
indosiar.com, Lombok Utara - Sebelum memulai ritual ngaponing pusaka, atau membersihkan senjata pusaka, sejumlah warga Bayan, Kabupaten Lombok Utara, ini terlebih dahulu melakukan ritual berdoa, memohon agar nenek moyang mereka merestui ritual mereka kali ini. Sehingga pelaksanaan ngaponing pusaka, yang akan mereka jalankan, berjalan lancar dan tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
16 orang pemuka adat atau yang disebut dengan kiyai dan maq lokak, telah berkumpul di sebuah berugaq atau balai yang dijadikan tempat membersihkan senjata pusaka.
Empat orang peniup seruling anggota kesenian tradisional Bayan yang disebut kesenian suling dewa, ditempatkan pada empat penjuru berugaq untuk mengiringi ritual ngaponing pusaka ini.
Ritualpun dimulai. Satu persatu senjata pusaka peninggalan tokoh Bayan pada ratusan silam ini, dikeluarkan dari penyimpanannya. Kemudian salah seorang anak keturunan kiyai Bayan, dipercayakan memimpin doa keselamatan.
Selanjutnya senjata pusaka yang terdiri dari sejumlah keris dan tombak, dikeluarkan dari sarungnya dan mulai dibersihkan oleh 16 orang kiyai dan maq lokaq secara bergiliran, menggunakan air dan jeruk serta uang logam bolong, yang telah didoakan sehari sebelumnya.
Pembersihan pusaka ini juga diiringi sejumlah penari kesenian tradisional suling dewa, yang terdiri dari beberapa orang laki-laki dan perempuan. Sepanjang pembersihan mereka menari mengelilingi berugak tempat dilaksanakannya pembersihan senjata pusaka, hingga pembersihan senjata ini selesai dilakukan.
Setelah seluruh senjata selesai di bersihkan, air sisa bekas membersihkan senjata diambil oleh sebagian warga, yang dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit dengan cara diminum atau dioleskan pada bagian tubuh yang sakit.
Dengan telah dilaksanakannya ritual ngaponing pusaka, warga Bayan pun percaya mereka telah berbakti kepada leluhur dan yakin hari-hari kedepan, mereka akan dilindungi dari bala dan marabahaya.(Ahmad Sianturi/Ijs)