HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Ayahku Sayang, Ayahku Bejad



Reporter: Lenasari Aristianti - Zaenal Arifin
Juru Kamera: Ahmad Hadiyin
Tayang: Kamis, 08 Juni 2006 Pukul 12.00 Wib

indosiar.com, Purwakarta - Seorang ayah memperkosa anaknya sendiri yang masih dibawah umur selama 5 tahun. Perbuatan bejad si bapak ini dilatarbelakangi dendam kepada istrinya yang pergi menjadi TKW di luar negeri, lalu hilang tanpa kabar.

Bisa Anda bayangkan, bagaimana si anak yang hidupnya bergantung kepada ayahnya seorang, harus mengambil sikap seperti apa.

Perbuatan bejad si ayah kandung itu terjadi di rumah mereka di Kampung Karang Layung, RT 17 RW 03, Kelurahan Nagri Tengah, Purwakarta, Jawa Barat. Kesanalah Kami kini menuju. Diantar seorang kenalan, pertama kali Kami menemui Ketua RT setempat Pak Asep Saifudin.

Bisa dibilang terungkapnya hubungan intim antara ayah dan anak itu pertama kali terungkap karena ada warga yang curiga, lalu melaporkan kepada Ketua RT. Menindak lanjutinya, Asep pun langsung menanyakan pada sang anak yang bersangkutan soal kebenaran dugaan miring itu.

Dengan adanya pengakuan itu, warga pun melaporkan Isum Sumarna, ayah sang gadis ke Polsek Kota Purwakarta. Isum yang saat itu sedang bekerja di Pasar Rebo Purwakarta sebagai kuli panggul langsung dibawa petugas kepolisian untuk dimintai keterangan.

Ayah dari 8 anak itupun, tidak membantah soal persetubuhannya dengan putri kandungnya tersebut. Ia mengakui perbuatan bejadnya ini ia awali sejak tahun 2001, saat anak gadisnya masih berusia 13 tahun. Alasannya, dendam terhadap sang istri yang meninggalkannya bekerja jadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Malaysia.

Korban yang juga dipanggil polisi untuk dimintai keterangan, kini sudah berumur 18 tahun. 5 tahun melayani nafsu bejad sang ayah, pastilah bukan pilihan mudah baginya.

Masa-masa remaja yang harusnya tengah dinikmati gadis seusianya, justru ia lalui dengan menanggung malu dan aib akibat perbuatan sang ayah.

Kehidupan keluarga sang gadis memang bisa dibilang timpang. Sejak pergi bulan Agustus tahun 2000, sang ibu yang pamit pergi untuk mencari tambahan nafkah sebagai TKW, tak pernah pulang atau mengirim uang.

Sementara sang ayah yang kini sudah sudah ditetapkan sebagai tersangka bekerja srabutan. Dengan penghasilan tak menentu dan harus menanggung 8 orang anak selama 5 tahunan, membuat tersangka selalu menyalahkan sang istri yang juga ibu korban.

Kemarahan terpendam dan nafsu birahi yang tak tersalurkan akhirnya dilampiaskan pada anak keempatnya yang tengah mekar beranjak remaja.

Dalam pemeriksaan, polisi memang tidak menemukan unsur ancaman maupun kekerasan oleh tersangka terhadap korban. Bahkan terungkap juga, sudah sejak lama perbuatan biadap tersangka terhadap korban diketahui oleh anggota keluarga yang lain. Lalu kenapa mereka memilih bungkam, dan membiarkan kemaksiatan itu terjadi.

Warga Kampung Karang Layung di Kelurahan Nagrik Tengah, Purwakarta, Jawa Barat yang tinggal disekitar rumah kontrakan keluarga Isum sumarna mengenal keluarga itu cukup baik.

Umumnya mereka tahu istri Isum sejak tahun 2000, pergi merantau jadi TKW ke Malaysia. Praktis, sejak itu pula kehidupan rumah tangga dikerjakan Isum. Dari mulai mencari uang, memasak hingga mengasuh 6 dari 8 anaknya. 2 anaknya yang tertua sudah menikah dan tidak tinggal di rumah ini. Sementara korban sendiri merupakan anak ke 4.

Di rumah Isum, selain ada anak-anaknya, hadir pula kakak Isum Rosdiana. Ia datang dari Bekasi karena mendengar kabar mengejutkan yang membawa aib itu. Kesedihan terbayang di wajahnya.

Sang adik, Isum Sumarna harus mendekam di penjara, sementara anak-anaknya tak tahu harus berbuat apa. Sudah lama anak-anak tersangka berhenti sekolah karena tidak ada biaya.

Anak ke 4 tersangka yang jadi korban misalnya, hanya mengenyam pendidikan hingga kelas 4 SD. Keberangkatan istri tersangka jadi TKW yang diharap bisa meringankan beban keluarga, ternyata tidak pernah mengirimkan uang sepeserpun. Bahkan tidak diketahui keberadaannya dan dari sinilah bencana itu berasal.

Sebagai pria beristri, wajar memang bila Isum punya kebutuhan biologis yang perlu disalurkan. Sayangnya, Isum tidak pandang bulu dalam memenuhi hawa nafsunya. Tahun 2001, tidak sampai setahun setelah sang istri menghilang, Isum memilih anak keempatnya yang saat itu masih berusia 13 tahun sebagai pelampiasan birahinya.

Malu, binggung dan galau. Itulah kesan yang Kami tangkap ketika bertemu dengan korban. Gadis itu cenderung untuk lebih banyak diam menghadapi masalah ini.

Dari hasil pembicaraan Kami itu juga terungkap, perbuatan tersangka menodai anak kandungnya tersebut sebetulnya sudah diketahui saudara-saudara korban yang lain. Termasuk Nurhazanah, anak sulung tersangka. Sayang, mereka memilih diam.

Geram, tapi merasa tak bisa berbuat apa-apa karena cemas memikirkan nasib adik-adiknya. Hal itu juga yang tampaknya dirasakan korban. Dirinya tahu, perbuatan sang ayah salah, tapi korban memilih bungkam karena khawatir dengan nasib ke empat adiknya.

Dari polisi Kami memperoleh informasi, semula ada dugaan terjadi tindak kekerasan dari si tersangka kepada korban. Namun dalam pemeriksaan selanjutnya, tidak ditemukan ada unsur pemaksaan yang menjurus pada tindak kekerasan.

Menurut tersangka, saat pertama kali ia menodai putrinya, korban sempat berontak sebentar, namun ia suruh diam dan mengatakan kalau ibu korban saat itu juga tengah bersenang-senang dengan majikannya.

Perkataan seperti itulah yang membuat korban pasrah, setiap disetubuhi tersangka. Korban mengakui, ayahnya memang tidak pernah memaksa dan mengancam dirinya. Bahkan korban merasa itu sudah kewajibannya sebagai seorang anak. Pemikiran yang tampaknya merasuki benak korban selama 5 tahun dijadikan pelampiasan nafsu sang ayah.

Diamnya korban bisa jadi juga disalahartikan saudara-saudara yang lain. Apalagi korban juga seperti menyimpan kemarahan pada ibunya yang pergi menghilang. Rasa kasihan, amarah dan takut kehilangan tempat bernaung berkecamuk dalam pikiran perempuan yang hanya mengenyam bangku sekolah hingga kelas 4 SD itu.

Tersangka selalu bersikeras istrinya berselingkuh di tempat kerja hingga tidak ingat keluarga. Dibayang-bayangi pikiran yang belum bisa dibuktikan kebenarannya itu tersangka merasa wajar-wajar saja bila ia menyalurkan nafsu birahinya kepada anak gadisnya itu.

Sejak kepergian istrinya tahun 2001 lalu, Isum memiliki peran ganda. Baik sebagai ayah maupun sebagai ibu. Penghasilan sebagai calo dan kuli panggul, tidak cukup untuk membiayai hidup dirinya dan ke 6 anaknya yang belum menikah. Masalah pun seolah selalu datang menghampiri.

Kalau sudah begitu, Isum melampiaskan kekesalannya dengan minum minuman keras dan pulang ke rumah dengan rasa kesal. Di mata sang kakak, Isum merupakan ayah yang cukup sabar. Meski ditinggal istri, Isum masih sanggup mengurus keluarganya. Rosdiana bisa memahami bila sesekali Isum suka memukul anak-anaknya.

Menurut Ketua RT, Isum memang suka minum minuman keras. Tapi tidak pernah meresahkan warga. Hubungan baik antar tetangga juga tetap terjaga. Tidak ada yang curiga, Isum Sumarna begitu tega menodai anak gadisnya sendiri sampai bertahun-tahun.

Biang keladi perbuatan bejad tersangka semata-mata karena ulah sang istri. Demikianlah kalimat yang selalu terucap dari mulut tersangka. Menurut Isum, pembicaraan terakhir dengan istrinya terjadi pada tahun 2001 lewat telpon. Dari pembicaraan tersebut, Isum menduga istrinya telah berselingkuh dengan majikannya di tempatnya bekerja.

Kakak Isum sendiri Rosdiana mengaku pernah berusaha mencari istri Isum dengan bertanya kepada Ibu Yati, orang yang mengajak iparnya itu jadi TKW. Namun tidak berhasil. Dugaan istrinya telah berselingkuh membuat Isum kecewa. Dan kekecewaannya itu ditumpahkan kepada anak keempatnya yang tengah tumbuh remaja. Entah kenapa, tersangka berpikir anaknya itu harus melayani nafsu birahinya. Untuk menanggung kesalahan sang ibu.

Juga tak pernah terlitas dalam benaknya, sang istri mungkin dalam bahaya. Yang lebih biadap lagi, Isum beralasan tidak punya uang untuk mencari wanita penghibur. Namun toh walau perbuatan Isum sungguh biadap, pihak keluarga khususnya anak-anak Isum termasuk korban berharap agar Isum dapat dibebaskan. Paling tidak mendapatkan hukuman yang ringan.

Penyesalan selalu datang terlambat. Kini Isum hanya bisa menangisi nasib. Selain harus menangung malu, entah nasib apa yang harus dihadapi anak-anaknya kelak. Belum lagi masa depan korban yang dirusak Isum sendiri.

Rencana kakak Isum untuk meminta bantuan kepada kerabat mengasuh anak-anak Isum, semoga membuat kehidupan korban dan saudara-saudaranya jadi lebih baik.(Sup)

Bookmark and Share