HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Derita Tak Berujung

Tayang: 21-Sep-2005 00:00 WIB

Derita Tak Berujung

Berita HOT:

Reporter : Sudrajat
Juru Kamera : Iwan Agung

indosiar.com, Lombok - Lombok, Nusa Tenggara Barat tersohor dengan keindahan pantainya. Menjadikan Lombok sebagai tujuan wisata favorit kedua setelah Bali. Hampir sebagian besar turis mancanegara yang datang ke Bali, selalu menyematkan diri mengunjungi Lombok.

Daya tarik alamnya, menjadikan pariwisata Lombok semakin mengeliat. Namun tidak demikian dengan kehidupan masyarakat Lombok. Tak seindah panorama pantai yang dimilikinya. Kehidupan masyarakatnya seakan menyimpan berbagai persoalan besar terutama bidang kesehatan masyarakat. Banyak ditemukan balita dan anak-anak usia sekolah menderita gizi buruk.

Leli Julianti, gadis kecil berparas ayu ini terpaksa harus menerima kenyataan hidup. Karena asupan gizi yang tak mencukupi saat berusia 6 bulan, ia tak bisa lagi melihat dunia dengan sempurna. Penderitaannya ini berawal dari sakit panas yang tak kunjung turun, disertai dengan keluarnya air mata. Sang ibu mengira, Leli menderita sakit mata biasa.

Tragisnya lagi, ketika berusia 1 tahun, Leli ditinggal selama-lamanya oleh sang ibu. Leli adalah anak bungsu dari suami kelima almarhum ibunya. Selama 5 kali menikah, almarhum ibunya dikaruniai 4 anak. Namun dari 4 anak tersebut, 2 meninggal sejak balita. Hanya Leli dan kakak tirinya Huriah yang dikaruniai umur panjang.

Dibawah asuhan sang ibu, yang kerap tak diberi nafkah materi oleh suami, Leli dan Huriah hidup serba kekurangan. Semasa masih hidup ayah Leli bekerja sebagai buruh pemecah batu. Masalah ekonomi tak mampu menyangga beban hidup keluarga yang semakin berat.

Leli kecil sempat diasuh oleh kakak tirinya Huriah. Mereka berdua tinggal disebuah gubuk kecil peninggalan orangtuanya di Dusun Madas Pedukung, Desa Tamansari, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat.

Huriah yang telah menginjak remaja dan tak memilik pekerjaan ini sering merasa kesal dan menumpahkan kemarahan pada sang adik. Tak ada sedikitpun rasa belas kasih. Kondisi Leli pun semakin parah. Hingga suatu saat, oleh kepala dusun setempat Leli diserahkan kepada bibinya.

Sejak dirawat dan diasuh sang bibi, kondisi Leli berangsur-angsur membaik. Kini Leli Julianti, si gadis kecil berusia 2,5 tahun ini kembali ceria. Bisa tertawa riang meski kedua bola matanya tak bisa melihat lagi.


Anak-anak yang tinggal di pelosok Lombok menjalani kehidupan dalam situasi memprihatinkan.

Fatu Azis, 9 tahun usianya. Azis tinggal bersama orangtua dan ketiga saudara kandungnya di Kampung Seraye, sebuah dusun yang letaknya diatas perbukitan di Desa Lembahsari, Kecamatan Batu Layar, Lombok Barat.

Bulan Maret lalu oleh petugas Kesehatan setempat, Azis divonis menderita gizi buruk tingkat marasmus.

Azis sempat dirawat di puskesmas selama 2 bulan. Berat badannya yang semula 14 kilogram bisa bertambah menjadi 20 kilogram.

Namun setelah kembali ke rumahnya, berat badannya kembali turun drastis menjadi 16 kilogram. Kakinya yang mengecil tak lagi mampu menopang tubuhnya. Ia terpaksa harus digendong bapaknya sejauh 6 kilometer pulang pergi ke sekolah.

Menurut pengakuan bapaknya Kadir, sejak lahir Azis memang sering sakit-sakitan. Badannya kerap panas dan kurus kering. Kadir mengaku tak pernah membawa anaknya ke dokter atau ke puskesmas terdekat, karena tak ada biaya untuk berobat.

Maklum, pekerjaannya sebagai pengarap tanah milik orang lain hanya berpenghasilan 5 ribu rupiah setiap hari. Tentu tak cukup untuk menghidupi istri dan 4 orang anaknya yang masih kecil.

Hidup prihatin, makan nasi dengan lauk seadanya menjadi santapan sehari-hari, itupun kalau ada. Sejak lumpuh, Azis kini lebih banyak menghabiskan waktunya dengan berdiam diri di teras rumah. Dengan tatapan hampa, ia melihat teman-teman sebayanya bermain dan pergi mengaji bersama.

Pupus sudah harapannya bisa bercanda tawa bersama mereka. Namun Azis masih menaruh harapan besar, ia bisa meneruskan pendidikan sekolah dasarnya dan melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi. Entah sampai kapan penderitaannya akan berakhir.


Masalah kesehatan seperti gizi buruk di Lombok, Nusa Tenggara Barat bagai sebuah lingkaran setan. Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan kawin cerai pada masyarakat setempat yang membawa dampak morat maritnya kehidupan ekonomi rumah tangga. Akibat selanjutnya, anak-anak mereka menghadapi masa depan yang suram.

Munculnya kasus gizi buruk di Nusa Tenggara Barat menurut pantauan Dinas Kesehatan setempat penyebabnya antara lain masalah ekonomi keluarga. Orangtua benar-benar miskin sehingga tak mampu membeli makanan bagi anak-anaknya. Atau orangtua mampu memberi makan tetapi minim pengetahuan tentang gizi sehingga asupan gizi yang diberikan pada anak-anaknya sangat kurang.

Selain itu, sanitasi yang buruk dan lingkungan tempat tinggal turut andil lahirnya kasus gizi buruk di NTB. Seperti di Kampung Seraye, Lembah Sari, sebuah perkampungan yang letaknya diatas perbukitan sekitar 5 kilometer dari pusat kecamatan Batulayar, Lombok Barat.

Di dusun ini sangat sulit mendapatkan air bersih. Untuk sekedar mengambil air saja, mereka terpaksa berjalan menuruni bukit sejauh 2 hingga 3 kilometer. Begitu pula untuk mandi, air hanya bisa didapat di sumur-sumur yang ada di masjid-masjid di dataran rendah.

Kehidupan sosial budaya seperti kebiasaan kawin cerai ini juga kerap disebut-sebut sebagai faktor pemicu morat maritnya kehidupan ekonomi keluarga dan terlantarnya anak-anak. Tak mudah membongkar akar persoalan kawin cerai dan poligami di wilayah tersebut.

Kawin mudah menjadi persoalan utama mudahnya timbul perceraian. Rata-rata laki-laki maupun perempuan menikah pertama kali dibawah usia 16 tahun. Kaum perempuan yang kebanyakan berasal dari keluarga pra sejahtera menikah untuk menyelesaikan kesulitan ekonomi. Harapannya, dengan menikah si anak tak lagi menjadi beban orangtua.

Bagai mata rantai. Kawin muda inipun biasanya terjadi pada anak perempuan korban perceraian pula. Karena tak terurus dengan baik, tak ada yang membimbing tumbuh kembang, anak-anak perempuan ini mengambil jalan pintas dengan menikah.

Dengan harapan ada yang mengurus dirinya. Sedang bagi pihak laki-laki, menikah muda usia berarti mengurangi beban kaum laki-laki mengurus rumah tangga.

Mereka beranggapan bahwa dengan kawin muda masih memiliki tenaga yang cukup kuat untuk mengasuh anak dan kuat bekerja. Namun apa yang terjadi pada perkawinan yang dilakukan dalam usia muda.

Ternyata melahirkan persoalan lain. Awal-awal pernikahan jarang muncul persoalan. Namun ketika dihadapkan pada persoalan berat rumah tangga, kebanyakan mereka tak bisa menyikapi secara dewasa.

Akibatnya jika terbentur pada sebuah persoalan, persoalan ekonomi misalnya atau pertengkaran kecil karena perbedaan pendapat diakhiri dengan perceraian.

Ironisnya lagi, kadang untuk mempercepat proses perceraian suami bersikap tak adil terhadap istri-istrinya atau melakukan tindakan kekerasan terhadap istrinya seperti menempeleng atau mengeluarkan caci makian hingga terjadi perceraian.

Faktor lain yang menjadi pemicu tingginya angka kawin cerai, adanya rasa bangga jika mampu melakukan perkawinan lebih dari satu kali. Sebuah survai yang pernah dilakukan Forum Peduli Kawin Cerai dan Hak Anak menemukan bahwa pada satu orang bisa terjadi perkawinan antara 1 sampai 32 kali. Sedang perceraian terjadi antara 1 hingga 22 kali. Perkawinan juga kerap dilakukan dibawah tangan sehingga mempermulus proses perceraian.

Akibatnya ketika proses perceraian berlangsung, masing-masing pihak tidak bisa mengelak, bahkan tidak bisa saling menuntut karena tidak memiliki kekuatan hukum untuk dipertanggungjawabkan.

Anak-anak dan kaum perempuanlah yang pada akhirnya menjadi korban kebiasaan kawin cerai. Kehidupan yang menjadi lebih parah. Usai bercerai, mantan suami tak punya tanggungjawab moral untuk menafkahi anak hasil perkawinan yang dilakukan dibawah tangan.

Sehingga si ibulah yang mati-matian bekerja mencari nafkah untuk sang anak. Di sisi lain, si ibu juga punya tanggungjawab mengasuh anaknya. Kondisi diperburuk jika si ibu tak punya ketrampilan kerja samasekali dengan latar belakang pendidikan yang rata-rata tak sampai lulus sekolah dasar.

Dengan latar belakang kehidupan sosial budaya seperti inilah yang kemudian berakhirnya Leli Julianti atau gadis-gadis kecil lain. Anak-anak korban dari kebiasaan kawin cerai. (Sup)

 

Bookmark and Share