
Acara tersebut selain untuk memeriahkan perayaan hari ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke 62, juga bertujuan untuk memacu kepercayaan diri para tuna netra.
Sebelum mengikuti pendakian massal, 20 tuna netra dari berbagai daerah di Yogyakarta dan Jawa Tengah ini berkumpul di rumah Mbah Marijan, juru kunci Gunung Merapi di Dusun Kinahrejo, Umbul Harjo, Cangkringan.
Mereka mendapatkan pembekalan dari pihak panitia dan para pencinta alam yang sudah berpengalaman mendaki Gunung Merapi. Diantaranya melakukan senam pemanasan agar kaki mereka tidak mengalami keram saat dalam pejalanan pendakian.
Setelah segala persiapan dianggap selesai, Mbah Maridjan kemudian melepas para tuna netra ini mendaki Gunung Merapi melalui jalur yang biasa dipakai untuk proses labuhan.
Tentu saja meski baru pertama kali mengikuti kegiatan pendakian, namun mereka sangat senang, karena hal ini dapat memacu kepercayaan diri dan keterbatasan pengelihatan bukan menjadi penghalang bagi seseorang untuk maju dan berprestasi.
"Ya kita persiapkan pertama kali adalah dari segi fisik (sehat) dan siap mental, selain itu juga alat-alat apa yang akan dibawa saat melakukan pendakian" ujar Triyanto, tuna netra asal Sukoharjo, Jawa Tengah.
Dalam perjalanan menuju puncak Gunung Merapi, para tuna netra ini didampingi oleh para pencinta alam yang sudah biasa mendaki gunung.
Hal ini mengingat para peserta hanya mengandalkan bantuan tongkat sebagai petunjuk jalan, terlebih lagi jalur pendakian yang dilalui cukup sulit dan terjal. (Sudaryono/Sup)