panjang. Biasanya karena ada upacara memanjatkan doa. Api untuk membakar jasad sang raja sudah menyala dan suasana berubah hening. Api membakar habis naga dan lembu dan membawanya ke angkasa. Prosesi kremasi dilanjutkan dengan api yang disemburkan dari kompor.
Prosesi kremasi kedua jenazah ini hingga selesai memakan waktu yang cukup lama. Inilah abu dan tulang dari jasad sang pemimpin Cokorda Gede Suyasa dan keluarganya Cokorda Gede Raka. Sebagian serpihan tulang kedua jasad ini disusun kembali untuk prosesi selanjutnya.
Dan malam ini juga pihak keluarga akan melarung sisa tubuh pemimpin Puri Agung Ubud ini ke laut di pantai Sanur. Malam itu suasana pantai Sanur berbeda, tidak ada keramaian wisatawan. Cokorda Gede Rake Sukowati akan melarungnya ke laut dan laut adalah unsur air setelah api.
Sang pemimpin akan disemayamkan selama dua minggu lebih dan menurut kepercayaan rohnya akan dipanggil kembali lalu dibawa ke puri, rumah keluarga besarnya.
Rabu siang keluarga Pure masih melanjutkan pembakaran sisa bade yang masih menjulang tinggi. Perhelatan akbar yang disiapkan selama berbulan-bulan dengan biaya yang tidak sedikit habis hanya dalam hitungan jam.
Sekitar 8000 batang bambu, ratusan meter kain berubah menjadi asap, tapi begitulah Bali, bagi keluarga Puri Ubud, baik waktu, biaya serta tenaga tidak ada nilainya dengan bakti mereka terhadap tokoh dan pemimpin. Bagi mereka kerja keras bukan untuk kehidupan saat ini, melainkan masa yang akan datang. (Sup/Dv)