HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
RAGAM

Awas Listrik Padam!



Liputan: Budi Sampurno
Juru Kamera : Sri Indro Purnomo, Iwan Agung
Produser : Widayat S Noeswat
Tayang : Senin, 17 Maret 2008, Pukul 12.30 WIB


Itulah yang dirasakan masyarakat Jakarta dan sekitarnya, pada minggu ketiga Februari lalu, karena PT PLN distribusi Jakarta Raya yang bertanggung Jawab menyediakan energi listrik, melakukan pemadaman secara bergilir, selama tiga hari berturut turut.

Pasalnya pasokan listrik wilayah Jakarta mengalami defisit 300 megawatt, dari beban puncak sebesar 4700 megawatt. jumlah pelanggan di seluruh wilayah Jakarta, mencapai 3,2 juta, dan 80 persennya adalah rumah tangga. Sejumlah warga Jakarta menyesalkan pemadaman listrik yang dilakukan PLN. Disamping sosialisasinya yang tidak jelas, pemadaman sepihak juga dinilai tidak adil.

General Manager Pusat Pengatur dan Penyalur Beban Jawa-Bali PT PLN (persero) Mulyo Adji mengatakan, pemadaman di Jawa dan Bali untuk mengurangi beban sebesar 702 megawatt, terbagi menjadi wilayah Jakarta dan Banten 288 megawatt, Jawa Barat 187 megawatt, Jawa Tengah dan diy 179 megawatt, Jawa Timur 31 megawatt, dan Bali 17 megawatt.

Hal ini terjadi akibat sejumlah pembangkit tidak memasok listrik secara penuh, akibat pasokan batu bara sebagai energi primer untuk mesin, tersendat, karena gelombang laut yang tinggi. Sehingga sejumlah pembangkit listrik seperti PLTU Tanjung Jati, jateng, PLTU Cilacap, PLTGU Muara Karang, dan PLTGU Muara Tawar, tidak beroperasi penuh, atau ada yang berhenti beroperasi.

Agar pemadanam tidak berlanjut, PLN meminta masyarakat mengurangi pemakaian listrik hingga 20 persen.


Pemadaman listrik bukan hanya terjadi di wilayah Jakarta dan sekitarnya, namun di hampir seluruh wilayah Jawa dan Bali, serta wilayah wilayah lain di sumatera, dan kalimantan. Bahkan di pulau Bali, pemadaman pernah dilakukan merata di berbagai daerah. karena PT PLN wilayah Bali mengurangi pasokan listrik hingga 80 megawatt.

Di Medan, Sumatera Utara, pemadaman listrik sudah terjadi bertahun tahun, dan dirasakan sudah mengganggu kegiatan masyarakat dan dunia usaha terutama para pemilik hotel. dari data Asosiasi Pengusaha Indonesia Sumatera Utara menyebutkan, 75 persen dunai industri sangat tergantung pasokan listrik dari PLN. Warga dan para pengusaha, bahkan sempat berkali kali melakukan protes ke PLN setempat, karena keluhan mereka tidak pernah ditanggapi serius.
 
Hingga hari ini pemadaman di kota Medan bahkan semakin parah. Dalam sehari pemadaman bisa terjadi tiga kali dengan lama masing masing 3 jam. Hal ini terjadi karena kebutuhan listrik di kota Medan mencapai 1300 megawatt, sementara pasokan hanya 900 hingga 1100 megawatt. Akibatnya para pemilik hotel, harus mengeluarkan biaya extra, untuk menghidupkan genset.

Dalam kondisi normalpun, pemadaman listrik di Jawa dan Bali, sebenarnya sudah diperkirakan dua tahun lalu. PLN telah memperkirakan pada tahun 2008, akan terjadi defisit listrik yang cukup besar, karena tidak ada penambahan pembangkit listrik baru. karena penambahan pembangkit baru beroperasi tahun 2009.

Pemadaman listrik yang kerap dilakukan PLN bukan tanpa sebab. Pemerintah dalam hal ini PLN jauh jauh hari berteriak bahwa krisis energi listrik sudah di depan mata. Padamnya listrik di Jawa-Bali merupakan pertanda bahwa pasokan listrik dalam sistem interkoneksi sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan listrik masyarakat dan industri yang terus meningkat rata rata 5 persen.

PT PLN selama ini berdalih, cuaca buruk yang mengakibatkan tersendatnya pasokan batu bara, dan meningkatnya harga minyak dunia, menjadi biang keladinya.

Jika cuaca semakin memburuk, sebagai contoh pembangkit listrik Suralaya hanya akan mampu bertahan hingga beberapa bulan kedepan, bilamana pasokan batu bara dari Kalimantan dan Sumatra tidak segera tiba. Saat ini saja pasokan batu bara yang tersedia hanya 12 ribu ton .

Di sisi lain, kasus kebocoran penggunaan listrik tentu menambah parah krisis listrik. karena tingkat kebocoran listrik disinyalir berkisar antara 10 hingga 15 persen setiap tahunnya. Kebocoran antara lain akibat pencurian listrik, salah catat dan oknum oknum yang seenaknya mempertebal kantong pribadi dengan cara korupsi .

Di wilayah Jakarta, yang merupakan pengguna listrik terbesar untuk wilayah Jawa dan Bali, kasus pencurian listrik, bukan hal baru. pencurian dilakukan dengan berbagai modus oleh warga, pelaku industri, hotel, hingga, tempat hiburan malam.

Jika kebocoran bisa ditekan hingga dibawah 10 persen saja, maka PLN menyelamatkan uang lebih dari Rp 2,5 triliun. Dengan tambahan tersebut tentunya dapat digunakan untuk melayani tambahan 1,5 juta pelanggan PLN yang berdaya kurang dari 450 volt amphere.

Di wilayah distribusi Jakarta Raya, dari tahun 2006 hingga 2007, kebocoran dapat ditekan 11,96 hingga 10,21 persen atau1,75 persen. Uang negara yang dapat diselamatkan sebesar Rp 384 milyard.

Beberapa cara jitu, juga diupayakan untuk mencegah pencurian lsistrik, seperti penggunaan teknologi baru. Walaupun saat ini baru digunakan untuk kategori industri.

Pemerintah sendiri selama ini sudah pasti kedodoran jika terus terbebani oleh subsidi yang diberikan kepada PLN. Dalam APBN 2008 pemerintah memberi subsidi hingga Rp 42,64 triliun, sungguh sebuah angka yang sangat fantasis.

Dengan asumsi setiap bulan rata rata perpelanggan membayar listrik Rp 200 ribu perbulan, maka uang sebesar itu, bisa untuk membayar listrik 210 juta pelanggan di seluruh indonesia. Jika subsidi diberikan langsung kepada rakyat miskin, pemerintah bisa memberikan listrik gratis kepada 17,5 juta pelanggan warga miskin perbulan.

Subsidi dilakukan, karena PLN sebenarnya telah menjual listrik jauh di bawah biaya produksi. Berdasarkan perhitungan PLN, untuk memproduksi 1 KWH listrik, diperlukan ongkos Rp 1800, terutama untuk kebutuhan BBM pembangkit listrik.

Sementara pemerintah hanya menetapkan harga dasar listrik Rp 600 / per kwh, sehingga PLN merugi Rp 1200 /kwh. Itupun dengan asumsi harga BBM maksimal 60 Dollar Amerika perbarel. Apalagi saat ini harga minyak dunia telah mencapai 100 Dollar Amerika perbarel.

Dalam kondisi sekarang ini, mau tidak mau, pemerintah harus bersungguh sungguh mengatasi krisis listrik. Selain meminta masyarakat menghemat listrik, pemerintah juga harus memberi contoh nyata. Karena masih banyak instansi pemerintah, tidak mematikan listrik di malam hari, termasuk lampu penerangan jalan yang menyala di siang hari. Karena upaya PLN untuk memberlakukan intensif dan disintensif, ternyata mendapat tentangan berbagai kalangan.

Pemadaman listrik sudah tentu sangat merugikan masyarakat sebagai pelanggan. Pemadaman listrik bukan saja menjadikan warga tak bisa memfungsikan peralatan yang memerlukan energi tersebut, juga berdampak fatal karena rusaknya barang-barang elektronik .
 
Memang diakui kenaikan harga minyak mentah dunia turut menjadikan PLN sendiri kelabakan dalam memenuhi pasokan energi primer sebagai pembangkit tenaga listrik. sementara subsidi dari pemerintah yang terbatas malah menjadi beban bagi PLN untuk tetap memutar otak bagaimana mencari jalan keluar bagi pemenuhan pasokan energi primer tersebut.

Sebenarnya PLN sendiri tak seharusnya selalu bertumpu pada penggunaan minyak bumi, batu bara dan gas dinyakini bisa menjadi alternatif energi primer sebagai pengganti minyak bumi yang saat ini harganya melangit. Namun untuk mengunakan gas, PLN sendiri mempunyai keterbatasan.


Anggota komisi 7 DPR RIi, Ade Daud Nasution meminta pemerintah secepatnya merealisasikan energi alternatif sebagai energi pembangkit listrik, tenaga nuklir dinilai bisa menjadi penjembatan untuk menggantikan minyak bumi dan batu bara.

Rencana PLN untuk memberlakukan intensif dan disintensif, sebagai s alah satu solusi penghematan listrik ternyata ditentang banyak kalangan. Direksi PT PLN yang baru kemungkinan juga akan mengkaji kembali program yang seharusnya sudah mulai berjalan bulan maret ini.

Pemberian insentif dan disinsentif bagi pelanggan dinilai sebagian pihak hanyalah sebuah akal akalan, untuk menaikan tarif dasar listrik. Sudah barang tentu kebijakan tersebut ujung ujungnya selalu menyengsarakan rakyat. Sudah sepantasnya pemerintah lebih arif dalam menelurkan sejumlah kebijakan.

Arif dalam arti kata harus melihat apakah nantinya akan memberatkan masyarakat atau tidak.Dalam hal rencana kebijakan insentif dan disinsentif, janganlah nantinya PLN hanya dijadikan sebagai kambing hitam cercaan pelanggannya, sementara penggantian jajaran direksi sudah selayaknya dapat memperbaiki kinerja PLN dimasa mendatang.(Her)
Bookmark and Share


Page: 1
11-Nov-2009 08:44:09 WIB by agus hariyono
Bagaimana kalau kita ramai2 menggunakan sepeda motor kita utk menghasilkan listrik AC 220 volt??? Jadi tidak perlu nambah dosa dengan menghujat PLN!!!
st_agus_h@yahoo.om

 

Nama:
Email:
Security Code: