
indosiar.com, Yogyakarta - Warga perbukitan Pandak Bantul, Yogyakarta Kamis kemarin, menggelar tradisi saparan atau merti desa. Tradisi satu tahun sekali ini merupakan wujud syukur warga atas berkah hasil pertanian selama musim kali ini.
Iring iringan kesenian tradisional berupa sholawatan mengawali jalannya prosesi tradisi saparan atau merti desa warga Perbukitan Pandak Bantul Yogyakarta, Kamis (4/2/2010) kemarin.
Para warga ini juga menyanyikan tembang-tembang Jawa yang berisi tentang ungkapan syukur kepada Sang Pencipta, yang telah memberi berbagai kenikmatan selama ini.
Dalam kesempatan ini warga juga tampak membawa aneka sesaji hasil pertanian.
Iring- iringan warga ini selanjutnya menuju sendang atau sumber mata air pelem poh yang menurut warga setempat, merupakan sendang kehidupan bagi warga yang tinggal dikawasan perbukitan.
Pasalnya pada musim kemarau, sendang ini tak pernah kering dan digunakan untuk keperluan sehari hari.
Tradisi ini selain digelar sebagai wujud syukur juga dimaksudkan sebagai napak tilas perjuangan Pangeran Diponegoro, yang konon dalam berjuang melawan penjajah pernah bersembunyi di daerah perbukitan ini.
Prosesi diakhiri dengan tradisi umbul dahar yakni makan bersama aneka sesaji yang dibawa oleh warga setelah sebelumnya dilakukan berdoa bersama.(Gandung Jatmiko/Ijs)