HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Apa dan Bagaimana Penyakit Sapi Gila



Berita HOT:

Untitled Document indosiar.com - Sepekan terakhir ini, industri daging asal Amerika Serikat sedang terpuruk akibat ditemukan kasus penyakit sapi gila yang pertama yang menimpa sapi perah Holstein berusia 6,5 tahun. Akibat dihentikannya sebagian besar ekspor sapi AS, sekitar 24 negara termasuk Jepang telah melarang masuknya daging sapi AS, larangan yang secara serius mengancam industri ternak AS senilai 27 miliar dolar AS dan membuat persediaan perusahaan pangan jungkir balik.

Sapi perah Holstein tersebut diduga mengidap Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE) atau penyakit "sapi gila". Penyakit ini adalah penyakit pada sapi dewasa yang menyerang sistim syaraf otak dan medulla spinalis dan bersifat fatal (fatal neurological disease). Penyakit ini selain menyerang sapi, juga dapat berjangkit pada manusia dalam bentuk creutzfeldt jakob disease (pengerutan otak) melalui konsumsi daging maupun produk turunan dari sapi yang terinfeksi. Sejak ditemukan pertama kali di Inggris pada 1986, kasus sapi gila telah memakan korban 137 orang meninggal.

BSE merupakan penyakit yang disebabkan oleh sejenis protein prion (Prion Protein/PrP) dan dikategorikan kedalam golongan Transmissiblle Spongiform Encephalopathy (TSE). Kasus pertama sapi dengan penyakit ini, ditemukan di Inggris sekitar pertengahan 80-an. Pada 1986, para ahli di Inggris menemukan bahwa penyebab BSE, penyakit yang menyerang otak ini, adalah pakan (makanan ternak). Pakan itu mengandung sisa-sisa ternak sembelihan seperti isi perut (jeroan) dan tulang belulang yang tidak dijual untuk konsumsi manusia. Sisa-sisa itu diolah menjadi makanan ternak yang disebut MBM (meat bone meal). Sejak ditemukan pertama kali di Inggris pada 1986, kasus sapi gila telah memakan korban 137 orang meninggal.

Organ-organ sapi yang paling rawan terkena penyakit sapi gila ialah otak, urat tulang belakang, mata, dan ujung usus kecil. Sapi, diduga satu-satunya jenis hewan yang dapat tertular sapi gila, karena penularan antar binatang masih belum jelas sementara kasus pada manusia sudah terbukti. Penyakit ini memiliki masa inkubasi sekitar 4 hingga 6 tahun. Masa inkubasi sapi gila pada manusia cukup panjang, yaitu antara 5 hingga 20 tahun.

Kerusakan jaringan otak pada manusia yang tertular sapi gila, dipicu oleh organisme yang menyerupai virus (protein yang bisa ditularkan, yang disebut prion). Beberapa bulan atau tahun setelah terinfeksi, tidak timbul gejala. Namun, secara perlahan, kerusakan otak bertambah dan penderita mengalami demensia (penurunan kemampuan intelektual).

Penyakit sapi gila, yang pada sapi membuat perilaku sapi menjadi agresif, pada manusia juga berdampak pada kesehatan mental dan perilaku, mendekati gila. Kelainan otak yang dialami penderita ditandai dengan penurunan fungsi mental yang terjadi dengan cepat, disertai kelainan pergerakan.

Pada awalnya, gejalanya mirip demensia lainnya, yaitu tidak peduli akan kebersihan badannya, apatis, mudah marah, pelupa dan bingung. Beberapa penderita merasakan mudah lelah, mengantuk, tidak bisa tidur atau kelainan tidur lainnya. Kemudian gejala-gejalanya dipercepat, biasanya jauh lebih cepat dari pada penyakit alzheimer, sampai penderita betul-betul pikun. Kedutan/kejang pada otot biasanya muncul dalam 6 bulan pertama setelah gejala dimulai. gemetar, gerakan tubuh yang janggal dan aneh juga bisa terjadi. Selain itu, penglihatan penderita juga kabur atau suram.

Penyakit ini tidak dapat disembuhkan, dan progresifitasnya tidak dapat diperlambat. Bisa diberikan obat-obatan untuk mengendalikan perilaku yang agresif (misalnya obat penenang, anti-psikosa). Untuk mencegahnya, dihindari pencangkokan jaringan manusia yang terinfeksi atau menghindari makan jaringan hewan yang terinfeksi.

Kalau sudah terkena, diagnosis berdasarkan kemunduran fungsi mental yang terjadi dengan cepat atau disertai oleh kedutan otot. Pemeriksaan sistem saraf dan motorik menunjukkan kedutan otot dan kejang (mioklonus). Ketegangan otot meningkat atau bisa terjadi kelemahan dan penyusutan otot. Bisa terjadi refleks abnormal atau peningkatan respon dari refleks yang normal.

Pemeriksaan lapang pandang menunjukkan adanya daerah kebutaan yang mungkin tidak disadari oleh penderitanya. Juga terdapat gangguan koordinasi yang berhubungan dengan perubahan persepsi visual-spasial dan perubahan di dalam serebelum (bagian otak yang mengendalikan koordinasi).

Pemeriksaan eeg (rekaman aktivitas listrik otak) menunjukkan adanya perubahan yang khas untuk penyakit ini. Pemeriksaan khusus terhadap jaringan otak untuk memperkuat diagnosis, hanya dapat dilakukan jika penderita sudah meninggal dan diambil contoh otaknya untuk diperiksa.

Demensia total biasanya terjadi dalam waktu 6 bulan atau lebih. Saat itu, penderita menjadi benar-benar tidak mampu merawat dirinya sendiri. Dalam waktu yang singkat penyakit ini berakibat fatal, biasanya dalam waktu 7 bulan. Kematian biasanya terjadi akibat infeksi, gagal jantung atau kegagalan pernafasan. Beberapa penderita bertahan hidup sampai 1-2 tahun setelah penyakitnya terdiagnosis.

Indonesia sendiri telah bebas BSE. Ini berdasarkan Kep. Mentan No. 367/Kpts/TN.530/12/2002 tentang Pernyataan Negara Indonesia Tetap Bebas Penyakit Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE) pada tanggal 12 Desember 2002.

Selain itu, volume impor daging sapi dari Amerika Serikat ke Indonesia per tahun 6.500 ton (kurang dari 4%) dari total impor per tahun, sedangkan sebagian besar lainnya diimpor dari Australia dan New Zealand. Terbatasnya volume impor daging dari AS tersebut antara lain disebabkan karena faktor jarak yang cukup jauh disamping faktor persaingan harga.

Untuk mencegah masuknya penyakit BSE ke Indonesia telah ditempuh beberapa kebijakan sejak terjadinya wabah BSE di dunia antara lain :

  • Pelaksanaan Prosedur Importasi Hewan dan Produk Hewan
    Sebelum importasi hewan dan produk hewan dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan pengkajian status hewan di calon negara pengekspor terutama terhadap penyakit hewan yang dikategorikan dalam Daftar-A OIE dan Daftar-B OIE (terutama BSE, karena sifatnya yang menular pada manusia dan belum ditemukan obatnya), diikuti pengkajian analisa resiko importasi serta pengkajian yang menyangkut Sanitary dan Phytosanitary (SPS) melalui MOU dan atau protokol kesehatan hewan,

  • Pembatasan Impor melalui Keputusan Menteri Pertanian dan Direktur Jenderal Bina Produksi Peternakan yang kemudian dinotifikasikan ke World Trade Organization (WTO), yaitu :
    1. Surat Edaran Dirjen Bina Produksi Peternakan No. TN.420/167/D/0496 tanggal 22 April 1996 mengenai penghentian sementara Pemasukan Bahan Asal Ternak Ruminansia dari negara negara Eropa
    2. Surat Edaran Dirjen Bina Produksi Peternakan No. TU210/58/E/01.2001 tanggal 29 Januari 2001 tentang Penghentian sementara Pemasukan Ternak dan Produks Ternak dari negara negara Uni Eropa
    3. Surat Edaran Dirjen Bina Produksi Peternakan No. tn.680/35/e/01.2001 tanggal 29 Januari 2001 tentang Penghentian sementara Pemasukan Daging Sapi dari Irlandia
    4. Notifikasi ke WTO tanggal 12 Pebruari 2001 tentang Pelarangan sementara pemasukan ternak ruminansia dan produknya yang berasal dari negara - negara Eropa
    5. Keputusan Menteri Pertanian No. 445/Kpts/TN.540/7/2002 tanggal 15 Juli 2002 tentang Pelarangan Pemasukan Ternak Ruminansia dan Produknya dari negara tertular BSE

  • Kebijakan Pelarangan Penggunaan Tepung Daging, Tepung Tulang, Tepung Darah, tepung Tulang dan daging dan Bahan lainnya asal ruminansia sebagai pakan ternak ruminansia melalui Kep. Mentan No. 471/Kpts/530/7/2002 tanggal 30 Juli 2002
  • Melakukan survailans melalui pengamatan gejala klinis syaraf dan pemeriksaan laboratorium di seluruh Indonesia (Balai Penyidikan dan Pengujian Vereriner Regional I s/d VII, Dinas Peternakan, Pos Keswan dan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor) sejak tahun 2000 yang mengacu pada standar Badan Kesehatan Hewan Internasional (OIE) dengan hasil hingga sekarang adanya kecurigaan terhadap BSE.
  • Penyiapan Kesiagaan Darurat Veteriner Indonesia (KIATVETINDO) BSE.
  • elakukan secara berkesinambungan penilaian resiko BSE yang meliputi kajian-kajian khususnya terhadap importasi MBM dan penelusuran penggunaan MBM, importasi ruminansia, embrio dan oval, surveilans histopatologi, produk tepung tulang, upaya kesiagaan darurat serta peningkatan kepedulian masyarakat (public awareness).
  • Surat Direktur Jenderal Bina Produksi Peternakan Nomor 510/2409/DKH/0503 tanggal 22 Mei 2003 perihal Penghentian Sementara Pemasukan Ruminansia dan Produknya dari Kanada.
Untuk mempertahankan status bebas BSE di Indonesia, tindakan yang dilakukan adalah :
  • Melanjutkan survailans dengan pengamatan klinis dan pemeriksaan laboratorium
  • Melakukan tindak pencegahan dan penolakan secara ketat dan tegas terhadap kemungkinan masuknya penyakit BSE sesuai peraturan perundangan yang berlaku
  • Sosialisasi Kesiagaan Darurat Veteriner Indonesia
  • Meningkatkan public awareness terhadap BSE melalui penerbitan leaflet, booklet, buku saku dan lain - lain
  • Meningkat kemampuan SDM di laboratorium melalui pelatihan diagnosa BSE
  • oordinasi dengan Departemen Kesehatan, membentuk kelompok kerja Transmissible Sponguform Encephalopathy untuk memberikan masukan kepada instansi terkait dalam menentukan skala permasalahan dan dampak yang ditimbulkan TSE di Indonesia serta dalam menentukan langkah tindak lanjut yang terkait dengan penatalaksanaan pencegahan TSE.(berbagai sumber/Idh)


Bookmark and Share