HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Bursa Batu Aji dan Batu Permata Rawa Bening



Ada yang merah, hijau, kuning, hitam dan berbagai warna lainnya.
Ada yang berukuran kecil, sedang, besar dan super besar.
Dengan berbagai macam bentuk, benda ini mampu menarik perhatian orang untuk memilikinya.

Memasuki areal Bursa Batu Aji dan Batu Permata Pasar Rawabening, Jatinegara, Jakarta Timur, kita akan disuguhi pemandangan menarik. Pasar yang terletak di depan stasiun kereta api Jatinegara, Jakarta Timur ini, memang dikenal sebagai gudangnya berbagai jenis batu yang bisa digunakan untuk perhiasan seperti cincin dan kalung, koleksi pribadi, atau karena batu tersebut dianggap membawa berkah (mengandung makna). Di sana juga dijual, batu-batu yang disebutkan ada 'isi'-nya atau mengandung kekuatan magis.

Sehari-harinya pasar tersebut tidak pernah sepi, karena selalu ramai dikunjungi orang yang tertarik melihat aneka batuan tersebut. Batu-batuan tersebut ada yang dijual dengan harga murah sekitar Rp 5.000 atau batu yang paling mahal sebesar Rp 10 juta untuk batu ruby atau 'blue saphire' atau Rp 20 juta untuk batu jamrud Rusia. Khusus untuk ruby, blue saphire dan jamrud Rusia memang agak mahal karena merupakan batu yang indah bentuk dan warnanya. Umumnya pemakai batu ruby, blue saphire dan jamrud Rusia adalah kalangan atas, bahkan mendiang Putri Diana dari Inggris, cincin pertunangannya berhiaskan batu blue saphire.

Kegiatan pasar tersebut dimulai pada jam 08.00 WIB hingga jam 16.00 WIB. Di areal tersebut terdapat sekitar 350 pedagang batu. Pedagang berskala kecil umumnya menempati lapak-lapak yang disediakan PD Pasar Jaya Rawa Bening, sedangkan pedagang berskala besar menempati kios. Ada sekitar 228 pedagang yang menempati lapak-lapak terbuka, sementara 122 pedagang berjualan di kios. "Kalau lapak harga sewanya murah sekitar Rp 50.000 per bulan sudah termasuk uang keamanan dan retribusi, sedangkan kalau kios setahun sewanya Rp 1 juta," jelas Abdul Majid, yang sudah lima tahun berdagang di Pasar Batu tersebut.

Menurut salah seorang staf PD Pasar Jaya Rawa Bening, Jumali, di areal seluas satu hektar itu selain bursa batu aji dan batu permata, di sana terdapat juga bursa obat-obatan, kios ikan hias, toko makanan, toko tekstil dan satu toko serba ada. Kecuali toko serba ada dan satu outlet kue donat, keseluruhan jumlah kios yang terdapat di Pasar Rawa Bening berjumlah 809 kios.

"Meski banyak kios di sini, tapi orang lebih tertarik mengunjungi kios batu, ada yang sekedar melihat-lihat, ada juga yang membeli. Kalau di kios obat kebanyakan yang datang pedagang obat eceran karena mereka akan menjual kembali obat tersebut, yang dibeli di sini dengan harga miring," jelasnya.

Sedangkan jumlah transaksi keseluruhan khusus untuk bursa batu diungkapkan Jumali mencapai Rp 10 juta per hari, bahkan sebelum krisis moneter transaksi bisa mencapai Rp 25 juta per hari. Hal ini terjadi karena daya beli orang menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Umumnya transaksi-transaksi besar terjadi di kios-kios besar karena selain menjual, mereka juga memasok batu kepada pedagang-pedagang emas yang juga menjual batu untuk perhiasan emasnya.

Senada dengan Jumali, seorang pedagang batu berskala besar yang menempati salah satu kios di sana, Hendro mengatakan keuntungan yang mereka peroleh kebanyakan dari pedagang emas yang membeli batu miliknya untuk aksesori perhiasan emas. "Hampir seluruh pedagang emas yang berada di pasar Jakarta datang ke sini untuk membeli batu, karena kalau mereka jual lagi akan memperoleh untung yang lumayan. Kalau perorangan yang datang ke sini hanya sedikit karena hanya mereka yang tahu tempat ini, itupun terkadang hanya sekedar melihat-lihat," ujar Hendro, yang pada kedua jari tengah dan jari manisnya menggunakan cincin berhiaskan batu giok dan intan.

Menurut data yang terdapat di Dinas Pariwisata DKI Jakarta, Bursa Batu Aji dan Batu Permata ini merupakan salah satu aset budaya dan tujuan wisata nasional, namun menurut beberapa pedagang di sana jarang sekali turis-turis yang datang. Oleh karena itu, mereka mengharapkan kalau memang tujuan wisata, tempat tersebut dimasukkan ke dalam agenda perjalanan wisata di Indonesia. "Kan dari turis kami bisa mengharapkan keuntungan lebih karena bisa dijual dengan dolar," seloroh Amir, seorang pedagang kecil.(Indah Julianti)

Bookmark and Share