HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Anak Hilang, Tulang Belulang, Sodomi

Tayang: 21-Jun-2005 00:00 WIB

Anak Hilang, Tulang Belulang, Sodomi

Berita HOT:

Reporter : Gusti Eka Sucahya
Juru Kamera : Dedi Suhardiman

indosiar.com, Pekanbaru - Beberapa waktu lalu, petugas dan warga masyarakat, berhasil menemukan beberapa potongan tulang, di daerah penuh semak belukar, di kawasan Kecamatan Tampan, Kota Pekanbaru, Propinsi Riau.

Potongan tulang belulang ini, diyakini berasal dari tubuh Saiful Amri dan Muhammad Ibrahim, dua bocah berusia 8 dan 7 tahun, yang dilaporkan hilang sejak 18 Februari lalu. Sisa – sisa pakaian, serta sepatu yang ditemukan bersama tulang belulang ini, meyakinkan kedua orang tua korban, bahwa temuan mengejutkan ini adalah anak mereka. Doa mereka untuk menemukan anak – anak mereka pun terjawab, walaupun kedua bocah yang bersahabat dekat ini, ditemukan hanya tinggal kerangka saja.

Penemuan tulang belulang anak – anak, yang sebelumnya dilaporkan hilang ini, spontan memicu kepanikan diantara orang tua murid. Terutama mereka yang memiliki anak usia sekolah dasar. Antar jemput terhadap anak – anak mereka – pun, menjadi suatu kewajiban. Terlebih lagi, beberapa anak yang dilaporkan hilang sejak akhir tahun lalu, hingga saat ini masih ada yang belum diketahui rimbanya.

Banyaknya angka laporan kehilangan anak akibat penculikan, yang berakhir dengan penemuan mayat anak – anak yang dilaporkan hilang tersebut, tentu membuat hati miris. Terlebih lagi, anak yang hilang, serta lokasi penemuan mayat mereka, ada di wilayah yang sama, Kecamatan Tampan, yang daerahnya banyak terdapat rimbunan semak belukar.

Adalah Amrizal, seorang lelaki berusia sekitar 45 tahun, yang tak akan pernah lupa, bagaimana semak belukar telah menyimpan misteri kematian anaknya. Amrizal adalah ayah dari mendiang Saiful Amri.

Salah seorang anak yang hilang, dan kemudian hanya tulang belulangnya saja yang berhasil ditemukan. Namun kenangan akan suara merdu mendiang Saiful Amri saat mengaji, akan selalu hidup dalam benaknya. Hilangnya Saiful Amri, dan Muhammad Ibrahim, dua orang sahabat karib yang sama – sama bersekolah di SD 039, terjadi pada tanggal 18 Februari lalu.

Dua orang pemuda misterius, yang dikabarkan membawa pergi Saiful Amri, dan Ibrahim, siang itu nampak mengamati sekitar SD 039, dimana kedua anak ini bersekolah. Tidak ada yang mencurigai keberadaan kedua orang pria misterius ini, sehingga tidak ada yang betul – betul memperhatikan, akan hadirnya 2 orang asing, yang memiliki niat jahat di lingkungan mereka.

Saat tiba waktu pulang sekolah, dan anak – anak mulai menghambur keluar halaman sekolah, kedua orang pria misterius ini – pun mengikuti langkah Saiful dan Ibrahim. Dua sahabat karib yang selalu pergi dan pulang sekolah bersama – sama ini, tidak menyadari bahaya yang mengincar mereka. Dan saat keduanya berada di jalanan yang sepi, diantara semak – semak, jejak keduanya tak pernah terdengar lagi, hingga akhirnya tulang belulang mereka ditemukan tak jauh dari rumah mereka, 3 bulan kemudian.

Rimbunan semak belukar disalah satu sudut Kecamatan Tampan ini, adalah salah satu tempat yang tak akan pernah dilupakan oleh Sadikun, ayah seorang bocah bernama Khairil Anwar. Tubuh membiru Kharil Anwar serta sepeda miliknya, ditemukan tergeletak di antara semak belukar, pada 21 April lalu, dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Jasad Khairil akhirnya ditemukan, setelah ia menghilang selama 3 hari.

Hilangnya Khairil, bermula saat ia diminta menjemput adiknya sepulang sekolah. Namun ternyata, sang adik tiba di rumah tanpa kehadiran sang kakak. Kecemasan – pun menghinggapi keluarga Sadikun, terlebih ketika Khairil tak juga pulang, hingga beberapa hari.

Namun pencarian Sadikun layaknya pungguk merindukan bulan, karena akhirnya ia harus menerima kenyataan, bahwa anaknya telah meninggal. Penemuan tubuh Khairil, sebelumnya didahului oleh penemuan sepeda yang biasa dipakainya. Mendiang Khairil Anwar, bukanlah anak yang terlalu menonjol di sekolahnya. Baik dari segi pelajaran, maupun pergaulan. Khairil hanyalah anak biasa – biasa saja.

Khairil juga bukan berasal dari keluarga berada, sehingga penculikan terhadapnya, sangat kecil kemungkinannya bermotif perampokan, atau bahkan pemerasan. Namun demikian pihak sekolah menduga, si pelaku penculikan telah terlebih dahulu mengamati korbannya.

Hilangnya Khairil Anwar, yang kemudian berlanjut dengan penemuan mayatnya, sangat mengejutkan pihak keluarga dan warga sekitar. Karena sekali lagi, di wilayah tempat tinggal mereka, berkeliaran orang atau sekelompok orang berwatak jahat, yang sewaktu – waktu bisa mengarahkan pandangan matanya pada anak mereka, untuk kemudian menculiknya.

Ditengah petugas berusaha mencari siapa pelaku dibalik peristiwa penculikan anak – anak ini, tersiar kabar bahwa bocah – bocah bernasib malang ini, sebelum menemui ajalnya sempat mengalami kekerasan seksual, yaitu sodomi. Berita ini semakin membuat panik orang tua murid. Karena ternyata selain berhadapan dengan bahaya penculikan, anak – anak mereka juga harus berhati – hati, terhadap para pelaku penculikan, yang diduga menderita penyimpangan seksual.

Namun demikian menurut pihak berwajib, kasus hilangnya anak – anak akibat penculikan, tidak bisa serta merta dikatakan bahwa mereka juga mengalami kekerasan seksual sodomi. Bahwa sebagian dari mereka diduga mengalami kekerasan seksual berupa sodomi, masih dalam penyelidikan petugas.

Pernyataan resmi dari pihak berwajib ini, sepertinya belum cukup memuaskan banyak kalangan, terutama para orang tua murid, yang anaknya duduk di bangku sekolah dasar. Terlebih lagi setelah tersiar kabar, Satuan Reskrim Poltabes Pekanbaru menahan dua orang pelaku sodomi.

Penangkapan dan penahanan dua orang pelaku sodomi, oleh pihak kepolisian, sempat membuat warga Pekanbaru, khususnya warga Kecamatan Tampan, menghela nafas lega. Namun kelegaan mereka hanya semu belaka, karena hingga saat ini, pihak kepolisian belum menemukan benang merah antara 2 orang pelaku sodomi yang tertangkap, dengan banyaknya anak hilang yang kemudian ditemukan telah tewas.

Tersangka pertama adalah Hendrianmansyah, atau yang biasa disapa Herman. Seorang bocah kelas 2 SMP, berusia 14 tahun. Mengejutkan memang, namun demikianlah adanya. Herman memang melakukan kekerasan seksual sodomi terhadap seorang bocah lelaki berusia 8 tahun, sebut saja namanya Putra.

Kehidupan Herman memang berubah saat hari terakhir ia bertemu teman – temannya. Herman tak bisa menolak, ketika teman – temannya mengajaknya memasuki sebuah warung internet. Disinilah Herman mengakui, ia melihat gambar – gambar khusus dewasa, yang seharusnya tak boleh dilihatnya.

Usai melihat gambar – gambar itu, pikiran Herman tak menentu. Saat ia melihat seorang bocah, Putra, tengah bermain layang – layang, timbul pikiran kotor Herman. Ia pun menghampiri Putra, dan bermain bersamanya. Namun sejurus kemudian, ia menyeret Putra ke semak – semak, dan melampiaskan hasrat seksualnya, setelah sebelumnya mengancam Putra. Putra yang tak berani melawan, akhirnya hanya bisa berlalu, sambil menahan rasa sakit, akibat ulah Herman.

Sementara itu pelaku lainnya, Iwan, seorang pemuda berusia 25 tahun, dimintai keterangan atas apa yang diperbuatnya 3 tahun silam. Seperti biasanya, Iwan yang sehari berprofesi sebagai pengamen, mengadu nasibnya di tengah kota, dengan mengandalkan suaranya. Setelah seharian mengamen, Iwan pulang dengan badan penat. Saat itulah ia melihat korban, sebut saja Boy, dan mengajaknya ke dalam kamarnya.

Di dalam kamar, Iwan meminta Boy untuk menginjak – injak punggunggnya, dengan iming – iming upah dua ribu rupiah. Namun tak lama kemudian, Iwan mengajak Boy berbaring. Setelah itu, Boy – pun harus mengalami kesakitan yang sama dengan Putra, karena Iwan melakukan sodomi terhadapnya, sebanyak 3 kali. Dari jam satu siang hingga jam tiga sore.

Perbuatan Iwan langsung diketahui saat itu juga, karena saat Boy pulang ke rumah, ia menangis dan mengadukan perbuatan Iwan kepada keluarganya. Iwan – pun berurusan dengan aparat hukum. Namun setelah beberapa waktu ditahan, Iwan dibebaskan karena keluarga kedua belah pihak, telah berdamai.

Namun demikian menurut petugas, perbuatan yang dilakukan Iwan 3 tahun lalu, kembali dilaporkan keluarga korban, sehingga ia kembali dimintai keterangan sebagai tersangka.

Rangkaian peristiwa ini, penculikan terhadap belasan anak, beberapa ditemukan telah menjadi mayat, sungguh merisaukan hati para orang tua. Petugas sementara ini belum bisa menghubungkan dua orang yang ditangkap itu dengan aksi penculikan anak-anak sekolah itu.

Sungguh sebuah rangkaian peristiwa yang tidak sepatutnya dibiarkan berlalu begitu saja. Ini adalah tantangan kepolisian untuk mengungkap pelaku penculikan dan pembunuhan terhadap anak – anak malang ini. Para orang tua juga disadarkan untuk menjamin keselamatan anak-anaknya, misalnya dengan tidak mudah percaya pada orang yang tak dikenalnya. (Sup)

Video Streaming

Bookmark and Share