indosiar.com, Palembang - Seorang pria pemilik warung rokok di kota Palembang, Sumatera Selatan, awal Desember lalu tewas bersimbah darah setelah terlibat perkelahian tak seimbang, tidak jauh dari tempatnya berdagang. Peristiwa itu sebenarnya disaksikan oleh banyak warga, namun tidak satupun yang berusaha melerai. Sampai akhirnya pedagang rokok itu jatuh tersungkur terkena tusukan.
Pada
tanggal 3 Desember lalu, sekitar 9 malam, di Jalan Kirangga Wira Sentika, Kelurahan
30 Ilir, Palembang, Sumatera Selatan, terjadi perkelahian yang tidak seimbang
antara seorang pria pemilik warung rokok Tahmid Abdil (40) dengan 3 orang pria
lainnya.
Perkelahian itu sempat disaksikan oleh banyak warga. Namun tidak satu orang pun yang berani melerainya. Akibat perkelahian tidak berimbang itu, pria pemilik warung rokok itupun langsung jatuh tersungkur bersimbah darah. Mengetahui lawannya sudah tidak berdaya, ke 3 orang pria pun melarikan diri dengan mengendarai sepeda.
Selang tidak berapa lama, pihak kepolisian Polsek Ilir Barat Dua yang lokasinya tidak jauh dari tempat kejadian perkara, langsung datang setelah mendapatkan laporan dari masyarakat.
Sementara itu mengetahui adanya perkelahian yang terjadi dengan suaminya, Nurjanah, istri korban langsung mendatangi TKP yang berada tidak jauh dari rumah mereka. Nurjanah sangat kaget dan histeris mengetahui suaminya sudah tersungkur tidak berdaya. Penangkapan terhadap para tersangka pun berlangsung sangat cepat.
Kapolsek Ilir Barat Dua yang ketika peristiwa itu terjadi sedang dalam perjalanan ke kantornya menaruh curiga, saat melihat dua pemuda mengayuh sepeda dengan cepat, dan seorang pria tua berlari dibelakang sepeda.
Dengan bantuan tim buser yang turut serta dalam penangkapan itu, ketiga tersangka itupun berhasil tertangkap tanpa banyak melakukan perlawanan. Kepada pihak kepolisian, salah satu saksi yang merupakan Reporter Jejak Kasus yang sedang bertugas di Palembang, dan sempat menyaksikan peristiwa itu membenarkan tersangka utama yaitu Slamet terlihat terlibat perkelahian dengan korban.
Bukti kesaksian itupun tidak dapat dibantah oleh para tersangka. Para tersangka ini ternyata berasal dari satu keluarga. Yakni bapak dan dua anak laki-lakinya. Pada malam itu, bapak maupun adik dari tersangka utama, hanya berniat membantu Slamet yang sedang berkelahi dengan korban.
Kepada penyidik, Slamet yang menjadi tersangka utama kasus ini mengatakan, pembunuhan itu ia lakukan karena kesal kepada korban yang pada satu bulan terakhir kerap membuat keributan di depan restoran tempatnya bekerja sebagai juru masak. Slamet juga membantah keterlibatan bapaknya Suwarno dan adiknya Tarmizi.
Slamet
Riyadi (24), mengakui perbuatan kepada pihak kepolisian. Menurut Slamet, aksinya
itu dilakukannya sebagai tindakan bela diri. Karena selama kurang lebih satu
bulan, korban sering melakukan tindakan-tindakan yang meresahkan disekitar restoran
tempatnya bekerja sebagai juru masak.
Untuk mendapatkan upah, korban sering berpindah seolah sebagai juru parkir
atau keamanan dilokasi itu. Hal itu membuat pemilik restoran akhirnya mengantisipasi
dengan membayar seseorang untuk menanggulangi sikap korban itu. Dan ternyata
hal ini menimbulkan kemarahan korban. Hingga beberapa hari sebelum peristiwa,
upaya damai sempat dilakukan. Namun korban menolaknya.
Karena merasa tidak puas, maka korbanpun mencoba mencari gara-gara dengan pegawai restoran lainnya yang dianggapnya lemah. Satu malam sebelum peristiwa itu terjadi, usai Slamet mengantar pemilik restoran yang hendak pulang, tersangka dibentak dengan kasar oleh korban. Tidak terima dengan bentakan korban, tersangka pun menasehati korban agar tidak bersikap kasar. Namun ternyata pernyataan tersangka itu semakin membuat korban emosi.
Sikap korban langsung diceritakan Slamet kepada bapak dan adiknya. Oleh sang bapak, Slamet dinasehati agar tidak meladeni korban. Apa yang ditakutkan oleh sang bapak akhirnya terbukti. Pada malam itu, saat Slamet akan pulang, korban langsung mencegat tersangka. Perdebatan pun terjadi dan berakhir dengan perkelahian.
Perkelahian itu berakhir dengan tersungkurnya korban ke tanah, setelah terkena beberapa tusukan pisau dari tersangka. Ketika korban sudah terjatuh tersungkur, tiba-tiba muncul bapak dan adiknya dan langsung turut membantu dirinya. Setelah yakin korban sudah tidak bergerak, Slamet bersama bapak dan adiknya pun langsung meninggalkan korban. Dan langsung tertangkap tidak lama kemudian oleh Kapolsek Ilir Barat Dua bersama para anggota busernya.
Korban yang tidak dapat tertolong lagi pun usai divisum langsung dibawa pulang ke rumah oleh keluarganya untuk kemudian di kubur keesokan harinya. Keluarga maupun kerabat korban sangat kaget terhadap peristiwa yang menimpa korban. Ungkapan kedukaan sangat tampak di wajah mereka.

Korban meninggalkan seorang istri, dua orang anak perempuan dan satu lagi masih dalam kandungan dengan usia 6 bulan. Istri korban Nurjanah mengatakan, korban tidak pernah mengungkapkan bila dirinya sedang memiliki masalah maupun musuh.
Oleh sebab itu, di malam peristiwa itu Nurjanah pikir itu merupakan sebuah perkelahian biasa. Nurjanah yang merupakan Pegawai Negeri Sipil mengakui, kalau suaminya memiliki sifat tempramen yang tinggi. Bahkan korban pernah beradu fisik dengan seseorang yang juga tinggal se asrama dengan mereka. Namun selama kurang lebih 8 tahun berjualan rokok dilokasi itu, suaminya tidak pernah memiliki masalah dengan siapun.
Hal
serupa juga diungkapkan oleh kakak ipar korban. Menurutnya, walaupun korban
tempramental namun juga memiliki sifat yang sangat pemaaf. Oleh sebab itu, keluarga
korban berharap agar para tersangka dihukum seberat-beratnya.
Warga, lebih-lebih istri tersangka Suwarno mengaku sangat terkejut ketika mengetahui suami dan kedua anaknya tidak kunjung pulang ke rumah, ternyata telah ditangkap polisi dengan tuduhan telah melakukan pembunuhan.
Istri dan juga ibu para tersangka, Tarmini mengatakan, suami dan kedua anaknya sejak malam itu memang tidak pulang ke rumah. Hal itu menimbulkan kekhawatiran dan kecemasannya. Jawaban atas kecemasannya baru diketahui keesokan pagi harinya. Tarmini mengungkapkan, pagi itu dirinya membaca korban dan akhirnya mengetahui penyebab ketidak pulangan suami dan kedua orang anaknya.
Dirinya sangat terkejut dan langsung pingsan. Keinginan untuk bertemu dengan suami dan kedua anaknya di Polsek Ilir Barat Dua pagi hari itu, juga tidak diijinkan oleh pihak aparat Ilir Barat Dua dengan alasan masih dalam pemeriksaan. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, menantu dan cucunya dari anaknya Slamet langsung diungsikan ke rumah kerabat.
Warga
sekitar rumah tersangka juga mengungkapkan bahwa keluarga Suwarno dikenal sebagai
keluarga yang baik-baik. Bahkan tersangka Slamet adalah pemuda yang ramah terhadap
para tetangga.
Teman-teman korban yang juga bekerja di rumah makan yang sama, walaupun tidak berani menyatakan secara langsung kepada Tim Jejak Kasus mendatangi mereka, namun secara tidak langsung mereka mengungkapkan bahwa korban memang sering menimbulkan ketidak nyamanan disekitar rumah makan. Yang mana berakibat kepada para pelanggan mereka.
Untuk mencari aman, biasanya mereka lebih memilih diam dalam menanggapi sikap korban. Pada peristiwa itu terjadi, mereka tidak mengetahuinya. Karena saat itu rumah makan tempat mereka bekerja telah tutup pada pukul 9 malam.
Kapolsek Ilir Barat Dua, Iptu Juliarman Pasaribu mengatakan, motif pembunuhan itu awalnya hanya bersifat bisnis. Karena korban yang dianggap menganggu ketenangan rumah makan itu. Namun apapun alasan para tersangka, mereka tetap dikenakan delik hukum pasal 340 pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman maksimal seumur hidup. Karena tersangka telah mempersiapkan senjata tajam untuk menghadapi ancaman korban.
Atas tindakannya itu, Slamet mengungkapkan kekhilafannya dan penyesalan yang mendalam karena turut menyeret bapak dan adiknya. Penyesalan selalu datang terlambat, dan itulah yang dirasakan oleh Slamet. Tidak hanya dia melibatkan bapak dan adiknya, namun juga hilang sudah sumber nafkah bagi keluarganya untuk hidup sehari-hari. (Sup)