
Segmen I
indosiar.com, Jakarta – Banjir, yang melanda Jakarta dan daerah sekitarnya dua pekan lalu, telah membawa kesengsaraan bagi para korbannya. Bukan hanya harta dan tempat tinggal, sebagian dari mereka bahkan harus ikhlas kehilangan anggota keluarganya.
Beberapa rumah sakit, sampai kini masih disesaki pasien korban banjir, kebanyakan menderita anak-anak. Sesekali, terdengar rintihan tangis, saat orang yang mereka cintai, pergi untuk selamanya.
Banjir besar di Jakarta dua pekan lalu, telah membuat susah kami rakyat kecil. Rumah hancur, barang habis dibawa air, dan kini sebagian dari kami dijangkiti penyakit. Diare, disentri sampai infeksi pernafasan, adalah wabah yanyakit yang kini kami derita.
Kebanyakan memang anak-anak, tapi beberapa orang tua juga ikut terjangkit. Di Rumah Sakit Koja saja, jumlahnya mencapai 500-an.Beberapa di antaranya memang tak tertolong, terutama mereka yang sebelumnya memang sudah sakit.
Itu pula yang terjadi dengan suami saya, Endum Bin Saib, ayah dua anak saya. Ia pergi meninggalkan kami. Dua pekan telah berlalu, tapi musibah itu tak juga hilang dari ingatan. Perasaan ini seperti diaduk-aduk. Banjir, memang telah menghancurkan kehidupan kami. Suami pergi saat kami, belum siap kehilangannya.
Ia pergi, tanpa sempat mengucapkan kata perpisahan.Banjir telah pula membuat kami kehilangan tempat tinggal. Kami tak ada lagi uang untuk mengontrak, barang-barang telah habis terjual, sisanya?, hanyut dibawa air.
Segmen II
Orang bijak bilang, di tengah musibah, pastilah ada hikmah yang bisa dipetik. Tuhanpun, tentulah punya maksud atas semua yang terjadi, termasuk bagi Suaebah dan anak-anaknya.
Saya manusia biasa, sungguh tak kuat untuk tak menangis atas musibah yang menimpa kami. Kehilangan suami, kedua anak menderita sakit, dan kini harus hidup menumpang di rumah saudara suami, yang juga hidup pas-pasan.
Di rumah yang berukuran dua puluh meter persegi ini, kami betiga harus berbagi tempat dengan dua belas orang penghuni rumah. Ada rasa tak enak hati, tapi saya benar-benar tak punya pilihan lain.
Telah terbayang, beratnya beban yang harus saya pikul. Sebagai orang tua tunggal fikiran saya tak keruan. Saya bingung, karena kedua anak benar-benar tak bisa ditinggal. Keduanya membutuhkan saya merawat mereka.
Si sulung, Ahmad Syaifudin kini berusia 16 tahun, tapi lihatlah, tak ada yang bisa dia lakukan, demikian juga dengan adiknya Dwi Handayani yang telah berusia 13 tahun. Mereka tumbuh tidak normal..…
Saya tahu, para tetangga prihatin melihat nasib yang kini kami alami. Tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa membantu kami kecuali berdoa karena mereka juga menderita akibat banjir ini. Sering saya mendengar kata orang-orang bijak, bahwa Tuhan pasti punya maksud atas semua ini.Saya berharap, maksud itu masih berpihak untuk kami.
Ke depan saya hanya memikirkan masa depan kedua anak. Saya ibu mereka, tak sanggup membayangkan kedua menghabiskan sisa hidup tergeletak tak berdaya.
Saya menginginkan kesembuhan mereka, walau saya tak tahu caranya. Tuhan, berilah jalan buah kesembuhan anak-anak saya, berilah saya kesempatan membesarkan mereka, menjaga mereka, berilah saya waktu melihat mereka tumbuh normal seperti anak-anak yang lain.
Saya pernah membayangkan memiliki sebuah warung kecil, dari situlah saya memulai segalanya. Asa itu, sampai kini masih saya simpan, dan kini kuucapkan padamu.., karena kini, engkaulah tempatku berkeluh kesan, menumpahkan segala harapan itu. (Firdaus Masrun/Sup)