13-Feb-2008 13:17:43 WIB
RESENSI
Melahirkan Petinju Profesional Dari Televisi
[ Tayang: 1-Jan-1970 07:00 WIB ]



 
Oleh : Fachri Siradz
 
Pertandingan olahraga akan selalu menarik disaksikan, apapun cabang olahraga yang dipertandingkan, entah itu sepakbola, bulutangkis, tenis hingga cabang-cabang atletik. Sejarah pertandingan olahraga itu hampir sama tua dengan sejarah manusia sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari Anda mungkin sering melihat bagaimana para penggemar olahraga berbondong-bondong ke arena pertandingan untuk menyaksikan atlet kesayangan mereka bertanding. 

Jika dulu para penonton harus datang secara fisik ke arena pertandingan olahraga, kini berkat kemajuan teknologi para penonton cukup menyaksikannya di rumah. Apalagi jika bukan melalui televisi. Rasanya hampir tidak ada satupun stasiun televisi di dunia ini tidak menayangkan even-even olahraga, begitupula di Indonesia. Beraneka ragam pertandingan olahraga yang dipertunjukkan di layar kaca Indonesia, namun yang sangat populer tentu saja adalah sepakbola, bulutangkis dan tinju.

Bicara tentang tinju, olahraga yang tergolong keras itu mempunyai tempat tersendiri di kalangan masyarakat Indonesia. Orang-orang Indonesia yang mengalami masa 1970-an hingga awal 1980-an tentu masih ingat bahwa roda kehidupan seolah-olah mendadak berhenti berputar ketika pertandingan tinju profesional yang memperebutkan gelar juara dunia kelas berat oleh petinju legendaris Muhammad Ali ditayangkan di televisi.

Malah sekolah-sekolah saat itu sempat diliburkan hanya untuk memberi kesempatan para murid menyaksikan pertandingan tinju Muhammad Ali yang berasal dari Amerika Serikat itu. Para pegawai pemerintah dan swasta pun ramai-ramai menyaksikan melalui televisi di kantor mereka. Popularitas Ali saat itu memang luar biasa dan tetap dihormati bangsa Indonesia hingga kini. Ali sendiri pernah melakukan pertandingan tinju kelas berat tanpa gelar melawan Rudi Lubbers di Istora Senayan, Jakarta pada 20 Oktober 1973.

Bagaimana dengan petinju-petinju dari Indonesia sendiri? Walau tinju sebagai olaharaga modern telah dikenal di Indonesia pada zaman penjajahan Belanda, even-even pertandingan tinju yang diselenggarakan hingga tahun 1970 adalah even tinju amatir seperti Kejuaraan Tinju Amatir Indonesia pertama pada tahun 1959 yang diselenggarakan oleh PERTINA (Persatuan Tinju Amatir Nasional). Petinju-petinju amatir sebelum tahun 1970-an yang cukup dikenal antara lain Frans Soplanit (kelas bantam) dan Paruhum Siregar (kelas berat ringan) yang masing-masing meraih medali perak Asian Games pada tahun 1962 di Jakarta.

Petinju amatir Indonesia yang paling terkenal siapa lagi kalau bukan Syamsul Anwar Harahap. Petinju amatir yang memulai kariernya pada tahun 1969 itu telah meraih berbagai prestasi nasional maupun internasional seperti Medali Emas Pesta Sukan Singapura 1971 dan 1975, Juara Pesta Sukan Asia di Yokohama, Jepang (1975) dan  Karachi, India 1977. Kini mantan petinju yang meraih gelar olahragawan terbaik Indonesia tahun 1977 adalah komentator, pengamat tinju di berbagai media Indonesia dan belakangan berkiprah pula sebagai promotor tinju.

Dunia tinju profesional di Indonesia sendiri baru bermula pada tahun 1970 dengan berdirinya IBC (Indonesian Boxing Commission), yang kemudian berubah menjadi KTI (Komisi Tinju Indonesia). Tercatat petinju pro Indonesia pertama yang meraih gelar internasional adalah Wongsosuseno yang menyabet gelar juara kelas welter ringan OPBF tahun 1975. Pada dekade 1980-an muncul petinju pro yang mengharumkan nama Indonesia di gelangang tinju dunia, Ellyas Pical yang berhasil merebut gelar juara dunia kelas bantam junior versi IBF pada tahun 1985. Masa kejayaan Ellyas Pical berlangsung dari 1985 hingga 1989.

Petinju Nico Thomas pada tahun 1989 berusaha menyusul Pical dengan merebut gelar juara dunia kelas terbang mini versi IBF, namun sayangnya gelar tersebut hanya bertahan selama 3 bulan. Dengan belum munculnya para petinju pro yang mampu menyamai mereka maka tidak heran jika dunia tinju profesional di Indonesia terpuruk di tempat hingga beberapa tahun berikutnya. Di masa keterpurukan itu, penggemar tinju hanya bisa menyaksikan tayangan-tayangan televisi yang mengetengahkan gelar tinju pro dari luar negeri seperti pertandingan kelas berat Mike Tyson atau kelas menengah Oscar de la Hoya.

Even-even pertandingan tinju pro saat itu kurang diminati oleh para sponsor karena dianggap tidak memberikan keuntungan, apalagi pada saat ketiadaan petinju pro seperti Pical yang bisa dijadikan tambang emas. Dalam sebuah harian pada tahun 2004, Syamsul Anwar Harahap mengatakan bahwa keterpurukan dunia tinju pro itu lantaran kurangnya kerjasama antara dua unsur penting yaitu promotor dan sponsor. Menurutnya pula bahwa dunia tinju pro mustahil melahirkan juara dunia berkualitas tanpa ada dukungan solid dari kedua unsur ini padahal sebenarnya potensi tinju di Tanah Air sangat tinggi.

Keadaan itupun diperparah adanya organisasi tinju yang saling gontok-gontokan seperti konflik antara KTI dan organisasi tinju yang belakangan berdiri, ATI (Asosiasi Tinju Indonesia) lantaran sibuk memikirkan kepentingan masing-masing. Menurut Syamsul pula bahwa dunia usaha juga perlu didorong untuk membantu perkembangan dunia tinju pro Indonesia. Oleh karena itu, sekalipun tinju pro adalah lahan bisnis, harus ada mesin pendorong dalam hal ini pengusaha yang peduli terhadap tinju pro.

Sebenarnya pihak-pihak yang berkepentingan di dunia tinju pro pun tidak tinggal diam, namun sukar menemukan jalan keluar untuk mengatasinya. Ternyata seorang promotor tinju terkemuka Indonesia yang bernama Daniel Bahari berhasil menemukan sebuah gagasan unik yang mungkin belum pernah terdengar di dunia tinju pro. Keunikan gagasan Daniel Bahari demi menghidupkan kembali dunia tinju pro itu terletak pada ide yang melibatkan sponsor dari industri media massa yaitu televisi sebagai penyelenggara even tinju pro. 

Ternyata gagasan tersebut mendapat tanggapan bagus dari Indosiar yang memang punya misi tidak hanya untuk mendapatkan keuntungan materi, namun juga punya misi sosial sesuai slogannya Indosiar Memang Untuk Anda. Pada tahun 1997, untuk pertamakali pertandingan tinju pro yang disiarkan langsung dari Indosiar di studionya, yaitu Gelar Tinju Profesional Indosiar (GTPI) mulai mengudara. Pada awalnya GTPI yang tidak hanya sebagai tayangan televisi, juga sebagai wadah pertandingan tinju pro itu sulit mendapatkan sponsor dan juga iklan, apalagi saat itu badai krisis moneter sedang berlangsung.

Namun seiring waktu, rating GTPI pun menanjak dan berhasil menarik para sponsor dan iklan walau ditayangkan di jam larut malam. Para penggemar tinju tidak hanya bisa menyaksikan melalui layar kaca, namun juga bisa menyaksikan secara langsung di studio Indosiar.
GTPI yang dipandu Undang itu juga tidak hanya untuk memuaskan segmen pemirsa televisi yang menggemari olahraga tersebut, namun juga sebagai media pencari bibit-bibit petinju pro yang kiranya bisa berprestasi tidak hanya di tingkat nasional, melainkan juga internasional. Tidak hanya itu, pemirsa juga bisa mendengar ulasan dari komentator tinju yang juga mantan petinju, Syamsul Anwar Harahap.

Melihat kesuksesan GTPI itu, stasiun-stasiun televisi pun tidak mau ketinggalan mengekori jejak Indosiar untuk menyelenggarakan gelar tinju pro. Nah, Indosiar patut berbangga karena menjadi pelopor sebagai penyelenggara dan penayang gelar tinju pro. Tidak hanya itu, dari GTPI pun bayaran untuk para petinju yang bertarung pun naik sehingga kesejahteraan mereka lebih baik daripada sebelumnya. Sebagai media pembibit petinju berprestasi, GTPI telah melahirkan petinju yang kelak menjadi petinju kelas dunia, siapa lagi kalau bukan Johannes Christian John alias Chrisjohn.

Petinju kelahiran 1979 yang mulai menyandang gelar juara dunia kelas bulu versi WBA sejak November 2003 ini telah mempertahankan gelarnya sembilan kali berturut-turut. Pertandingan terakhirnya dimenangkan dengan TKO atas Roinet Caballero, penantang nomor satu dari Panama pada 26 Januari 2008 lalu. Chrisjohn yang belum pernah kalah itu tidak hanya menarik di atas kanvas, namun juga menjadi bintang iklan seperti iklan minuman energi dan bintang kampanye anti HIV. Bahkan di dunia kerja Chrisjohn juga mampu menjadi motivator untuk karyawan swasta.

Indosiar tidak hanya pelopor sebagai penyelenggara gelar tinju pro, namun dapat berbangga karena telah melahirkan petinju kelas dunia. Sebagai komitmen terhadap dunia tinju Indonesia, Indosiar tetap menyelenggarakan GTPI yang ditayangkan langsung dari studionya setiap Senin tengah malam. Diharapkan Gelar Tinju Profesional Indosiar akan melahirkan petinju-petinju pro yang bisa mengikuti jejak Chrisjohn. Semoga.

****


* Gelar Tinju Dunia

Nama:
Email:

More RESENSI:
[ more Resensi ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :