HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Berburu Tupai di Atas Dahan



Berburu Tupai di Atas Dahan

Tags:

tupai

Berita HOT:

Reporter: Asep Syaifullah
Juru Kamera : Ahmad Susanto
Lokasi : Purworejo, Jateng
Tayang: Rabu, 01 November 2006, Pukul 12.00 Wib

indosiar.com, Purworejo - Hari baru pukul pukul 5 pagi, namun rumah Zaenal Arifin atau Ki Bawono Lengser, di Desa Klepu, Kecamatan Butuh, Purworejo, Jawa Tengah, sudah ramai.

Warga berdatangan ke rumah ini untuk berburu tupai. Ada yang membawa senapan, ada juga yang membawa perangkap.

Zaenal Arifin merupakan pengepul tupai. Karena stok daging tupai persediaannya sudah menipis, maka dia mengundang para pemburu untuk berburu tupai. Tidak kurang dari 40 orang datang untuk ikut berburu tupai.

Sebelum berangkat, mereka mengikuti prosesi ritual. Seluruh alat–alat berburu, seperti senapan angin dan perangkap dibacakan mantra dan doa. Prosesi ritual selesai dilakukan, para pemburupun mulai berangkat.

Tempat berburu adalah kawasan perkebunan kelapa di sekitar Purworejo. Tempat semacam ini memang sangat disukai tupai, karena hewan tersebut sangat senang makan buah kelapa.

Pagi hari merupakan waktu yang paling tepat untuk berburu, karena tupai masih tertidur di dahan. Namun jika angin bertiup kencang, sang buruan akan terbangun dan melompat ke pohon lainnya. Salah seorang diantara pemburu adalah Sunhaji.

Pagi hari merupakan waktu yang paling tepat untuk berburu, karena tupai masih tertidur di dahan.

Namun jika angin bertiup kencang, sang buruan akan terbangun dan melompat ke pohon lainnya. Kejelian sang pemburu tupai terlihat dari caranya melihat buruan di atas pohon.

Setelah posisinya diketahui tupai lantas dibidik. Tembakanpun dilepaskan. Sangat jarang ada tupai yang luput dari tembakan para pemburu ini.

Sementara itu, kelompok pemburu tradisional memanjat pohon untuk memasang perangkap. Biasanya mereka berkelompok, dengan anggota 5 sampai 6 orang.

Kecepatan naik ke pohon merupakan persyaratan para pemburu tradisional. Karena mereka harus cepat memasang perangkap.

Setelah perangkap dipasang, tupai dipancing dengan ketapel. Tupai yang terkejut akan melompat dan terjebak ke dalam perangkap.

Keistimewaan hasil para pemburu tradisional ini, tupai yang ditangkap masih dalam keadaan hidup. Hasil berburu kali ini cukup banyak. Setelah dikumpulkan, sekitar 200 ekor tupai berhasil ditangkap.

Tupai hidup dihargai lebih tinggi, sepuluh ribu rupiah per ekor dan langsung dimasukkan ke dalam kandang. Sedangkan tupai yang mati, harganya hanya lima ribu rupiah per ekor.

Tupai yang mati langsung diolah. Kukunya dipotong dan dipisahkan antara kulit dan daging.

Lalu dipisahkan antara daging, otak, hati dan empedunya, karena masing-masing mempunyai khasiat tersendiri.

Otak tupai dapat mengobati anak terbelakang mental. Sementara janin tupai berkhasiat mengobati wanita mandul. Sedangkan daging tupai jika dimakan secara teratur dapat mengobati penyakit diabetes, kanker, rematik, dan lever.

Daging tupai diolah menjadi berbagai macam makanan seperti sop, sate, rica –rica, stick, dan juga abon. (Suprie)

Bookmark and Share