HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
RAGAM

Ada Tembakan di Taman Nasional Ujung Kulon



Reporter/Juru Kamera : Henny Murniati
Tayang: Kamis, 16 November 2006 Pukul 12.00 Wib

indosiar.com, Pandeglang
- Desa Ujung Jaya, salah satu desa di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten, Sabtu (4/11/2006) sore itu, tampak mencekam. Ratusan, bahkan ribuan warga berkumpul di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Wajah mereka sebagian terlihat tegang.

Beberapa jam sebelumnya, situasi panas berlangsung ditempat ini. Sejumlah bangunan termasuk kantor Polisi Kehutanan Taman Nasional, hancur dirusak warga. Bahkan beberapa diantara bangunan, dibakar warga.

Kabar yang beredar, tindakan warga itu dipicu tewasnya Komaruddin, seorang petani warga Desa Ujung Jaya, karena ditembak Polisi Kehutanan Taman Nasional Ujung Kulon.

Warga yang marah, kemudian melakukan pengrusakan dan pembakaran. Sukra, adik korban Komaruddin mengaku tidak tahu siapa yang awalnya menggerakkan warga sehingga timbul aksi anarkis itu. Ia sendiri bersama saudaranya yang lain, lebih terkonsentrasi mengurus jenasah sang kakak yang menderita luka di dada.

Effendi, salah seorang karyawan Taman Nasional Ujung Kulon menuturkan sesaat sebelum kerusuhan terjadi, para karyawan Taman Nasional Ujung Kulon didatangi petugas polisi kehutanan memberi tahu perihal akan datangnya warga. Mereka diminta agar meninggalkan tempat itu secepatnya.

Seorang warga sempat merekam situasi saat warga datang dan merusak sejumlah fasilitas. Tercata 4 lokasi kantor polisi kehutanan dan 15 barak karyawan, yang berada di Tanjung Melamai, Resort Pakis, Resort Ketapang, dan Resort Kamanjaya, menjadi sasaran amuk massa.

Situasi baru mereda setelah ditempat itu, datang aparat kepolisian yang dikerahkan Polda Banten. Sedikitnya ratusan petugas polisi berkekuatan 4 satuan setingkat kompi (SSK) diturunkan dengan persenjataan lengkap dan langsung mengendalikan situasi, khususnya didua desa yaitu Desa Ujung Jaya dan Desa Taman Jaya.

Kehadiran aparat keamanan ini dipimpin langsung Kapolda Banten, Brigjen Polisi Timor Padupo. Sesampai di lokasi kejadian, sang kapolda langsung melakukan persuasif dengan mengajak warga berdialog.

=====

Aparat Kepolisian Pandeglang dibantu personil Kepolisian Polda Banten, langsung bergerak cepat. Tuntutan agar pelaku penembakan ditangkap, mereka jawab dengan menetapkan si pelaku penembakan sebagai tersangka.

Suasana panas masih terasa saat Kapolda Banten mengajak warga berdialog. Sebagian dari mereka bahkan datang ketempat pertemuan dengan membawa golok dan beberapa senjata tajam lainnya. Mereka mendesak agar kasus penembakan yang dilakukan terhadap Komaruddin tetangga mereka, ditangani secara benar.

Kapolda Banten, Brigjen Pol. Timur Pradopo mengaku telah mendapat gambaran tentang apa sebenarnya yang telah terjadi. Dari hasil pengusutan yang mereka lakukan, diketahui kejadian berawal ketika Sabtu sekitar pukul dua siang itu, Polisi Kehutanan Taman Nasional Ujung Kulon yang berpatroli memergoki warga yang sedang mengambil kayu di wilayah Taman Nasional Ujung Kulon.

Awalnya, menurut kapolda, 4 personel polisi kehutanan berusaha menyelamatkan Komaruddin yang mengalami luka tembak. Mereka berbagi tugas.

Dua orang termasuk Untung Sunarko, pelaku penembakan, pergi ke Desa Ujung Jaya, mencari bantuan warga. Sementara dua temannya yang lain, Teguh dan Muzakir, diminta Komaruddin.

Dari sana, Komaruddin lalu dibawa ke puskesmas terdekat, tapi nyawanya tak tertolong. Saat itulah, warga marah. Di Puskesmas Pembantu Ujung Jaya, situasi tak kalah mencekam. Sejumlah warga termasuk keluarga korban, berjaga-jaga mengikuti jalannya otopsi yang dilakukan aparat kepolisian bersama petugas medis setempat.

Menurut Sukra, apa yang dilakukan kakaknya dan beberapa warga lain dengan mengambil kayu, sudah biasa dilakukan dan sebatas memenuhi kebutuhan sehari-hari. Misalnya untuk keperluan masak didapur.

Soal penembakan, ia dan warga lain tidak tahu. Karena ironisnya, penembakan terjadi di kebun kakaknya sendiri. Dan saat ditemukan, didalam kantong pakaian sang kakak ditemukan biji buah jengkol.

Kematian Komaruddin menjadi pukulan berat bagi keluarganya. Mereka, termasuk anak istrinya tak menyangka kepergian Komaruddin kehutan untuk mengambil kayu buat rumah mereka hari itu, akan berujung kematian.

Atas kesepakatan keluarga, jenasah korban dikubur hari itu juga, tak jauh dari rumah mereka. Mereka tak punya pilihan lain, kecuali mereka menerima kematian Komaruddin itu sebagai musibah.

Walau dari wajah mereka, tampak ada perasaan tak puas dengan kematian seperti itu. Mereka berharap kasus ini diusut tuntas. Sang pelaku penembakan ditindak tegas.

Banyak dari warga, terutama pihak keluarga korban meragukan Komaruddin ditembak karena mencuri kayu. Apalagi konon, lokasi penembakan masih diwilayah kebun korban sendiri. Warga meminta polisi mengusut ada tidaknya sesuatu dibalik kasus ini.

Taman Nasional Ujung Kulon berada diareal seluas 120,5 hektar terletak di Kecamatan Subur, Kabupaten Pandeglang. Ditetapkan sebagai Taman Nasional pada tahun 1992 lalu, untuk tujuan jadi tempat perlindungan bagi hewan langka yang nyaris punah.

Diantaranya badak Jawa dan banteng. Bahkan dalam perkembangannya, kawasan ini menjadi tempat utama program satwa untuk hewan-hewan yang dilindungi.

Salah satu keistimewaan Taman Nasional ini adalah potensi alamnya yang melimpah. Ratusan jenis flora tumbuh ditempat ini dan menjadi tempat berlindung ratusan jenis fauna langka dan terancam punah. Selain itu, kawasan ini juga kaya akan potensi laut.

Salah satunya kandungan timah hitam di dasar laut. Dengan aneka kekayaan potensi alam itu, tak heran kawasan Taman Nasional ini mendapat kawalan ketat aparat keamanan, yang berpatroli setiap waktu. Perburuan satwa langka, salah satu yang jadi target pengamanan.

Konon, perburuan yang melibatkan penduduk lokal itu, dilakukan berdasarkan pesenan dari pasar gelap di Singapura bahkan Eropa. Penebangan hutan liar juga marak terjadi. Dan lagi-lagi banyak melibatkan warga lokal.

Sekitar 6 ribu hektar hutan, yang terletak di wilayah Gunung Honje dirambah dan kini disulap warga menjadi lahan pertanian. Demikian pula di areal konservasi wilayah Sumur, kini banyak ditempati pemukim liar. Tak heran, praktek penebangan liar sulit dikendalikan dan melibatkan para pelaku industri berkelas kakap.

Dalam situasi inilah, para petugas polisi kehutanan yang berpatroli kerap memergoki dan berhadapan langsung dengan para pencuri. Kondisi itu pula yang menurut Untung Sunarko, pelaku penembakan, yang mereka temui saat itu.

Saat diperiksa penyidik Polres Pandeglang, beberapa waktu lalu, Untung yang sudah ditetapkan sebagai tersangka mengaku, saat itu ia bersama tiga rekan memergoki korban dan tiga rekannya sedang mencuri kayu.

Karena itu menurut tersangka, saat itu ia dalam posisi harus melakukan pembelaan. Karena jika tidak menembak, bukan tak mungkin justru ia yang akan menjadi korban. Untung mengaku menyesal tindakannya telah mengakibatkan tewasnya Komaruddin.

Apa boleh buat, lepas dari semua alasan itu pihak kepolisian melihat ada kesalahan yang ia lakukan dan iapun ditetapkan sebagai tersangka. Polisi menjeratnya dengan pasal 359 KUHP. Senjata api jenis PMA 1, berikut 4 peluru sisa disita sebagai barang bukti.

Polisi juga menyita surat keterangan pemakaian senjata yang dikeluarkan polisi kehutanan, tempat tersangka bekerja. Menurut Kasat Reskrim Polres Pandeglang, AKP Agus Imam Rifai, sampai saat itu mereka memang masih meminta keterangan sepihak dari tersangka. Sementara dari warga belum dilakukan. Dua dari tiga petugas lainnya, yang ikut berpatroli bersama tersangka, juga sudah diperiksa, tapi keduanya masih sebagai saksi.

Dari pihak keluarga, Agus mengatakan tetap akan melakukan pemeriksaan, karena dalam kasus ini warga pun melakukan tindakan yang bisa membawa mereka bisa berurusan dengan hukum. Seperti kasus penganiayaan terhadap teman tersangka. Kayu yang diduga hasil curian korban dan kawan-kawan pun bersama golok yang mereka pakai, sudah disita sebagai barang bukti.(Idh)

Bookmark and Share


Page: 1
16-May-2012 20:13:50 WIB by rahmat
penembak adalah teman saya sendiri, saya sudah bertanya kenapa dia sampai menembak, walau kejadianya sudah lama, sampai sekarang jika di tanya ia p berkaca, semua comen diatas hanya menebak2 secara keumuman tanpa tahu pasti apa yang terjadi...!!!! jika memang ada yang ingin tahu akan saya ceritakan kejadian yang sebenarnya" kejadian ini bermula ketika polisi hutan sedang patroli, tiba2 ia menemukan segerombolan orang yang sedang mencuri kayu, polisipun mendekati si pencuri kayu tersebut,setelah dekat sang pencuri itu tahu dan terus berlari, pi ada salah satu pencuri yg justru mendekati polisi tersebut " entah itu karena panik, takut,kaget,atau dia emang merasa jagoan, dan sekarang gantian polisi yang lari karena tidak membawa senjata, hanya satu orang yang membawa senjata, akhirnya dia berdual dengan pencuri tersebut, berkali2 pencuri itu membacokan goloknya pi tidak mengenainya, dengan jarak yang beberapa senti meter tidak mungkin akan terpikir untuk menembak kakinya...dan yang perlu kalian ketahui lagi sekarang beliau jadi pemimpin regu, bahasa yang sering di gunakan di resort kehutanan....
18-Feb-2007 11:46:49 WIB by eri
Ku terharu dengan berita ini, fenomena ini memang sering terjadi di masyarakat. Mbak Henny...salut cara ceritanya membuatku terharu
18-Feb-2007 11:44:28 WIB by Eri
Kasus yang menarik, fenomena yang memang tidak bisa dielakkan di masyarakat. Salut deh buat Henny Murniati yang buat berita ini
25-Nov-2006 17:43:23 WIB by Patri
Kalau ada petugas (baik petugas kehutanan) mengatakan itu salah satu tindakan beladiri dgn menembakan senjata adalah "BOHONG" petugas itu seorang pendusta besar dan ingat masih banyak cara untuk untuk melakukan tidakan lain yg tidak perlu dgn kekerasan apalagi membunuh dan kalaupun hal ini hrs dilakukan kaki bisa dijadikan sasaran untuk melumpuhkan korban, dan saya ada 2 pertanyaan untuk petugas spt anda, 1. Bagaimana perasaan anda kalau korban yg jadi sasaran tembak itu adalah orang tua atau istri anda sendiri...? dan yg ke 2. Dimana anda dulu belajar / berlatih tembak dan cara menggunakan senjata berbahaya itu apakah itu yg diajarkan oleh instruktur anda untuk cepat membalas atau dibalas dgn cara membunuh kaummu sendiri,..? terima kasih.
22-Nov-2006 19:00:10 WIB by loLaNda putrIaNi.. hiX""
haHaHa....^^



isEnk...































hihihihihi
22-Nov-2006 18:58:42 WIB by LoLaNda PutRiaNi
saY 9OoD....

seRu.....

haRusNa.... OraNg" taU baHwA maKhLuK hIdUp j9a PerLu TeMpaT berKemBaNg biaK,,,,



TX...



LoLa,,



19-Nov-2006 07:03:15 WIB by arif
komarudin dan kawan-kawannya tentu bawa senjata dong, senjata apa, gimana kebiasaan masyarakat (apa memang selalu bawa senjata kalau berkebun), bagaimana penyerangannya.....(tidak dijelaskan beritanya).

terlepas dari itu, pak untung juga harus bertanggung jawab, karena mengakibatkan kematian seseorang. kesalahan profesional yang harus ditanggung.

dan pelaku perusakana fasilitas negara jg harus dikenai hukuman.
18-Nov-2006 04:00:13 WIB by Jaksa adil
Kalo penembakannya masih diwilayah korban sendiri (diladang korban sendiri) tentu ada motif masalah pribadi,dan pencurian dijadikan alasan.
Tapi memang lidah tak bertulang mana yg benar, yang jelas hukum harus ditegakkan,pak Untung sunarko dikostkan aja dikamar jeruji.
17-Nov-2006 02:34:43 WIB by Ibu pertiwi
Pak Untung Sunarko, saya membela anda. Tugas anda sunguh mulia, menjaga kelestarian hutan alam Indonesia. Miris hati saya ketika melihat foto pulau jawa (yang saya lihat melalui satelit) sudah banyak dibuka untuk ladang. Mereka tidak mengerti betapa semua makluk hidup perlu hutan untukmelangsungkan hidup mereka. Jagalah hutanku.

Tertanda,
Ibu Pertiwi

 

Nama:
Email:
Security Code: