HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Alas Donoloyo, Hutan Peninggalan Majapahit



Berita HOT:

Rep/Kam : Ery, MGI

indosiar.com, Wonogiri - Belantara hutan jati di Desa Watusono, Kecamatan Slogohimo, 40 kilometer dari kota Wonogiri, Jawa Tengah, ternyata menyimpan sebuah kisah sejarah. Di dalam hutan jati yang disebut dengan Alas Donoloyo ini terdapat sisa-sisa pohon jati yang tumbuh pada masa Kerajaan Majapahit, 700 tahun yang lalu.

Jati Donoloyo, rata-rata mempunyai panjang sepuluh meter, dengan garis tengah satu meter, sehingga dinilai sebagai kayu jati dengan kualitas terbaik yang pernah ada. Tak heran jika Masjid Demak serta Keratonan Surakarta, dibangun dari kayu jati Donoloyo.

Nama Donoloyo merupakan nama pendiri desa di kawasan tersebut, yakni Ki Ageng Donoloyo, anggota laskar Kerajaan Majapahit saat dipimpin Raja Airlangga. Karena ingin mengabdi pada Kerajaan Majapahit, Ki Ageng Donoloyo yang tertinggal ketika mengikuti perjalanan Raja Airlangga, memutuskan untuk menetap di tempat itu, serta menanam pohon jati, yang ia niatkan bisa dimanfaatkan Kerajaan Majapahit. Hingga saat ini, Alas Donoloyo masih dikeramatkan masyarakat sekitar, khususnya Kawasan Punden, letak pohon jati pertama ditanam dan dipotong untuk pembangunan Masjid Demak.

Konon, banyak peristiwa aneh terjadi menyangkut Alas Donoloyo. Seperti cerita awal mula digunakannya jati Donoloyo untuk pembangunan Masjid Demak, yakni akibat bayang-bayang ujung pohon jati Donoloyo yang kelihatan di Demak, meskipun jaraknya mencapai puluhan kilometer. Ki Ageng Donoloyo sendiri, dipercaya masih berada di Alas Donoloyo. Karena dari dulu hingga kini, belum diketahui dimana letak makam sang laskar setia majapahit ini.

Sekian ratus tahun berlalu, kini kelestarian Alas Donoloyo masih dijaga oleh keturunan Ki Ageng Donoloyo. Setiap hari, Dikromo, sang juru kunci hutan, ditemani istrinya, membersihkan kawasan tersebut, khususnya areal Punden. Apalagi menjelang Hari Jumat Pon dan Jumat Kliwon, karena pada hari itu banyak masyarakat datang memberikan sesajen. Alas Donoloyo dipercaya bisa membantu mengabulkan setiap permintaan seseorang, jika memang mereka melakukan ritual di tempat ini.

Sebagai juru kunci, Dikromo tidak mendapatkan gaji. Namun kadang-kadang pria berumur 71 tahun ini, menerima uang dari pengunjung Alas Donoloyo, ala kadarnya. Pada saat-saat tertentu, seperti pada hari Jumat Kliwon, Dikromo mengaku bisa menerima uang hingga 50 ribu rupiah. Untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya sekeluarga, ayah 6 orang anak ini bercocok tanam. Namun, baginya, profesi juru kunci yang ia lakoni selama 10 tahunan, adalah sebuah kebanggaan, bentuk tanggung jawab sebagai keturunan Ki Ageng Donoloyo.

Saat ini dengan areal seluas lima hektar, alas Jati Donoloyo mulai menunjukkan tanda-tanda kepunahan. Kayu-kayu jati yang terlihat kokoh, sesungguhnya sudah lapuk dimakan zaman. Bahkan, di sebelah barat Alas Donoloyo, kayu jati yang dulunya tumbuh lebat, telah menjadi lahan pertanian. Pohon jati peninggalan Ki Ageng Donoloyo, hanya tersisa di areal Punden. Kelihatannya, tinggal menunggu waktu, Alas Donoloyo yang menjadi bukti kesetiaan seorang laskar di era Kerajaan Majapahit, kelak hanya tinggal legenda tak berbekas.(Idh)

 

Lihat Video

Bookmark and Share