
indosiar.com, Nusa Tenggara Barat - Beginilah kondisi Desa Doridungga, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Air bersih merupakan barang langka disini. Lokasi mata air Soritangga, jaraknya sekitar 2 kilometer, dan berada di tepi jurang sehingga sulit dicapai penduduk.
Akibatnya warga harus antri 2 hingga 3 hari untuk mendapatkan air bersih. Seperti yang dialami Abdul Hamid. Setiap keluarga dari 650 keluarga yang tinggal di desa ini mendapat jatah air bersih sebanyak 2 jerigen.
Hal serupa juga terjadi di Desa Bajau, Dusun Nanandere, Kecamatan Donggo. Disini kondisinya jauh lebih sulit. Air merupakan barang yang sangat berharga.Donggo merupakan kecamatan paling tertinggal dari 14 kecamatan di Kabupaten Bima.
Menurut Bupati Bima, Ferry Zulkarnain, letak Donggo yang terpencil dan berada di dataran tinggi, membuat daerah ini memerlukan sarana infrastruktur yang lebih banyak.
Kabupaten Bima memiliki potensi yang besar di bidang perkebunan. Daerah ini dikenal sebagai penghasil jambu mete. Perkebunan jambu mete terdapat di Desa Wadukkopa, Kalla, Kecamatan Donggo.
Namun ketersediaan air menjadi masalah. Kurangnya sumber air membuat warga terpaksa tinggal jauh dari kebun mereka. Selain itu, para petani juga menghadapi masalah pemasaran. Harga jambu mete tak pernah stabil.
Menurut Hali, seorang petani jambu mete, hal inilah yang mengakibatkan warga memilih menimbun jambu mete di rumah daripada dijual. Harga jambu mete yang hanya mencapai 6.500 rupiah perkilogram jauh dari layak. Padahal Bima dapat menghasilkan 500 ton jambu mete per tahun.
Bima juga merupakan penghasil kemiri. Setiap tahunnya, daerah ini dapat menghasilkan 1.500 ton kemiri. Areal tanaman kemiri memiliki urutan ketiga terbesar disamping asam, kelapa, kopi dan jambu mete.
Salah satu daerah penghasil kemiri adalah Desa Donggo, Kalla dan Rorang. Topografi daerah ini yang berada 500 meter diatas permukaan laut dan kondisi lahan yang miring, membuat kemiri tumbuh subur.
Namun petani mengeluhkan harga kemiri yang terlalu murah, sekitar 1.500 rupiah perkilogram. Seperti diungkapkan Yusran Abdullah, seorang petani kemiri. Padahal proses penanaman kemiri hingga panen membutuhkan waktu 4 hingga 5 tahun.
Di bidang pariwisata, Kabupaten Bima juga memiliki banyak potensi. Adu kepala merupakan salah satu pertunjukkan khas Bima yang unik.
Adu kepala merupakan perkelahian antar rakyat yang sudah ada sejak tahun 1816 sebelum Masehi. Pertunjukkan ini merupakan manifestasi kesetiaan rakyat membela raja dengan taruhan nyawa.
Kabupaten Bima juga menjadi daerah transit bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Pulau Komodo dan Labuhan Bajo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Bima telah memiliki sarana infrastruktur yang mendukung tumbuhnya sektor pariwisata, yakni Bandara Sultan Salahudin, dan Pelabuhan Sape.
Daerah ini juga memiliki obyek wisata yang indah, seperti Pantai Torowamba. Pasir putihnya tak kalah dengan Pantai Senggigi di Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Selain itu terdapat Pulau Bamba yang luasnya hanya 20 are. Di sekitar pulau ini terdapat pemandangan yang unik, yakni pertemuan ombak dua arah.
Disamping itu, ada pulau ular yang penuh misteri. Terdapat berbagai versi kisah terkait dengan keberadaan pulau yang hanya ditumbuhi dua pohon kamboja ini.
Ratusan ular yang hidup di pulau ini konon merupakan jelmaan keluarga kerajaan yang terdampar di tempat ini.
Jika air laut sedang surut, semakin banyak ular yang berkeliaran di pulau ini. Uniknya, meskipun ular laut ini sangat berbisa, akan jinak bila disentuh dengan tangan.
Posisi geografis Bima yang strategis menjadikan kabupaten ini memiliki potensi yang besar di bidang ekonomi dan pariwisata. Jika digarap dengan baik dan didukung dana para investor, Bima tak kalah potensinya dibandingkan dengan Bali dan Lombok. (Suprie)