Reporter : Ahmad Faizalindosiar.com, Solo - Tidak banyak kota bersejarah di Indonesia. Salah satu kota itu adalah Solo atau Surakarta. Bukan hanya keraton yang pengaruhnya yang masih terasa, namun banyak hal di kota ini yang bisa dinikmati. Mulai dari makanan, peninggalan masa lampau hingga ritus tua yang mentradisi.
Kota Solo tidak terlalu luas sekitar 40 kilometer persegi, sedikit lebih luas dengan Yogyakarta. Sebagian peninggalan sejarah ini masih ada. Jalur rel kereta api ini usianya sudah ratusan tahun dan akan membawa Anda kesejumlah obyek wisata dikota ini.
Dan inilah lokasi pertama, Museum Batik Kuno di Jalan Slamet Riyadi, Solo. Dahulunya museum ini pernah menjadi kediaman keluarga Kasunanan Surakarta. Museum ini memiliki koleksi sekitar 10 ribu lembar kain batik yang terdiri dari 9 jenis. Ada yang dari Belanda, Cina hingga India.
Tidak hanya itu pengelola museum juga melarang penggunaan pengharum ruangan yang terbuat dari bahan kimia dan menggantikan dengan pengharum ruangan alami yang berasal dari bunga. Berkunjung bisa melihat langsung bagaimana pembuatan batik itu sendiri.
Lebih dari 30 pekerja dikerahkan per hari untuk membuat batik, baik itu batik tulis, cat maupun batik kombinasi. Ternyata tidak mudah dan memerlukan ketelitian dan kecermatan karena memiliki beragam motif.
Dan ini adalah Museum Radya Pustaka. Museum ini didirikan masa pemerintahan Raja Pakubuwono lalu seluruh koleksi ini dipindahkan ke gedung ini di Jalan Slamet Riyadi tahun 1913. Museum ini dahulu menjadi tempat penyimpanan buku dan benda - benda berharga milik Raja Surakarta.
Koleksi di museum ini sudah berumur ratusan tahun, seperti keramik, wayang, arca, mata uang kuno hingga prasasti.
Dan ini 6 arca yang beberapa waktu lalu sempat menghebohkan karena dipalsukan, dicuri dan diperjual belikan. Tidak adanya camera pengintai (CCTV) adalah salah satu lemahnya perawat dan menjaga seluruh koleksi disini. Itulah koleksi benda kuno di Museum Radya Pustaka cerminan dari sejarah bangsa yang tentunya harus dijaga dengan baik.
Surga Penggila Makanan
Gladak Langen Bogan atau disingkat Galabo mulai ramai menjelang sore. Setiap pukul lima ratusan pedagang makanan mulai menggelar dagangan mereka di Jalan Slamet Riyadi sepanjang 2 kilometer.
Ditempat ini Anda akan menemukan keaneka-ragaman makanan Indonesia. Ada lebih dari 100 jenis sebagian khas Solo warisan mbah buyut yang merupakan harta.
Galabo seharusnya sudah lama berdiri daripada di Wong Solo, penggila makanan. Saya coba salah satu satu makanan bernama garang asem yang terdiri dari nasi, ayam goreng, tempe. Pada hari libur ratusan pengunjung memadati tempat yang baru diresmikan 4 bulan yang lalu ini. Sebagian datang dari daerah lain untuk mencoba sesuatu yang baru.
Buat masyarakat Solo Galabo ini menjadi tempat baru untuk menghabiskan waktu libur mereka dan bagi wisatawan setidaknya ada pilihan lain, selain Yogya dengan Malioboro.
Joko Widodo Walikota Solo mencoba menarik para pedagang kaki lima yang berdagang dengan semrawut , sehingga merusak keindahan kotanya. Dan Solo saat ini memang sedang merubah, sebuah kota tua dan bersejarah yang mencoba meremajakan dirinya.
Sejak lama Solo memang tidak sehebat Yogyakarta dalam menarik wisatawan. Kita lihat saja bagaimana kota ini berbenah dan berlomba menjaring wisatawan lokal maupun mancanegara, tetapi Solo tetap kota yang sebagian masyarakatnya masih hidup dengan tradisi lama dan mencoba bertahan.
Ritual dan Menjaga Tradisi
Bangunan keraton ini adalah saksi dari kebesaran Solo pada masa lalu dan menjadi pusat kebudayaan Jawa yang melahirkan banyak tokoh bersejarah.
Keraton ini usianya 263 tahun. Seusia itu pula kota Solo. Oleh karena itu tidak heran, sebagian tradisi lama masih bertahan dan hidup di tengah masyarakat.
Salah satu adalah tradisi ruwatan atau labuhan. Ruwatan artinya membuang sial dan bahkan dipercaya bisa memperlancar kesuksesan seseorang. Di Solo anda akan menemukan banyak tradisi yang berbau animisme dan jawa ini.
Telur, buah-buahan hingga kepala kerbau adalah sesaji yang harus selalu ada dalam setiap ruwatan. Dua wayang kulit ini adalah simbol kebaikan dan kejahatan. Diserahkannya kedua wayang ini tanda dimulainya ruwatan.
Bagi sebagian masyarakat Jawa, ruwatan begitu penting dan sakral. Meruwat sampai sekarang masih banyak dilakukan sebagian masyarakat Jawa baik oleh kalangan bawah hingga atas, tradisi ini mengatasi segala perbedaan.
Dan bagi masyarakat Jawa, kebaikan suatu saat akan selalu menang melawan kejahatan kendati tidak mudah.
Dan lepasnya burung merpati adalah tanda kejahatan akan hilang selamanya dan pihak yang diruwat kembali menjadi suci. Usai ruwatan ada prosesi lanjutan yakni labuhan atau memberi sedekah kepada laut atau sungai.
Dan sesaji tetap diperlukan, sebagai persembahan kepada Sang Maha Kuasa di Sungai Bengawan Solo, sungai terpanjang di tanah Jawa. Sesaji ternyata lebih dinikmati masyarakat yang sudah lama menunggunya, ada berkah tersendiri buat mereka, bila bisa merasakan persembahan buat Yang Maha Kuasa.
Ruwatan memang kerap menimbulkan silang pendapat, ada yang setuju ada yang tidak. Mereka yang tidak sepaham mengatakan bertentangan dengan ajaran agama yang dianut.
Terlepas dari soal perbedaan pendapat yang ada ruwatan dan larung sesaji ini adalah atraksi yang menarik bila kita mengemasnya dan menjadikan sebagai bagian dari Solo yang saat ini sedang meremajakannya. (Sup/Dv)