Oleh: Fachri Siradz
Perkembangan blog sebagai salah satu aplikasi web yang menjadi wadah bagi pengguna internet untuk menuangkan segala macam topik seperti catatan harian, keluhan, curahan hati, opini, komentar, cerita, hingga artikel ilmiah dalam bentuk tulisan yang di-posting di halaman web internet di dunia ini semakin pesat. Berdasarkan ragam topik itu, tidak heran jika blog yang berjamuran di internet pun diklasifikasikan seperti blog politik, agama, sastra, pribadi, kesehatan hingga blog tips.
Pesatnya perkembangan blog di internet didukung oleh makin banyaknya layanan blog gratis yang tersedia diantaranya oleh Google, Wordpress, Blogfam hingga layanan blog lokal Indonesia seperti Blog Gaul (Blog Indosiar.com) yang disediakan oleh situs Indosiar.com milik stasiun televisi Indosiar. Para Pengguna blog pun datang dari berbagai latar belakang yang berbeda dan memanfaatkan blognya dengan maksud dan tujuan yang mungkin berbeda satu sama lain seperti yang disebutkan di atas.
Pada tahun 2005, muncul sebuah tren baru dalam dunia blog yang berkembang, yaitu blog korporat. Ada dua pengertian tentang blog korporat ini, dapat diartikan adalah blog yang tidak masuk dalam struktur korporasi namun dimiliki para individu yang bekerja pada sebuah perusahaan (sering disebut sebagai korporat yang blogging) atau sebuah blog yang dikelola secara resmi oleh perusahaan (sebagai bagian dari struktur korporasi).
Pada dasarnya dua definisi blog korporat yang berbeda itu mempunyai tujuan yang sama yaitu sebagai alat komunikasi yang menyampaikan berbagai informasi secara internal maupun eksternal tentang perusahaan yang diizinkan untuk diinformasikan di internet. Tentu saja ada tipe blog korporat internal yang hanya beredar dalam lingkungan perusahaan karena hanya dapat diakses melalui jaringan intranet, bukan internet. Namun di sini akan dibahas blog korporat yang beredar di internet sehingga dapat diakses oleh siapapun yang mengunjungi internet.
Tren blog korporat yang dipelopori oleh perusahan-perusahan papan atas dunia yang masuk ke dalam 500 perusahaan besar versi Forbes seperti Microsoft, General Motor Corp, IBM, Sun Microsystem, Walmart, McDonald's, Nike dan sebagainya karena para perusahaan tersebut bisa melihat efektivitas blog korporat sebagai sarana media komunikasi online untuk menjaring potential customer, loyal customer, branding, bahkan blog dapat juga digunakan untuk media “merehabilitasi” suatu produk tertentu yang sedang mengalami rumor negatif.
Bicara tentang rumor atau isyu negatif yang merugikan perusahaan ternyata bisa dijawab oleh blog korporat secara efektif seperti dapat dilihat pada contoh pengalaman yang pernah dialami perusahaan produsen kendaraan bermotor terkemuka Amerika Serikat, General Motor Corp (GM) pada tahun 2005. Saat itu muncul spekulasi GM menghentikan produksi mobil yang bermerek Pontiac dan Buick, pihak perusahaan tersebut melalui Vice Chairman perusahaan tersebut, Bob Lutz tidak melakukan bantahan melalui surat atau telepon, melainkan menulisnya dalam blog perusahaannya.
Melalui blognya dalam GM's Fast Lane yang memang sengaja dibuat pada Januari tahun 2005 lantaran peliputan media massa terhadap industri mobil sering membuat buruk image General Motor dan apapun yang dikatakannya sering dikutip di luar konteks, Lutz yakin mampu menyampaikan apa yang ingin dikatakan perusahaannya pada pihak lain yang berkepentingan seperti dealer dan pelanggan yang khawatir produksi Pontiac dan Buick dihentikan.
Dengan kata lain, jawaban atas kekhawatiran para dealer atau pelanggan bisa disampaikan pihak GM tanpa takut terjadi distorsi atas informasi jika disampaikan melalui media lain seperti media massa tradisional karena adanya bias atau kepentingan berbeda oleh media massa bersangkutan.
Menurut data terakhir yang berdasarkan riset JupiterResearch tahun 2006, jumlah blog korporat yang dimiliki perusahaan-perusahaan versi Forbes 500 yang telah mencapai 5,8% sedangkan jumlah perusahaan Forbes 500 lainnya yang berencana mengadopsi blog diperkirakan akan mencapai 34 persen dari keseluruhannya. Bahkan jumlah tersebut diprediksi akan mencapai dua kali lipat pada tahun-tahun berikutnya.
Maka tidak heran jika melihat efektivitas dan eksistensi blog korporat telah menjadi kebutuhan bagi banyak perusahaan sebagai komponen penunjang dalam pemasaran untuk mendorong bisnis mereka berekspansi lebih jauh, meningkatkan awaraness produk dan mendorong loyalitas konsumen tanpa harus melalui media tradisional seperti biasanya.
Bagaimana dengan Indonesia? Berbicara soal urgensinya blog korporat di internet bagi kalangan korporasi di Indonesia tampaknya masih belum merupakan keharusan. Malah sebagian perusahaan Indonesia menganggap adanya blog korporat justru bakal menganggu kredibilitas perusahaan seperti telah terungkap dalam sebuah seminar Corporate Blogging yang diselenggarakan oleh Koran Tempo pada 18 Februari 2008 lalu.
Menurut seorang pembicara dalam seminar tersebut, Nukman Luthfie yang juga pimpinan perusahaan dotcom terkemuka Indonesia Virtual Consulting, walau tahu banyaknya keuntungan dari membangun blog korporat, kebanyakan perusahaan Indonesia masih ketakutan mendapatkan kecaman, keluhan, atau komentar-komentar negatif yang bisa mencoreng citra perusahaan. Apalagi jika keluhan itu terpampang di blog korporat dan bisa dilihat oleh konsumen sejagad.
Pembicara lainnya, seorang ekspatriat asal Malaysia yang bekerja pada sebuah perusahaan konsultan PR Maverick, Ong Hock Chuan yang juga blogger, mengatakan bahwa Indonesia walau barangkali sudah siap untuk blog korporat yang spesifik penggunaannya seperti manajemen krisis, namun belum siap untuk blog korporat yang bertujuan sebagai alat pemasaran (marketing tool) karena tingkat penetrasi internet di Indonesia masih rendah.
Selain itu, menurutnya juga bahwa faktanya kebanyakan korporasi Indonesia belum siap menggunakan blog korporat selama beberapa waktu hingga mereka siap masuk ke dalam kultur keterbukaan yang memang dituntut oleh dunia blog. Karena adanya kultur keterbukaan (transparansi) dalam dunia blog, perusahaan-perusahaan itu harus siap menghadapi publik termasuk menghadapi beragam reaksi seperti keluhan atau kecaman.
Nukman memandang bahwa untuk menjawab ketakutan kebanyakan perusahaan Indonesia atas rusaknya kredibilitas jika memiliki blog korporat, paradigma yang dimiliki mereka harus dirubah. Karena pada dasarnya produk atau jasa yang 100% sempurna dan memuaskan pelanggan itu tidak ada, maka akan selalu ada pelanggan yang tidak puas dan menyampaikan ketidakpuasannya melalui berbagai saluran, salah satunya adalah blog.
Nah, untuk mengantisipasinya, seharusnya perusahaan itu punya sebuah paradigma sebagai perusahaan yang mau mendengarkan masukan atau keluhan pelanggan demi peningkatan mutu produk perusahaan tersebut. Oleh karena itu, blog korporat tidak seharusnya ditakuti karena memiliki manfaat yang jauh lebih besar seperti yang telah disebutkan di atas.
Jika sebuah perusahaan Indonesia ingin membuat sebuah blog korporat, tentu saja harus diperhatikan beberapa hal. Seperti halnya yang pernah diperingatkan Steven Rubel, wakil presiden perusahaan humas New York, CooperKatz & Co. pada tahun 2005 bahwa pembaca blog akan mudah melihat ketidakjujuran sebuah blog korporat. Menurut Rubel korporat jangan sampai membuat blog palsu yang kerjanya menyembunyikan fakta sebenarnya karena blog hanya bisa digunakan seperti tujuannya yaitu transparansi.
Blog-blog palsu korporat yang beredar di internet suka membuat kesal pengunjungnya lantaran hanya kamufalse dari iklan internet belaka, bukannya memberi informasi apa adanya. Termasuk pula blog yang hanya berisi pernyataan resmi belaka. Kata Rubel pula, transparansi memang penting namun korporat yang ingin blogging harus membuat aturan main lebih dulu agar tidak terjadi masalah di kemudian hari antara lain bocornya rahasia penting perusahaan. Seperti halnya kasus mantan karyawan Google, Mark Jen yang dipecat lantaran membocorkan kehidupannya di perusahaan tersebut yang tidak diizinkan untuk diumumkan.
Jika memperhatikan hal-hal tersebut di atas, blogging bagi korporat di Indonesia adalah alat bagus untuk meningkatkan profil perusahaan. Hingga kini baru diketahui bahwa baru dua perusahaan Indonesia yang mengadopsi blog korporat sebagai bagian dari perusahaannya, yaitu PR Maverick dan Virtual Consulting. kini tinggal pertanyaan siapkah dunia korporasi Indonesia mengikuti jejak mereka?
Karena jika tidak, maka korporasi Indonesia akan tertinggal jauh dari para perusahaan internasional dalam memanfaatkan blog sebagai bagian bisnisnya. Apalagi ada beberapa perusahaan besar dunia telah melangkah lebih jauh dengan berani memasukkan pelaku/penulis blog korporat sebagai struktur perusahaan. Seperti yang dilakukan oleh perusahan kamera terkemuka Eastman Kodak Company yang mengangkat Jennifer Cisney sebagai Chief Blogger, sebuah jabatan struktur perusahaan yang tergolong baru bagi dunia korporasi pada 3 April 2008 lalu.
Munculnya ada semangat dan minat para perusahaan Indonesia untuk mengenal, bahkan membuat blog korporat walau ada beberapa kendala seperti yang terungkap dalam seminar Corporate Blog yang disebutkan di atas, mudah-mudahan akan menjadi awal baik untuk gelombang blog korporat di Indonesia. Semoga.
***
Berbagai Sumber.