HOME | CONTACT US | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
RAGAM

Mencari Rezeki Tersisa



Reporter : Budi Sampurno
Juru Kamera : Warsam Aji - Sri Indro
Produser : Widayat S. Noeswa

indosiar.com, Jakarta - Nek Rasi tak pernah membayangkan dimasa tuanya ia harus bersusah payah menghidupi dirinya sendiri di tengah belantara kota Jakarta. Sejak ditinggal suaminya 63 tahun yang lalu, ia telah bertekad untuk bekerja apa saja asalkan bisa membiayai kehidupannya.

Usiaku kini 86 tahun. Sejak 63 tahun lalu aku terpaksa mencari nafkah sendiri untuk menghidupi kedua anakku setelah suamiku meninggal dunia. Apapun aku jalani asalkan halal dan cukup untuk makan sehari-hari. Namun ternyata, kemiskinan tidak pernah lepas dari kehidupanku hingga hari ini.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupku, aku menjual jasa dan kemampuanku untuk memijat. Karena tidak setiap hari ada yang memerlukan jasa pijatanku, aku juga menjual jasa mencuci dan menyetrika pakaian.

Padahal sebenarnya aku sudah tidak kuat lagi melakukan pekerjaan ini karena kaki bagian kananku sudah terserang reumatik dan semakin kambuh jika sering terkena air. Untuk menambah penghasilan, aku juga berjualan peyek keliling. Kadang aku mangkal disalah satu sekolah dasar dekat rumahku.

Lumayan aku mendapat keuntungan 10 ribu rupiah menjual satu wadah peyek kacang, itupun terkadang tidak cukup untuk membeli makanan dan minyak tanah yang kian mahal, 10 ribu rupiah perliternya.

Karena itu terkadang aku tidak memasak dan membeli makanan seadanya karena mahalnya harga minyak tanah. Kini aku tinggal di rumah kontrakan yang sempit dengan tarif 350 ribu rupiah perbulan. Ya cukup mahal memang buatku yang tidak memiliki penghasilan tetap. Namun aku bersyukur pemilik kontrakan sangat mengerti keadaanku.

Aku bisa mencicil atau bahkan terkadang membayar seadanya. Tapi entahlah sampai kapan aku bisa menerima kebaikan itu, aku sedih kalau memikirkan aku akhirnya harus tidur di emperan toko atau di jalanan sementara aku sudah tua seperti ini.

Beruntung tetanggaku adalah orang-orang yang baik hati. Mereka mengerti sekali keadaanku, tidak sedikit dari mereka yang kadang datang memberiku makanan, atau sekedar mengajak ngobrol.

Buatku itu sebuah hiburan yang bisa melupakan kepedihan hidup. Selama ini aku tidak pernah meminta apalagi menjadi pengemis di jalanan. Jujur, saat aku sendiri aku merasa hidupku teramat sepi aku hanya bisa menangis, meski tetap berusaha tegar. Ya Tuhan seandainya aku boleh meminta aku tidak ingin memperpanjang usiaku.

Kini aku hidup sebatangkara dan sering sakit-sakitan. Jika aku diberi umur panjang aku memohon kepadaMu Tuhan agar aku diberi kesehatan sehingga aku tetap bisa bekerja dan mencari uang. (Sup)

Bookmark and Share


Page: 1
24-Aug-2008 22:21:42 WIB by andri
Untuk indosiar,hati saya tersentuh membaca kisah nenek Rasi ini. Jika diperbolehkan saya ingin sekali alamat nenek ini. Insya allah bila saya ada rejeki lebih,saya iklhaskan utk beliau. Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan banyak terimakasih utk pihak indosiar.
20-Aug-2008 14:15:33 WIB by phei
Merdeka?saya rasa negara kita belum merdeka, kita masih "dijajah" oleh kemiskinan, kebodohan..saya salut dengan nek RASI, berjuang sendiri tanpa ada pendamping siapa pun..mungkin ada baiknya harta koruptor itu di sita dan di berikan saja kepada nenek RASI atau orang yang memang benar membutuhkannya.di mana letak hati orang wakil rakyat, jangan hanya duduk, isi absen saja di rapat tetapi juga harus memperhatikan nasib rakyat kecil, apa orang pemerintah tega melihat nenek yang tua ini menderita karena kemiskinan.bukankah seharusnya nenek RASI ini seharusnya menikmati masa tuanya, bukan harus bekerja..
19-Aug-2008 14:00:32 WIB by edyvanvreden
Didalam UUD 45 fakir miskin dan anak-anak terlantar wajib dipelihara oleh negara, tapi pasal yang ada didalam UUD 45, ternyata hanya hiasan pemanis bibir saja. sebab lebih dari setengah abad kita merdeka, ternyata orang miskin makin bertambah, lalu siapa yang mau mengurusi orang miskin. jawabnya tidak ada yang mau.

 

Nama:
Email:
Security Code: