indosiar.com - Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSar MaLam) sangat penting sekali, namun jangan berharap kegiatan itu akan melahirkan seorang tokoh sastra besar, karena itulah rasa memiliki sastra harus dipupuk lebih dalam lagi.
Demikian dikatakan, tokoh sastra Sapardi Djoko Damono ketika didaulat untuk menyampaikan sambutannya di panggung Sastra Reboan#13 di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan, Jakarta Selatan, sehubungan dengan satu tahun berdirinya Sastra Reboan.
Pagelaran Sastra Reboan#13 tanggal 29 April 2009 lalu, yang mengusung tema “Bersama Dalam Sastra” mempunyai makna tersendiri bagi Sastra Reboan. Karena merupakan ulang tahun pertama Sastra Reboan, yang telah bergulir selama setahun tanpa jeda di setiap Rabu akhir bulan.
Ulang tahun pertama Sastra Reboan terasa lengkap karena hadirnya 19 sastrawan dari eSastra.com dari Malaysia yang diketuai Dr. Irwan Abu Bakar, Sapardi Djoko Damono, penulis muda Malaysia yang juga moderator milis Kapasitor.com, Zuraidah Abdul Azis, artis dan cerpenis Happy Salma, cerpenis dan esais Damhuri Muhammad, penyair Evi Idawati dari Yogyakarta, dosen filsafat FIB Universitas Indonesia, Donny Gahral Ardian, cerpenis Dewi Ria Utari dan konsultan media dan penyanyi, Reda Gaudiarmo.
Selain pertunjukan musik dan pembacaan puisi, acara Sastra Reboan juga meluncurkan buku dari 3 penulis. Buku pertama yang diluncurkan adalah buku puisi berjudul "Miskin Tapi Sombong" karya Iwan “Bung Kelinci” Sulistyawan. Kumpulan puisi ini begitu menggelitik tentang kehidupan sehari-hari, yang diberi kata pengantar oleh Jaya Suprana. Salah satu puisinya “PR Kuliah” dipersembakan untuk almarhum Sophan Sophian.
Penulis lainnya, Roro Syn yang baru pertama kali menerbitkan novelnya “Mannequin of Darma” (tentang perempuan yang masih berpikiran bahwa mereka harus sempurna seperti mannequin). Roro berharap buku ini tidak “mengotori”, namun bisa menjadi buku yang menyemarakkan sastra Indonesia.
Peluncuran buku ketiga adalah kumpulan cerpen “Juru Masak” dari Damhuri Muhammad, yang merupakan buku ketiganya dan memuat 14 cerpen. Salah satu cerpen di buku ini,“Ratap Gadis Suayan” dibacakan oleh artis Happy Salma dengan apiknya. Sebelum beranjak turun dari panggung, Happy mengatakan bahwa melalui menulis dapat menunjukkan kepribadian sang penulisnya.
Sementara menurut penulisnya, Damhuri, banyak kearifan yang dapat diambil dari buku ini. Bagi alumni Universitas Gajah Mada ini, kegembiraan seorang penulis adalah karyanya dapat dibaca orang lain, tak peduli hasil membeli atau meminjam.
Mengenai eksistensi Sastra Reboan, Ketua Komunitas Sastra Reboan, Johannes Sugianto mengungkapkan bahwa acara setiap hari Rabu malam ini merupakan wadah bagi seluruh orang yang ingin berdekatan dengan sastra, baik bagi penulis, penikmat, dan penilai sastra.
“Militansi, perasaan betah dan cinta dari para penggiat komunitas sastra adalah kunci dalam menggerakkan roda kegiatan Sastra Reboan hingga berjalan selama setahun tanpa jeda setiap bulannya,” tandas Yo.(Ijs/Yudi)