HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
RAGAM

Bima, Permata yang Terpendam



Produksi: Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal
Penyunting Gambar/Suara: Wahyu Indra Rukmana
Tayang: Rabu, 20 September 2006, Pukul 12.00 Wib

indosiar.com, Nusa Tenggara Barat - Beginilah kondisi Desa Doridungga, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Air bersih merupakan barang langka disini. Lokasi mata air Soritangga, jaraknya sekitar 2 kilometer, dan berada di tepi jurang sehingga sulit dicapai penduduk.

Akibatnya warga harus antri 2 hingga 3 hari untuk mendapatkan air bersih. Seperti yang dialami Abdul Hamid. Setiap keluarga dari 650 keluarga yang tinggal di desa ini mendapat jatah air bersih sebanyak 2 jerigen.

Hal serupa juga terjadi di Desa Bajau, Dusun Nanandere, Kecamatan Donggo. Disini kondisinya jauh lebih sulit. Air merupakan barang yang sangat berharga.Donggo merupakan kecamatan paling tertinggal dari 14 kecamatan di Kabupaten Bima.

Menurut Bupati Bima, Ferry Zulkarnain, letak Donggo yang terpencil dan berada di dataran tinggi, membuat daerah ini memerlukan sarana infrastruktur yang lebih banyak.

Kabupaten Bima memiliki potensi yang besar di bidang perkebunan. Daerah ini dikenal sebagai penghasil jambu mete. Perkebunan jambu mete terdapat di Desa Wadukkopa, Kalla, Kecamatan Donggo.

Namun ketersediaan air menjadi masalah. Kurangnya sumber air membuat warga terpaksa tinggal jauh dari kebun mereka. Selain itu, para petani juga menghadapi masalah pemasaran. Harga jambu mete tak pernah stabil.

Menurut Hali, seorang petani jambu mete, hal inilah yang mengakibatkan warga memilih menimbun jambu mete di rumah daripada dijual. Harga jambu mete yang hanya mencapai 6.500 rupiah perkilogram jauh dari layak. Padahal Bima dapat menghasilkan 500 ton jambu mete per tahun.

Bima juga merupakan penghasil kemiri. Setiap tahunnya, daerah ini dapat menghasilkan 1.500 ton kemiri. Areal tanaman kemiri memiliki urutan ketiga terbesar disamping asam, kelapa, kopi dan jambu mete.

Salah satu daerah penghasil kemiri adalah Desa Donggo, Kalla dan Rorang. Topografi daerah ini yang berada 500 meter diatas permukaan laut dan kondisi lahan yang miring, membuat kemiri tumbuh subur.

Namun petani mengeluhkan harga kemiri yang terlalu murah, sekitar 1.500 rupiah perkilogram. Seperti diungkapkan Yusran Abdullah, seorang petani kemiri. Padahal proses penanaman kemiri hingga panen membutuhkan waktu 4 hingga 5 tahun.

Di bidang pariwisata, Kabupaten Bima juga memiliki banyak potensi. Adu kepala merupakan salah satu pertunjukkan khas Bima yang unik.

Adu kepala merupakan perkelahian antar rakyat yang sudah ada sejak tahun 1816 sebelum Masehi. Pertunjukkan ini merupakan manifestasi kesetiaan rakyat membela raja dengan taruhan nyawa.

Kabupaten Bima juga menjadi daerah transit bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Pulau Komodo dan Labuhan Bajo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Bima telah memiliki sarana infrastruktur yang mendukung tumbuhnya sektor pariwisata, yakni Bandara Sultan Salahudin, dan Pelabuhan Sape.

Daerah ini juga memiliki obyek wisata yang indah, seperti Pantai Torowamba. Pasir putihnya tak kalah dengan Pantai Senggigi di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Selain itu terdapat Pulau Bamba yang luasnya hanya 20 are. Di sekitar pulau ini terdapat pemandangan yang unik, yakni pertemuan ombak dua arah.

Disamping itu, ada pulau ular yang penuh misteri. Terdapat berbagai versi kisah terkait dengan keberadaan pulau yang hanya ditumbuhi dua pohon kamboja ini.

Ratusan ular yang hidup di pulau ini konon merupakan jelmaan keluarga kerajaan yang terdampar di tempat ini.

Jika air laut sedang surut, semakin banyak ular yang berkeliaran di pulau ini. Uniknya, meskipun ular laut ini sangat berbisa, akan jinak bila disentuh dengan tangan.

Posisi geografis Bima yang strategis menjadikan kabupaten ini memiliki potensi yang besar di bidang ekonomi dan pariwisata. Jika digarap dengan baik dan didukung dana para investor, Bima tak kalah potensinya dibandingkan dengan Bali dan Lombok. (Suprie)

Bookmark and Share


Page: 1
16-Apr-2012 18:01:48 WIB by ANDI M. IBRAHIM
Bima terperangkap pola kehidupan instant, dari segi politik misalnya masyarakat bima banyak berbicara "siapa Mendapat Apa" daripada "Melakukan Apa", ketika suhu politik mulai memanas maka masyarakat sangat mudah digiring ke hal-hal destruktif yang menguntungkan. hilangnya nilai-nilai budaya ke-Bima-an sepertinya bima kehilangan arah dan tujuan... jika satu sisi unsur keagamaan lebih kental dengan masyarakat, di sisi lain sifat emosional (perkelahian antar kampung)cenderung digunakan untuk menyelesaikan masalah. bima harus di bangun menjadi sebuah bangunan kokoh yang dilandasi dengan nilai kejujuran, terutama kejujuran penguasa-nya.
25-Nov-2010 20:04:08 WIB by YUFRIDAL FITRI NUR SALAM, MPd.
siapa ya yang siap kirim kemiri buat saya di sby?
15-Sep-2010 11:15:15 WIB by Myamin
Sayangx Pemda Bima lamban berpikir dan bertindak..terkadang rakyat lbh cepat dibanding Pemdanya. Tiap hari libur, utamnya hari libur besar pantai utara Wera hingga Sape dipenuhi wisatawan..sayangx obyek2 wisata yg ada hampir tidak tersentuh pembangunan...sebut saja Pulau Sangiang, pulau Gilibanta, P. Kelapa, Pulau Kambing di Sape, pantai Wane, dll semuax hampir blm tersentuh..mau kemana Bima ke depan
30-Oct-2009 13:10:58 WIB by YUNI
TINGKATKAN DANA RA RASA MBOJO AGAR LEBIH MAJU AZA....DAN DAPAT DIKENAL DIMANA- MANA,JADIKAN MBOJO SEBAGAI KOTA WISAT KECIL YANG SANGAT INDAH....KEMBANGKAN POTEIN SUMBER DAYA ALAM YANG ADA....POKOKNYA BUAT MBOJO MAJU TERUS PANTANG MUNDUR...
24-Aug-2009 10:29:30 WIB by edo
sudah saatnya kita membangun bima yang kita cintai.
5-Jun-2009 15:38:08 WIB by hery alamsyah
gooddddddddddddddddd
15-May-2009 10:38:05 WIB by yuli marno
memang benar kalau bima itu adalah pulau yang sangat indah dan dapat di andalkan untuk salah satu tujuan pariwisata di indonesia, terimakasih untuk penda bima yang terus berbenah untuk kemajuan Bima. trims
5-Nov-2006 22:07:50 WIB by muhamad sarjan
anda benar sekali pak penulis, namun selain dari pada itu ada berbagai atraksi dan kebuadayaan masyarakat yang sangat kental, antara lain rimpu, yang merupakan jilbab khas bima yang sudah ada sejak dulu, selain itu banyak saran pariwisata yang terbengkalai, seperti istana bima yang tidak pernah di upgarde, mohon ke pemda bima untuk memugar istana dan mengisi dengan barang-barang yang melambangkan kerajaan bima, thanks
mone mbojo

 

Nama:
Email:
Security Code: