HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Al Quran Braille, Hanya Dicetak di Bandung



Al Quran Braille, Hanya Dicetak di Bandung

Baca Juga:


Tags:

pernik ramadhan

Berita HOT:

indosiar.com, Bandung - Memahami Al Quran dengan membacanya milik semua umat muslim termasuk para tuna netra yang membaca Al Quran dengan huruf braille. Namun siapa yang tahu jika percetakan Al Quran braille ini hanya terdapat di Yayasan Wiyata Guna Bandung. Uniknya Al Quran braille ini dicetak manual sejak tahun 1975 dengan mesin bantuan sang Proklamator Soekarno.

Di ruangan inilah Al Quran diproses oleh tangan-tangan trampil. Untuk mencetak sebuah Al Quran diperlukan waktu berhari-hari, karena dibutuhkan ketelitian. Prosesnya pun terbilang rumit bagi orang awam. Karena harus menciptakan master Al Quran dengan format huruf Al Quran braille. Di Indonesia, percetakan Al Quran braille ini hanya terdapat di Yayasan Wiyata Guna Bandung.

Semua Al Quran braille untuk kebutuhan para tuna netra di Indonesia dipasok dari percetakan ini. Bahkan beberapa tahun belakangan, Al Quran braille hasil percetakan Yayasan Wiyata Guna didistribusikan ke Asia Tenggara.

Uniknya, semua proses percetakan dilakukan secara manual dengan menggunakan sebuah mesin kuno. Dilakukan secara manual karena hingga saat ini belum ada mesin cetak canggih yang dapat mencetak Al Quran secara sempurna.

Untuk membuat Al Quran, dilakukan dengan beberapa tahap. Pertama, pencetakan master Al Quran dalam sebuah plat khusus yang dibeli dengan harga dolar. Dalam plat tersebut, seorang ahli huruf Al Quran braille mengetiknya dengan alat khusus mesin tik braille.

Untuk menuliskannya pun perlu orang yang terlatih dan hafal benar dengan huruf Al Quran braille. Master plat ini kemudian dicetak dengan mesin cetak braille. Sebelum disusun menjadi jilid Al Quran, lembar demi lembar inipun diperiksa langsung pembinanya yakni seorang tuna netra. Jika tidak ada kesalahan, barulah dicetak dengan jumlah yang banyak.

Menurut Kepala Percetakan Haji Ayi Ahmad Hidayat, Al Quran braille ini mulai dikembangkan sejak tahun 1975, ketika Musabaqoh Tilawatil Al Quran digelar yang mengikutsertakan peserta tuna netra.

Al Quran yang dicetak di percetakan ini kemudian disebarkan keseluruh daerah di Indonesia. Berbeda dengan Al Quran awas, Al Quran braille ini dicetak per juz dan satu jilidnya lengkap dengan terjemahannya. Sehingga untuk satu Al Quran penuh terdapat puluhan jilid. (Tim Liputan/Sup)

Bookmark and Share