HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Dibalik Gemerlap Batam



Berita HOT:

Reporter : Ninok Hariyani
Juru Kamera : Dedi Effendi

indosiar.com, Batam - Suasana khas kota besar, begitu terasa begitu menginjakkan kaki di pusat kota Batam. Pasar swalayan, restoran, diskotek, karaoke atau hotel berbintang, mudah dijumpai. Kawasan industri bertaraf internasional, ruko-ruko atau kompleks perumahan, yang sebagian berlokasi di perbukitan, melengkapi hingar bingar Batam. Dari tempat-tempat tertentu, tampak daratan Singapura dengan bayangan gedung-gedung menjulang.

Namun siapa sangka, Pulau Batam yang memiliki luas 41.500 hektar atau 76 persen dari luas Singapura itu, di salah satu sudut wilayahnya, menjadi lokasi penampungan aneka jenis barang-barang bekas pakai atau lebih populer disebut barang second hand.

Seperti tape recorder, televisi, lemari es, mesin cuci, sepeda, mainan anak, alat olah raga, spring bed, hingga furniture. Barang-barang ini di datangkan dari negeri seberang Singapura. Kios-kios yang spesial menjual barang-barang bekas ini, salah satunya terdapat di sepanjang jalan di kawasan Tanjung Sengkuang.

Berburu barang second hand, memang membawa kenikmatan tersendiri. Seperti pengalaman Ibu Sri Tuti Laili, yang tengah mencari lemari pakaian. Ia tak perlu repot-repot mengunjungi showroom furniture, cukup dengan mengunjungi kios-kios furniture yang berderet di sepanjang Tanjung Sengkuang. Memang tak semua barang dalam kondisi masih bagus. Asal sabar dan teliti, bisa menemukan barang dengan kondisi 90%. Disamping itu, dari faktor harga, tentu jauh lebih murah jika dibandingkan dengan harga showroom.

Barang-barang bekas pakai ini, didapat para pemilik kios melalui perantara yang disebut toke. Toke lah yang kemudian mendatangkan barang second hand tersebut dari Singapura dalam bentuk kontainer, dengan harga bervariasi. Satu kontainer penuh, harganya berkisar antara 10 hingga 20 juta rupiah. Tak semua barang yang dipesan pemilik kios, dalam kondisi masih bagus atau layak pakai.

Bahkan ada yang rusak sama sekali. Namun selama masih bisa diperbaiki, para pemilik kios akan memperbaiki lebih dulu sebelum dijual kembali. Untuk membedakan barang dalam keadaan masih bagus atau yang telah diperbaiki, biasanya dibungkus plastik.

Agar pembeli puas dan tak menyesal kemudian, penjual selalu mengijinkan pembeli mencoba lebih dulu barang yang diinginkannya, terutama barang-barang elektronik atau sepeda misalnya.

Keuntungan berjualan barang bekas pakai, cukup lumayan. Setidaknya dalam sebulan Sultan yang berjualan sepeda, kipas angin dan vacuum cleaner ini, bisa mendapat keuntungan kotor berkisar antara 2,5 hingga 3 juta rupiah.

Namun semenjak awal tahun 2000, keuntungan para pedagang ini makin merosot. Penyebabnya tak lain karena makin hari makin banyak pesaing. Harga barang pun tak stabil.

Agar terus dapat bertahan, masing-masing pedagang punya kiat tersendiri untuk menarik pembeli. Sebaliknya, bagi pembeli, semakin banyak pedagang barang second hand, makin banyak pula pilihannya. Yang terpenting saat berbelanja barang bekas pakai ini, selain pandai-pandai menawar, mempertimbangkan faktor harga, slogan teliti sebelum membeli, menjadi kunci utama berburu barang second hand.(Idh)

Streaming Batam

Bookmark and Share