HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Adam Air Jatuh Lagi



Reporter: Lenasari A - Budi P - Muslichan - Alamsyah Djohan
Saharudin - Fajar Arifianto - Mas'ud Ibnu
Juru Kamera: Surnata - Kiki Suhartono - Sri Indro - Novi Hartoyo
Tayang: Kamis, 04 Januari 2007, Pukul 12.00 WIB

indosiar.com, Jakarta - Awan hitam terus menyelimuti perjalanan bangsa ini dalam upaya keluar dari keterpurukannya. Musibah datang silih berganti.

Senin tiga hari lalu tepatnya hari pertama memasuki tahun 2007, masyarakat kembali dikejutkan dengan informasi hilangnya sebuah pesawat komersial milik maskapai penerbangan Adam Air yang diperkirakan jatuh didaerah perbukitan di Kabupaten Polman, Sulawesi Barat. Bahkan kabarnya, seluruh penumpang dan kru pesawat tidak ada yang selamat.

Senin tanggal 1 Januari 2007, suasana di Bandara Juanda Surabaya, Jawa Timur tampak riuh. Sejumlah orang mereka dari keluarga para penumpang pesawat Adam Air bernomor KI 574 dilanda kepanikan menyusul kabar jatuhnya pesawat tersebut dalam perjalanan dari Surabaya menuju Manado, Sulawesi Utara.

Kabar itu makin dipercaya karena sampai jam 4 sore hari itu sang pesawat belum juga mendarat di Bandara Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara. Di Bandara Sam Ratulangi dan Bandara Hasanuddin Makassar suasana panik dan isak tangis juga terjadi.

Kabar yang beredar, pesawat berpenumpang 96 orang dan 6 kru kabin dan kehilangan kontak sejak Senin pukul 15.07 WITA itu telah menabrak perbukitan di Kecamatan Matangnga, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat dan 90 penumpang serta kru pesawat telah ditemukan tewas.

Kabar 12 orang lain masih belum ditemukan juga mengundang harapan dan rasa penasaran keluarga korban. Kepanikan semakin menjadi, karena pemberitaan media massa juga simpangsiur. Jumlah dan daftar korban bersliweran dan tak menyebut sumber jelas.

Adalah Komandan Lapangan Udara Sam Ratulangi Manado Letnan Kolonel Penerbang Agung Sasongko Jati yang kemudian berusaha memberi penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Kepada wartawan ia membenarkan kabar kecelakaan itu dan menjelaskan perkiraan lokasi jatuhnya pesawat milik Agung Laksono tersebut.

Di Bandara Juanda Surabaya kantor perwakilan Adam Air makin ramai dikunjungi keluarga korban. Mereka minta pihak maskapai itu menerbangkan mereka ke Makassar.

Hari berganti. Tapi kepastian tak juga didapati oleh keluarga para penumpang. Hari Selasa, 2 Januari 2007, sejak pagi kantor Adam Air telah ramai didatangi keluarga penumpang.

Tak ada pilihan lain bagi pihak Adam Air, mereka pun memberi penjelasan sekenanya dan tentu saja tak menjawab semua keingin-tahuan keluarga penumpang.

Meski tetap tak puas, para keluarga penumpang sedikit lega. Karena pihak Adam Air berjanji akan memberangkatkan mereka ke Manado satu keluarga dua orang.

Sampai Selasa malam kepastian tentang jatuhnya pesawat dan jumlah korban belum juga terjawab. Komandan Pangkalan Udara Hasanudin Marsekal Pertama Eddy Suyanto yang juga bertindak sebagai ketua tim SAR secara terbuka meralat pernyataan bahwa pihaknya telah menemukan letak jatuhnya pesawat. Tapi tak urung, kedukaan telah melanda seluruh keluarga penumpang.

Belum jelasnya kabar dan keberadaan pesawat Adam Air KI 574 membuat keluarga penumpang makin dilanda kepanikan. Selasa sore, di sela-sela menunggu kabar mereka menggelar doa bersama di Bandara Sam Ratulangi Manado Sulawesi Utara. Mereka berdoa keluarga mereka masih selamat.

Di loket penjualan tiket Adam Air suasana riuh masih terus berlangsung. Sebagian keluarga penumpang memprotes manajemen maskapai penerbangan ini yang belum juga memberangkatkan mereka ke Makassar.

Di Makassar sendiri keluarga korban terus berdatangan di Bandara Hasanuddin. Purnama Lamani, istri Abdul Hamid, salah seorang penumpang tak mampu membendung perasaan dukanya saat bertemu keluarganya.

Sementara di Manado, suasana duka dialami para tetangga keluarga Jopi Wantania dan Maria Karouw. 7 orang keluarga itu dipimpin sang kepala keluarga Jopi Wantania yang adalah penumpang pesawat Adam Air yang kini dalam pencarian.

Jopi Wantania bersama istrinya Maria Karouw tiga putri mereka Elny Wantania, Cindy Wantania dan Melva Wantania serta seorang menantu bernama Rendy dan seorang keponakan Vira Karouw, dua hari lalu pergi ke Surabaya menghadiri perkawinan anak mereka.

Dan Senin itu mereka pulang menaiki Adam Air KI 574 untuk menghadiri penguburan salah seorang saudara mereka. Kini keluarga dan para tetangga kebinggungan bagaimana nasip Jopi dan 6 anggota keluarganya.

Kebinggungan juga melanda Arya Bima, Anggota DPR RI. Karena 5 orang anggota keluarganya ada diantara 96 orang yang ikut dalam penerbangan pesawat tersebut.

Begitu pula dengan keluarga Kolonel Bambang Suprianto Wakil Komandan Lantamal VIII Manado. Anak istri sang kolonel binggung bercampur panik karena orangtua mereka ada diantara para penumpang yang kini dalam pencarian itu.

Kesedihan tak hanya dirasakan keluarga penumpang. Orang-orang dekat kru pesawat pun dilanda kecemasan.

Di Sidoarjo di perumahan Refelegi Indah Waru Blok C yang merupakan kediaman keluarga Revli Agustian Widodo yang menjadi Kapten Pilot Adam Air yang naas itu suasana duka menyelimuti anggota keluarganya. Mereka kini pasrah menghadapi kondisi terburuk.

Sulfiah, istri Revli sudah berangkat ke Bandara Juanda untuk selanjutnya terbang ke Makassar. Ia akan menjemput suaminya hidup ataut mati. Demi 3 anak mereka Reza, Rezia dan Putri.

Sementara di Tangerang, tepatnya di kediaman pramugari Nining Irianti di Sukamulya, isak tangis terdengar dari anggota keluarga sang pramugari. Ibunya tak kuat menahan perasaan membayangkan Nining, anaknya yang baru 2 tahun bekerja di Adam Air itu akan mengalami naas seperti ini.

Guna mendapatkan kepastian Tim SAR akhirnya mengerahkan seluruh kemampuan mereka termasuk bekerjasama dengan masyarakat sekitar lokasi yang dianggap tahu letak jatuhnya pesawat. Mereka ingin teka teki terutama menyangkut nasib para penumpang dan kru pesawat bisa segera terjawab.

Pada hari Selasa atau satu hari setelah peristiwa hilangnya pesawat milik maskapai Adam Air itu pihak keluarga dari para penumpang pesawat tersebut merasa ada secercah harapan ketika sejumlah media massa memberitakan penemuan lokasi jatuhnya pesawat Boeing 737-400 milik Adam Air yang hilang yakni didaerah pegunungan Kecamatan Matangnga, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Keyakinan pihak keluarga kalau pesawat naas tersebut telah diketahui nasibnya kian bertambah ketika pemerintah melalui Menteri Perhubungan menggelar jumpa pers. Disebutkan, 90 penumpang tewas, 12 orang selamat. Sebuah pernyataan yang belakangan terbukti berdasarkan isapan jempol semata. Sungguh sebuah pengumuman yang tergesa-gesa.

Bukan hanya Menteri Perhubungan yang kecolongan. Pihak Lanud Hasanuddin dan Tim SAR pun memberikan pernyataan yang menguatkan soal penemuan pesawat itu. Tidak jelas siapa yang pertama kali memberikan informasi soal penemuan lokasi jatuhnya pesawat. Kemungkinan besar, kabar itu berasal dari warga yang belum diperiksa kebenarannya sudah terlanjur diekspose.

Sekitar Selasa sore baru ketahuan informasi itu hanya kabar burung. Tim Evakuasi yang bergerak mendatangi lokasi yang dimaksud tidak menemukan apa-apa disana. Disisi lain kesimpangsiuran informasi membuat masyarakat geram terlebih para keluarga penumpang.

Badan SAR Nasional (Basarnas) akhirnya meralat semua pernyataan sebelumnya. Hingga hari ketiga tim SAR belum juga menemukan lokasi jatuhnya pesawat. Angkatan Udara sendiri sudah mengirim Helikopter Puma dan Pesawat Pengintai 737-200 ke lokasi yang dimaksud Mamuju.

Sayangnya sebelum sampai di lokasi, pesawat harus mendarat di Bandara Sepinggan Balikpapan karena cuaca buruk. Sejumlah perkiraan muncul terkait dengan hilangnya pesawat dengan nomor penerbangan KI 574 itu. Cuaca buruk masih menjad dugaan utama.

Pengamat Pesawat Dodi Sudibyo mencoba menganalisa kalau ini bukan saja karena faktor cuaca. Kemungkinan seperti kesalahan manusia atau rusaknya mesin bisa saja terjadi. Namun itu semua baru bisa dipastikan apabila kotak hitam sudah ditemukan.

Diakui Kasubdit Informasi Meteorologi Publik BMG Ahmad Zakir, saat pesawat itu jatuh kondisi cuaca memang sedang tidak bersahabat.

Dari hasil pemantauan BMG, sejak siang hari cuaca sudah terlihat buruk. Ahmad pun menganalisa kemungkinan sang pilot berusaha mencari celah diantara awan yang begitu tebalnya.

Opini publik pun bermunculan. Ada yang mengatakan, akibat menekan biaya operasional, pihak Adam Air sepertinya melupakan keselamatan penumpang dengan tidak memperhatikan mutu pesawat.

Bahkan ada yang mempertanyakan keputusan sang pilot mengapa tetap terbang dalam kondisi cuaca yang sudah diramalkan buruk itu. Semua dugaan tersebut ditambah tidak profesionalnya pihak-pihak terkait dari mulai maskapai hingga pemerintah dalam menangani musibah seperti ini pada akhirnya membuat kepedihan yang dialami pihak keluarga kian bertambah.

Membuat wajah dunia transportasi tanah air pun semakin suram terkait dengan jaminan keselamatan penumpang. Sekedar mengingatkan, kecelakaan pesawat yang dialami maskapai penerbangan Adam Air tidak hanya baru ini saja terjadi.

Di tahun 2005, Adam Air juga mengalami masalah dengan melakukan pendaratan darurat di Tambolaka, Sumba Barat sebelum sampai tujuannya ke Makassar. Kini salah satu pesawat maskapai itu hilang memakan korban. Sudah saatnya pemerintah bergerak lebih aktif menangani masalah transportasi tanah air. (Sup)

Bookmark and Share