HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Dol Musik Tradisional Bengkulu



Tayang: Rabu, 01 Maret 2006, Pukul 12.00 Wib

Reporter : Eliza Amanda
Juru Kamera: Mugi Wiyono
 
indosiar.com, Bengkulu - Alunan suara bersaut-sautan ini dari alat musik disebut Dol. Di Provinsi Bengkulu, Sumatera, alat musik Dol bukan hal yang baru. Iramanya kerap terdengar hampir disetiap sudut kota terutama sore hari.

Dol pertama kali dibawa oleh pedagang dari India. Bentuknya hampir mirip gendang terbuat dari kulit sapi. Ukurannya bervareasi. Diameter Dol terbesar sekitar 70 centimeter dengan tinggi 80 centimeter.

Alat musik tradisional Bengkulu ini terbuat dari bongol buah kelapa atau pohon nangka. Masyarakat Bengkulu sangat akrab dengan alat musik Dol. Mereka biasanya bermain Dol secara berkelompok di rumah-rumah atau sanggar kesenian. Peminatnya tak terbatas pada orang dewasa atau remaja.

Anak-anak TK hingga SD pun mengemarinya. Seperti Kiki, bocah berusia 6 tahun ini gemar alat musik Dol berawal dari sekedar menonton orang menabuh Dol di sanggar depan rumahnya.

Dari sekedar mencoba-coba akhirnya Kiki tertarik menjadi murid tetap di sanggar ini. Setiap dua kali seminggu, ia tekun latihan bersama anak-anak lain. Kiki, satu dari sekian banyak bocah Bengkulu yang suka menabuh Dol. Namun diantara teman-teman sebayanya, hanya Kiki yang terlihat serius yang berlatih.

Tak heran jika dalam waktu 3 minggu, anak bungsu dari 6 bersaudara ini mampu menguasai tiga jenis pukulan wajib Dol. Tiga bulan kemudian kemudian, ia bisa menguasai banyak pukulan dan bisa memainkan lagu untuk mengiringi para penari.

Belum lama ini Kiki terpilih mengikuti festival Dol. Ia dapat peran menabuh Dol besar dibarisan belangkan. Sekilas, pukulan Dol ini jelas tak seimbang dengan tinggi tubuhnya. Tapi Kiki tak kesulitan dan tak mengeluh lelah memainkan dua lagu.

Dan ini merupakan penampilan pertamanya di panggung. Wajar jika sesekali gerak dan pukulannya tertinggal. Meski bisa mempengaruhi penilaian juri, tapi bagi Kiki menang atau kalah bukan tujuan utamanya. Yang penting ia bisa memainkan Dol dihadapan orang ramai. Ia hanya ingin membuktikan kecintaannya pada alat kesenian tradisional peninggalan nenek moyangnya.

Dol, alat musik tradisional Provinsi Bengkulu ini mulanya hanya tampil setahun sekali untuk mengenang cucu Nabi Muhammad SAW di Padang Karbala Husin bin Ali Abu Thalib. Perayaan ritual Tabot setiap bulan Muharam rasanya memang belum terasa lengkap jika tidak diiringi dengan suara dentuman Dol.

Sekitar 150 tahun lalu, Dol memiliki diameter sepanjang 90 centimeter dengan tinggi 100 centimeter. Secara turun temurun, Dol peninggalan zaman dulu dirawat hingga akhirnya sampai ke tangan Abdul Salam, sebagai orang turunan ke 5 pembuat Dol.

Sejak masa Abdul Salam Dol berkembang menjadi lebih bervareasi. Mulai dari yang tingginya sejengkal sampai yang 60 centimeter.

Bahan untuk membuat Dol juga tidak lagi hanya dari batang pohon rambutan atau cempedak. Bola pelampung dan bongol kelapa juga dapat digunakan.

Beginilah cara pembuatan dol dari batok kelapa. Setelah diamplas dan terlihat halus, lalu dicat warna warni. Sebagai penutup digunakan kulit sapi.

Beda lagi membuat Dol dari bongol kelapa. Proses pembersihan bongol kelapa ini agak sulit karena harus dibentuk lebih dulu.

Prosesnya memang hampir sama. Bedanya proses pengikatan kulit sapi pada bongol kelapa besar ini harus kencang dengan menggunakan rotan. Tali rotan dililit satu persatu ke arah vertikal dan horizontal agar ikatan kuat.

Sudah 24 tahun lebih pak Salam serius menekuni bidang alat musik Dol. Hingga akhirnya ia punya show room di depan rumahnya. Kini ia juga memproduksi tasa, gendang panjang, ketipung, gendang zikir dan tabot mini yang dapat dijadikan sovernir.

Omset dari usaha kerajinan yang mempekerjakan 5 orang karyawan ini cukup lumayan. 50 juta rupiah pertiga bulan. Pak Salam sering mendapat pesanan dari luar kota dan luar negeri.

Kini generasi muda penerus Pak Salam sudah bermunculan. Tentu saja seiring dengan semakin mendekatnya kebutuhan akan alat musik Dol disekolah-sekolah dan sanggar kesenian.

Besar kecil Dol tidak mempengaruhi suaranya, karena suara Dol besar ini misalnya, berasal dari senar yang dipasang didalam dol besar. Sedangkan suara Dol kecil berasal dari tebal atau tipisnya kulit sapi.

Bila anda penasaran dengan perbedaan irama Dol yang dimainkan, itu berasal dari pukulannya. Ada tiga jenis pukulan pada Dol yang harus ada yaitu suweri untuk perjalanan panjang, suwena untuk berduka cita dan tamatang untuk suasana riang.

Warna irama dol yang berbeda tersebut lebih terasa ketika dimainkan pada satu lagu.

Dalam festival Dol kali ini penambahan warna suara tidak hanya berasal dari pukulan Dol, tapi berasal dari kombinasi dengan alat musik lain seperti gitar. Ada pula yang berkreasi dengan pukulan kulintang, mangkuk dan belalai gajah.

Modifikasi yang dimasukan dalam musik dol tidak akan mengubah nilai musik Dol. Seorang pengamat musik etnik sudah menjaminnya.

Dalam festival Dol kali ini akhirnya kemenangan berpihak pada kreatifitas, harmonisasi dan kekompakan. Peserta dari dari Kabupaten Bengkulu Utara yang mengkombinasi alat semacam belalai gajah dengan alat musik Dol menuai penghargaan atas usaha dan kreatifitas mereka mengusung dol keatas pentas. (Sup)

Bookmark and Share