HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
RAGAM

Banjir, Derita Kami



Reporter / Kamera : Firdaus Masrun
On air : Jumat, 23 Februari 2007 12.00 WIB

Segmen 1

indosiar.com, Jakarta - Banjir tiga pekan lalu, kini memasuki fase di mana masyarakat Jakarta dan sekitarnya merasakan dampaknya. Begitu membuat sengsara, bahkan mematikan.

Hampir seluruh rumah sakit, kini dipadati keluarga pasien, dan kebanyakan anak-anak. Tidak hanya diare, tapi juga penyakit lain seperti demam berdarah, sampai Leptospirosis, yang bersumber dari kencing tikus.

Banjir besar di Jakarta tiga pekan lalu, kini memasuki fase, di mana warga merasakan dampak yang lebih memukul. Lingkungan yang kotor telah menimbulkan beragam penyakit.

Sejumlah rumah sakit kini setiap hari dipadati keluarga pasien. Membludaknya jumlah pasien, membuat pihak rumah sakit terpaksa menambah tempat pelayanan dengan mendirikan tenda-tenda darurat.

Wajah-wajah lelah tampak dari para orang tua pasien, sebagian bahkan merasakan tekanan mental yang tak tertahan. Maklum banyak dari mereka yang telah berhari-hari di tempat ini. Kurang tidur, kedinginan, belum lagi memikirkan rumah yang belum sempat dibersihkan.

Berbeda dengan minggu pertama pasca banjir, yang kebanyakan pasien menderita diare dan gatal-gatal, memasuki minggu kedua, pasien banyak menderita demam berdarah, inspeksi saluran pernafasan atas atau ispa hingga Leptospirosis, satu jenis penyakit yang bersumber dari kencing tikus.

Mereka yang terkena umumnya terminum air kotor. Situasinya tentu lebih berbahaya. Apalagi ditangani tim medis rumah sakit saat kondisinya sudah kritis, seperti yang dialami bocah berusia 4 tahun bernama Elsyakamalia. Warga Kelirahan Rawa Badak Jakarta Utara ini akhirnya tak tertolong.

Segmen 2

Sampai hari ini belum diperoleh, berapa angka pasti korban yang jatuh. Begitu banyak yang menjalani perawatan, hingga dalam hitungan jam, angka kematian bisa berubah. Sampai dua hari lalu, jumlah mereka yang tak tertolong mencapai ......orang. Kita semua berduka.

Rumah Sakit Umum Koja Jakarta Utara, merupakan rumah sakit yang paling banyak menerima pasien demam berdarah dan beragam penyakit lain yang timbul pasca banjir. Di tempat ini, 24 jam pihak rumah sakit melakukan pelayanan medis. Waktu berjalan cepat, doa-doa bergema, bercampur baur dengan suara tangisan. Banyak dari pasien yang dirawat memasuki tahap kritis.

Hari itu, seorang pasien lagi tak tertolong. Bocah bernama Rafli ini dibawa orang tuanya ke Rumah Sakit Koja memang sudah dalam keadaan kritis.

Menurut Wibowo, pamannya, Rafli sempat empat hari menjalani perobatan jalan di klinik dekat rumahnya di Tanjung Priok Jakarta Utara.

Mereka baru membawanya ke rumah sakit setelah tahu ada pelayanan gratis di rumah sakit ini.Sementara itu di Rumah Sakit Koja, sepasang suami isteri tampak diliputi ketegangan. Detik perdetik mereka terus mengikuti perkembangan anak mereka, Asep Supardi yang saat itu tengah berjuang menyelamatkan nyawanya.

Beberapa menit kemudian, Ade Suryana, ayahnya hanya bisa pasrah. Sang buah hati menyusul Rafli. Ia menjadi korban ke tiga belas. (Supri)

 

Bookmark and Share


Nama:
Email:
Security Code: