
Segmen 1
Dambaan mengasuh anak hidup dengan kondisi normal, adalah keinginan setiap orang tua. Namun apa daya, anakku ditakdirkan menderita cacat fisik dan mental. Ia tetap harus aku asuh.
Sekilas wajah anakku Rani, yang usianya memasuki 7 tahun, seperti anak-anak lain yang hidupnya normal. Dari raut wajahnya, tidak tampak sama sekali memiliki kelainan cacat fisik dan mental. Anakku dalam kesehariannya, hanya bisa tidur dan berguling-guling di tempat tidur.
Di rumah kontrakkan di kawasan Jembatan Gantung, Cengkareng, Jakarta Barat inilah, aku dan suamiku Sugeng serta ketiga anakku, sudah sepuluh tahun, mendiami tempat tinggalku.
Kamar berukuran 3 kali 4 yang kusebut sebagai rumah, aku berteduh, makan, tidur berlima, dengan suamiku dan ketiga anakku.
Sebagai seorang ibu, tidak menyangka sama sekali apa yang bakal diderita anakku ketika ia lahir 7 tahun lalu. Kelainan fisik dan mental bawaan dari lahir, awalnya aku ketahui ketika anakku berusia 7 bulan.
Untung saja kedua anakku yang lain sangat mengerti keadaan adiknya. Untuk makan Rani hanya sambil tiduran. Kondisi tubuhnya tidak kuat lama-lama untuk duduk.
Sebagai anak-anak yang normal di kalangan tetanggaku, usia tujuh bulan sudah dapat beraktifitas seperti membalikkan badan, menggerakkan kaki, dan merangkak. Namun kenyataannya anakku sama sekali tidak berdaya. Upaya membawa anakku ke pengobatan tradisional, tidak membuahkan hasil.
Aku yakin, jika saja aku memiliki sejumlah uang, anakku akan hidup normal. Untuk hidup sehari-hari saja, aku serba kekurangan. Jadi rasanya sulit untuk mengobati anakku ke dokter spesialis, penyakit anakku.
Suamiku yang bekerja sebagai buruh tenaga lepas harian, tentu saja penghasilannya, sama sekali tidak mencukupi.
Sehingga untuk mengobati Rani, aku memilih dengan pengobatan altenatif yang biaya masih terjangkau olehku. Tapi biaya pengobatan itu, selalu dibantu tetanggaku.
Mulanya, aku dan suamiku Sugeng sudah mulai curiga apa yang bakal diderita anakku. Ternyata kecurigaan itu, menjadi kenyataan. Tapi, kejadian itu, bukan merupakan halangan bagku, justru malah menjadi pelajaran hidup bagi aku dan suamiku.
Segmen Dua
Rani anakku yang paling bontot, dari lima bersaudara, tidak dianggap beban bagi kakak-kakaknya, akibat penyakit yang diderita tak mungkin lagi normal. Justru mereka mendukung untuk mengobati Rani sampai sembuh total.
Sampai kini aku belum memikirkan, kapan anakku mulai bersekolah. Karena jika dilihat kedua pergelangan kaki anakku saling melengkung kekiri dan kekanan. Sehingga untuk berdiri normal saja sangat sulit sekali.
Rani hanya bisa duduk dalam hitungan detik. Selanjutnya tubuhnya akan terjtuh kembali. Untuk berbicara pun sangat sulit, tapi anakku seolah sangat mengerti kami rasakan lewat wajah orang tua, serta kakaknya.
Saat yang paling menyedihkan bagiku adalah ketika Rani tidak mau makan. Karena jika kekurangan makan ia akan mudah terserang penyakit.
Memang pada saat usia dua tahun, anakku pernah kritis, dan pernah dirawat di rumah sakit, akibat kejang-kejang dan badan mengalami panas tinggi. Walaupun sudah takdir, niat kerja keras untuk menyembuhkan anakku, aku lakukan semampuku. Aku hanya berharap ada, perubahan sedikit pada kondisi fisik dan mental anakku. (Djoko Sulistyono/Ijs)
Alamat Sugeng, Orang Tua Rani
Jalan : Jembatan Gantung, RT 06/08 NO. 14
Kelurahan Kedaung
Cengkareng, Jakarta Barat.