
indosiar.com, Situbondo - Seperti inilah suasana panen di lahan pembudidayaan kutu lak, di Desa Tamansari, Kecamatan Banyuglugur, Situbondo.
Kutu lak merupakan kutu yang hidupnya berkelompok dan menempel pada ranting pohon, layaknya benalu namun berwarna keputih-putihan.
Cara pembudidayaan kutu ini relatif mudah. Asalkan ada lahan dengan tanaman jenis pohon basah seperti kesambi, widoro, jenang dan pohon godong, kutu lak bisa menempel dan berkembang biak.
Budidaya kutu lak juga relatif singkat, yakni hanya sekitar 5 bulan dan sudah bisa dipanen.
Cara memanennya pun juga cukup gampang. Kutu lak diambil berikut ranting pohon yang ditinggalinya. Ranting-ranting pohon hanya perlu dipotong-potong, kemudian ditempatkan pada sebuah karung.
Kutu-kutu ini menempel cukup kuat pada ranting pohon, sehingga tidak perlu khawatir rontok saat pemanenan maupun ketika ditempatkan dalam karung.
Bibit kutu ini biasanya bisa hidup pada pohon basah berusia dewasa atau cukup umur. Bibit kutu hanya perlu dibungkus plastik yang diberi lubang, kemudian diikatkan pada ranting pohon. Setelah berkembang biak, kutu akan berterbangan dan hinggap ke pohon lainnya.
Dengan harga 20 hingga 25 ribu perkilogramnya, hasil produksi kutu pohon ini banyak diminati produsen dari negara-negara maju, seperti Jepang, Korea, Jerman, maupun negara di Eropa lainnya, untuk bahan pembuatan kosmetik, lem, hingga isolator listrik.(Tomy Iskandar/Ijs)