HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Gendang Beleq, Si Gendang Besar



Reporter : Tingka Adiati
Kamerawan : Rudi Asmoro

indosiar.com, Lombok - Bunyi gendang yang bertalu-talu, mewarnai keseharian hidup di Pulau Lombok. Inilah kesenian gendang beleq, yang menjadi ciri khas Pulau Lombok, sebuah pulau yang menjadi bagian dari provinsi Nusa Tenggara Barat.

Lombok, sebuah pulau seluas 4.700 kilometer persegi, terletak tepat di sebelah timur Pulau Bali. Pulau ini merupakan satu dari dua pulau utama, yang membentuk provinsi Nusa Tenggara Barat. Keindahan alamnya merupakan bagian dari pesona Lombok.

Namun Lombok tidak hanya menawarkan panorama. Pulau ini juga memiliki kesenian yang amat atraktif, yaitu gendang beleq, yang artinya gendang besar. Inilah kesenian yang menjadi ciri khas Lombok, dan mewarnai keseharian masyarakat di pulau tersebut.

Sebagaimana sebuah kesenian musik tradisional, gendang beleq pun memiliki makna yang dalam. Sejak pembuatannya yang diawali dari melubangi kayu, sejumlah sesaji dan doa telah dipanjatkan.

Tidak sembarang kayu bisa dijadikan gendang beleq. Pada umumnya, kayu yang dicari adalah yang ringan namun kuat. Selain itu, kayu yang diambil adalah yang umurnya telah lima tahun, sebab kayu lebih kering. Selesai dipotong dan dilubangi, kayu dipasangi penjangke atau penahan. Ini merupakan alat besi bundar, yang berguna untuk menjaga kayu agar tidak berubah. Tanpa penahan, kayu dapat berubah bentuk, akibat panas.

Kayu juga digores dengan gergaji. Air akan keluar dari goresan tersebut, sehingga kayu tidak pecah. setelah itu, barulah ia dijemur. Kulit kambing sebagai bahan gendang pun, tidak sembarang diambil. Yang bagus adalah yang berumur setidaknya lima tahun. Kulit kambing jantan digunakan untuk gendang lanang atau lelaki.

Kulit kambing betina untuk gendang wadon atau perempuan. Kulit kambing jantan lebih kuat, dan suara yang dihasilkan pun lebih keras. Agar lunak dan mudah dilubangi, kulit kambing yang masih keras direndam dalam air dingin, sekitar 40 menit.

Ukuran gendang beleq disesuaikan dengan fungsinya. Gendang untuk tari lebih kecil daripada untuk instrumen, sebab pemainnya memukul dan menabuh gendang sambil menari. Gendang untuk tari pun lebih ringan, hanya dua kilogram. Sedangkan gendang instrumen bisa sampai lima kilogram. Gendang beleq juga dibedakan antara lelaki dan perempuan. Suara yang dihasilkan berbeda, dan inilah yang akan memunculkan bunyi gendang yang amat dinamis.

Segmen 2

Pembuatan gendang beleq telah selesai. Yang diharapkan pemain, dari kelompok manapun dia, tinggallah panggilan pentas. Sambil menunggu, latihan rutinpun dilakukan. Latihan rutin, setidaknya sekali seminggu, perlu dilakukan. Sebab gendang beleq dimainkan secara berkelompok. Sehingga keselarasan bunyi amat berperan. Sedangkan bagi pemula, dibutuhkan setidaknya tiga bulan, untuk dapat memainkannya.

Pada umumnya, dalam sebuah pementasan, gendang beleq yang dipakai hanya sepasang. Namun dalam perkembangannya, gendang yang digunakan bisa mencapai empat pasang, atau bahkan lebih. Bunyi yang dihasilkan, niscaya lebih dinamis.

Selain gendang, masih ada instrumen lain yang dimainkan, sebagai musik pengiring. Yaitu oncer yang bentuknya seperti gong, hanya saja berukuran kecil. Sebuah gong, dan sebuah petuk penyela. Selain itu, masih ada empat buah reong, dan sebuah suling. Kedua instrumen inilah yang menghasilkan melodi lagu yang dimainkan. Sedangkan instrumen yang membuat kesenian ini terdengar amat dinamis, adalah kenceng.

Musik dan gerak yang ditampilkan para pemain, layaknya pasukan prajurit yang maju ke medan perang. Ini sesuai dengan sejarah munculnya gendang beleq, sebagai musik tradisional.

Dalam perkembangannya, gendang beleq memang tidak lagi dimainkan untuk mengantar atau menyambut prajurit dari medan perang. Musik tradisional ini, dapat ditampilkan dalam kesempatan apapun. Dalam setiap acara nyongkolan, yaitu arak-arakan pengantin khas Lombok, musik tradisional ini menjadi bagian tak terpisahkan.

Dari sisi regenerasi, gendang beleq pun ternyata mampu memikat kaum muda setempat untuk mempelajarinya. Irama gendang yang dinamis, mungkin sejalan dengan derap kehidupan mereka. Saat ini setiap desa di Lombok pasti memiliki kelompok kesenian gendang beleq. Anggotanya pun didominasi kaum muda.

Melihat besarnya animo masyarakat, niscaya kesenian gendang beleq akan terus hidup, dan mampu menentang kuatnya arus budaya dari luar. Inilah saatnya, masyarakat Lombok menjaga salah satu bentuk kesenian mereka, agar tidak bernasib nelangsa seperti banyak bentuk kesenian tradisional lain, yang ditinggalkan masyarakatnya.(Idh)

Video Streaming


Bookmark and Share