HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
RAGAM

Masih Ada Hari Esok



Reporter : Ahmad Baehaqi
Juru Kamera : Joni Suryadi
Tayang: Rabu, 18 Agustus 2006, Pukul 12.00 Wib

indosiar.com, Jakarta - Wajah kuyu dan badan kurus kering semacam ini rela menunggu giliran penanganan dokter, selama berjam-jam. Memang pedih penderitaan mereka. Inilah para penderita TBC.

Tiap hari ratusan orang memenuhi Klinik Perkumpulan Pemberantasan TBC Indonesia atau PPTI Wilayah DKI Jakarta ini. Mereka datang dari wilayah Jakarta dan sekitarnya untuk berobat. Setiap tahun klinik ini melayani tidak kurang dari 4 ribu penderita TBC secara gratis.

Suasana serupa terjadi di Rumah Sakit Persahabatan Jakarta Timur. Dalam satu tahun rumah sakit ini menerima pasien baru TBC sebanyak dua ribu orang, dan meningkat sebesar 10 persen setiap tahun. Rumah sakit ini menjadi tempat rujukan penanggulangan TBC Nasional, sejak tahun 1980-an.

Wahyu Setyono, usia 24 tahun, asal Galur, Jakarta Pusat ini, adalah penderita TBC paru-paru. Dia dinyatakan positif mengidap TBC sejak seminggu lalu. Semula Wahyu tidak menyangka terjangkit kuman TBC. Dia mengira hanya terkena flu biasa.

Dengan wajah kuyu dan badan kurus kering, Wahyu dipapah saudaranya datang berobat. Kondisinya sudah parah, dia bahkan sudah sulit bicara.

Nasib sama dialami Siti, usia 40 tahun, asal Jatinegara, Jakarta Timur. Dia datang berobat dengan diantar suaminya. Kondisi kesehatannya terus menurun sejak dinyatakan positif menderita TBC setahun lalu. Paru-parunya dinyatakan rusak sebelah. Badannya pun tinggal tulang dan nyaris bungkuk.

Ibu beranak empat ini mengalami sesak nafas dan batuk. Dengan tersengal-sengal dia menjawab pertanyaan seputar kesehatan dirinya.

Penyakit TBC merupakan jenis penyakit infeksi akibat kuman Tuberkolose. Kuman ini berbentuk batang dan berkembang biak dengan membelah diri. Kuman TBC sebenarnya sudah ada di dalam tubuh manusia.

Dia akan menyerang, saat daya tahan tubuh sedang lemah. Sebaliknya bila daya tahan tubuh kuat, kuman akan tertidur selama beberapa tahun dalam jaringan tubuh. Selama kuman ini tidur tak ada obat yang dapat mematikannya.

Penyakit TBC gampang menular. Penularan yang paling mudah adalah melalui udara. Gejala awal yang timbul setelah terjangkit kuman TBC, adalah batuk berdahak melebihi tiga minggu.

Kuman akan terus menyerang daya tahan tubuh, sehingga nafsu makan berkurang. Akibatnya berat badan semakin menurun. Masa awal inkubasi kuman TBC di dalam jaringan tubuh selama dua bulan. Pengidap TBC seringkali dikucilkan. Padahal hal itu akan memperparah penyakitnya karena penderita akan malu berobat.

Untuk memberantas penyakit TBC, digunakan strategi pengobatan dots, atau pengawasan langsung menelan obat setiap hari secara terus menerus selama 6 bulan.

Strategi ini diterapkan organisasi kesehatan dunia WHO sejak tahun 1995-an. Tujuannya untuk menekan angka kematian akibat TBC di Indonesia yang mencapai 140 ribu orang pertahun.

Selain itu, sebanyak 580 ribu pengidap TBC yang masih hidup diharapkan bisa disembuhkan. Strategi ini diterapkan karena penderitanya sering tidak disiplin minum obat. Akibatnya kuman TBC menjadi kebal. Bila sudah demikian, penderita TBC akan menghadapi resiko kematian.

Berbagai strategi perlu dilakukan untuk memberantas penyakit TBC di Indonesia, karena hingga saat ini Indonesia masih menempati posisi ketiga penderita TBC terbanyak di dunia setelah India dan Cina. (Suprie)

Bookmark and Share


Page: 1
2-Feb-2010 19:14:57 WIB by Nana Supriatna, S.E
betul sekali. semoga pemerintah bisa terus memberikan pengobatan dan obat gratis buat para penderita tb
7-Nov-2006 14:20:41 WIB by yana
isi komentar Anda di sini...

 

Nama:
Email:
Security Code: