HOME | CONTACT US | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
RAGAM

Pengabdian Tanpa Batas




Tags:

sutrisno

Berita HOT:

indosiar.com, Jakarta -  Sutrisno (53) seorang timing (timer) angkutan PPD telah puluhan tahun bekerja pada sebuah  perusahaan milik pemerintah. Sebagai seorang timer, Sutrisno harus mengetahui berapa kali putaran atau rate dalam sehari sebuah bus Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD).

Tugas tersebut menjadi tugas sehari-hari pria asal Yogyakarta ini. Setiap kali bus PPD melintas di bawah jembatan (Under Pass Karet) Jakarta Pusat, pria itu langsung mendekati bus dan mencatat dalam beberapa lembar kertas kecil. Tak hanya itu, ia juga memberitahukan kepada sang sopir bus mengenai bus lainnya yang sudah lewat.  

Tugas Sutrisno lainnya  di lapangan, yakni mencatat body (bus) apakah ada kerusakan serta masalah menyangkut rate. Selain itu, ia juga memberikan penghitungan waktu (timing) yang ia catat dan kemudian dilaporkan ke panrate (pendata) agar pendapatan sesuai dengan laporan. Hingga kini ada sekitar 20 orang yang bertugas seperti Pak Sutrisno disetiap terminal di Jakarta. Namun rute yang dipegang Sutrisno hanya di Depo B atau beberapa lintas saja.

Sutrisno menuturkan, sebelum bekerja menjadi karyawan di Perum PPD yang berkantor dikawasan Cawang, Jakarta Timur,  ia terlebih dulu masuk di Unit V dari PT Mendawa Sekarwangi tahun 1977. Namun tak lama kemudian, perusahaannya diangkat menjadi Perum PPD melalui SK Menteri Perhubungan tahun 1981 hingga sekarang 2007. Selama 26 tahun, Sutrisno mengabdikan diri bekerja di perusahaan ini.

Pada saat itu, bus PPD ini merupakan angkutan yang sangat diminati masyarakat, karena tidak banyak angkutan umum lainnya. Namun kini, sudah banyak angkutan swasta yang bermunculan di Jakarta dan menambah keruwetan transportasi. 

Hingga kini, jumlah Angkutan PPD yang masih operasi (laik jalan), dikatakan Sutrisno, ada sekitar 52 armada dan itupun setiap hari tidak memenuhi persyaratan dan kerap terjadi kerusakan.

Berbicara soal angkutan umum, Sutrisno mengaku, 10 tahun yang lalu kendaraan angkutan tidak separah ini. Belum ada tumpang tindih lintas. Nah, sekarang bisa dilihat dari pihak angkutan swasta yang banyak bermunculan.

Bus Perum PPD mengalami jaya-jayanya dari tahun 1981 sampai 2001 yang paling dominan dan masih gampang mengatur kendaraannya. Dulu, seluruh PPD bisa mencapai  1200 armada yang beroperasi. Namun kini yang hanya bisa beroperasi hanya sekitar 400 armada.

Saat ini Sutrisno sendiri menjabat sebagai Kepala Dinas Produksi dan Evaluasi dan merangkap sebagai Kepala Dinas Pengendalian Lapangan. Hal tersebut dikarenakan pejabat pengandalian lapangan sebelumnya sudah pensiun. Dalam menjalankan tugas, Sutrisno mengaku bisa dinas didalam kantor, bisa juga diluar kantor (lapangan) karena menyangkut hal pendapatan. "Meski sudah tua, saya harus siap berjibaku di jalanan," ujar pria yang beristrikan seorang guru.

Namun diakuinya, pada prakteknya ia lebih banyak di lapangan karena demi tercapainya sasaran produksi. Sementara  jam kerjanya sendiri dimulai pukul 06.00 WIB hingga 15.00 WIB setiap harinya.

Sutrisno yang tinggal dikawasan Cibubur, Jakarta Timur ini mengatakan, setelah ada SK Lay Off atau pensiun dini beberapa bulan lalu akibat tidak tercapainya sasaran, ia  sempat dirumahkan. Namun karena dari pihak perusahaan masih membutuhkan tenaga Sutrisno untuk mencari data, maka ia tetap bertugas selama belum menerima dana Lay Off.

Ditambahkan Sutrisno, sebelum terkena Lay Off 6 bulan lalu, dirinya mendapat iventaris satu buah mobil termasuk BBM serta tunjangan jabatan per bulannya, uang isentif operasi serta tunjangan. "Ya, alhamdulillah mencukupi buat keluarga dan untuk jajan cucu-cucunya."  

Selama menjalani kesehariannya, bapak 5 orang anak ini, menyimpan harapan untuk menghadapi masa pensiunnya. Ia berharap dapat segera menerima dana Lay Off atau pensiun dini dan pulang ke kampung halaman di Yogyakarta. "Meski telah punya rumah di Jakarta dan anak-anak semua sudah bekerja, saya lebih suka menghabiskan masa tua di kampung, saya sudah jenuh kerja," ungkapnya

26 tahun sudah Sutrisno mengabdikan diri di Perum PPD. Ia merasa bersyukur masih bisa bekerja selama puluhan tahun sehingga bisa menyekolahkan ke-5 anaknya. Buah dari kerja keras itu kini telah ia nikmati. Dua orang anak laki-lakinya kini berdinas di Polda Metro Jaya, sementara anak ke-3 dan ke-4 kini bekerja di sebuah bank milik negara dikawasan Sudirman.

Dalam membesarkan anak-anaknya, Sutrisno punya prinsip sendiri. Meskipun orangtuanya tidak berpendidikan tinggi, tetapi anak-anaknya harus bisa mengenyam pendidikan hingga bangku kuliah.

Menurutnya, keberhasilan anak-anaknya itu tidak lepas didikan sang istri yang kebetulan seorang guru di Ceger Satu, Taman Mini Indonesia Indah. Ia seringkali mengucap syukur bahwa perjuangan selama 26 tahun akhirnya bisa menjadikan anak-anaknya menjadi seorang pegawai negeri. (Sup/rev)

Bookmark and Share


Page: 1
25-Mar-2007 08:08:19 WIB by Lasmono Abdulrify Dyar
Saya ucapkan ''profisiat'' kepada bapak Sutrisno, yang begitu menekuni pekerjaanya yang boleh dikatakan tidak ringan. Hendaknya dibidang apapun, terdapat orang2 seperti Sutrisno ini, yang mensyukuri dan puas mengabdi apapun tugasnya. Apa penghargaan pemerintah???

Beliau tidak tergiur, karena adanya situasi yang negatif atau banyak korupsi yang dilaksanakan dimana-mana ibaratnya sudah menjadi suatu k e b u d a y a a n , yang negatif, tapi tetap saja diikuti oleh sebagian besar mereka yang berkedudukan tinggi, dan tidak memberikan c o n t oh uang baik dan mutu kejujuran kepada khalayak ramai. Seakan mengejar sesuatu dimasa depan untuk melestarikan pendapatanya apapun dan bagaimanapun caranya.

Inilah yang dinamakan pemimpin rakyat, yang seharusnya mengabdi kepada rakyat, tapi waktunya banyak dipergunakan untuk mencari liku-liku pembenaran dari cara-cara mencari dana bagi kepentingan diri sendiri dan bukan untuk mementaskan kemiskinan yang sudah makin dirasakan oleh rakyat jelata. Tiada yang mendengarkan jeritan mereka yang terkena musibah, antara lain penyemburan l u m p u r di daerah Sidoarjo, yang menghanyutkan rumah2 mereka dan juga pengorbanan jiwa. Siapakah yang harus ber tanggung jawab??? Tiada satupun yang berani mengaku dan mengambil risiko dari suatu tindakan yang merupakan ''a human error''. Demikian kenyataan yang harus dihadapi oleh rakyat.





 

Nama:
Email:
Security Code: