indosiar.com, Manado - Jenazah Pendeta Frans Koagouw dan isterinya yang tewas dibunuh akhir pekan lalu Senin (27/4/09) petang, dimakamkan setelah disemayamkan dirumah duka. Prosesi pemakaman jenazah diwarnai tangis duka keluarga dan kerabat, sedangkan motif dan pelaku pembunuhan masih dalam penyelidikan polisi.
Keluarga dan kedua putra Pendeta Frans Koagouw dan isterinya diliputi duka mendalam. Sejumlah anggota jemaat Gereja GPDI yang ngelayat dirumah duka ikut larut dalam kesedihan. Usai prosesi ibadah dan doa - doa pujian, jenazah pendeta korban pembunuhan ini kemudian dibawa ke pemakaman umum Malalayang tidak jauh dari kediaman korban.
Peti jenazah Pendeta Frans Koagouw dan isterinya Femmy dimakamkan dalam 1 lubang kubur yang sama. Di mata kerabat dan jemaat tempat korban mengabdi sebagai pendeta, keduanya adalah sosok panutan dan ditemui suka bergaul tanpa memandang status usia.
Pembunuhan Pendeta Frans Koagouw dan isterinya Femmy ini terjadi Sabtu lalu. Keduanya ditemukan didalam rumah Pasturi atau rumah khusus Pendeta yang didirikan disamping gereja tempat keduanya mengabdi. Frans tewas dengan luka tebasan dileher hingga nyaris putus, sedangkan isterinya Femmy yang menderita lumpuh ikut jadi sasaran pembantaian dengan tubuh penuh luka.
Ada dugaan pembunuhan sadis ini bermotif dendam yang dilatarbelakangi masalah sengketa tanah. Pasalnya sebelumnya korban berdebat sengketa dengan jemaat sebuah gereja yang bermuara ke pengadilan dan kasusnya dimenangkan korban.
Selain diduga bermotif sengketa tanah, ada pula dugaan pembunuhan ini terkait masalah warisan keluarga. Kepolisian Poltabes Manado masih melakukan penyelidikan terkait kasus ini. Guna mengungkap motif maupun pelaku pembunuhan sadis itu, aparat kepolisian kota Manado telah membentuk tim khusus dan memeriksa sejumlah kerabat dekat korban serta sejumlah jemaat Gereja Pantekosta Petra Malalayang, Manado. (Alamsyah Djohan/Dv).