
indosiar.com, Nusa Tenggara Barat - Inilah Kecamatan Kilo, salah satu desa terpencil di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat.Tidak adanya sarana transportasi yang memadai, membuat daerah ini terpencil dari dunia luar.
Hal ini mengakibatkan kualitas sumber daya manusianya rendah karena belum mengenal budaya etos kerja. Salah satu hal yang mencolok yang menunjukkan ketertinggalan daerah ini adalah minimnya fasilitas perniagaan. Yang banyak terdapat hanya rumah penduduk dan kantor pemerintahan, beserta tanah kering dan gersang.
Sebenarnya sebelum tahun 2003 ada terminal yang menjadi sarana penghubung Kilo dengan daerah luar. Namun terminal ini dihancurkan sendiri oleh masyarakatnya. Pemicunya mereka marah karena terjadi perubahan trayek. Yang tersisa kini hanya bangunan yang rusak.Padahal Kilo merupakan daerah penghasil utama bawang merah. Dengan tingkat produksi mencapai 600 ton per tahun.
Masalahnya daerah ini kerapkali kekurangan air. Saluran irigasi belum tersedia sehingga pola pertanian hanya mengandalkan tadah hujan. Hanya pada bulan April hingga Juni saja tanaman dapat tumbuh subur karena musim hujan. Pada bulan-bulan lainnya gagal panen mengancam.
Saluran irigasi baru terdapat di Desa Melaju. Namun baru dapat mengairi 140 hektar lahan yang dikelola 130 petani saja. Sementara 100 hektar lahan lainnya tidak dialiri air irigasi. Petani mencoba menggunakan sumur bor, namun menghadapi kendala kurangnya sumber mata air.
Meskipun potensinya besar, bertani bawang merah tak dapat terlalu diandalkan. Harganya sejak beberapa tahun lalu tidak pernah mengalami kenaikan. Hanya berkisar 300 ribu rupiah per kwintal.
Upaya pembangunan telah dilakukan agar Kilo terlepas dari ketertinggalan. Sebuah dermaga telah dibangun di Dusun Paropa Desa Melaju. Namun karena dana dari Bank Dunia macet, pembangunan tidak dapat dituntaskan.
Akibatnya kampung nelayan yang ada di sekitar dermaga kerapkali terancam bencana saat air laut pasang, karena belum adanya tembok yang membatasi kampung dengan dermaga.
Ketertinggalan sangat jelas terlihat di Dusun Kamudi, Desa Matua, Kecamatan Woja. Desa ini sangat terpencil dan hanya dapat dicapai dengan berjalan kaki.
Penduduknya miskin dan kerapkali kekurangan pangan. Untuk menghindari agar tidak kelaparan, mereka terpaksa makan gadung, sejenis umbi beracun yang banyak tumbuh liar di hutan.
Sarana pendidikan juga sangat minim disini. Hanya ada satu sekolah dasar. Bangunannya berupa bilik yang sudah 4 kali roboh. Ruangan belajarnya sangat jauh dari layak. Murid kelas 1, 2 dan 3 harus berbagi kelas dengan kakak kelas mereka, murid kelas 4, 5 dan 6.
Desa Kamudi ini telah diusulkan Dinas Kesejahteraan Sosial Nusa Tenggara Barat untuk diikutsertakan dalam program pemberdayaan lokasi dengan tempat tinggal terpencil sesuai Keppres nomor 111 tahun 1999. Namun pelaksanaannya masih menunggu keputusan Menteri sosial.
Sebenarnya Kecamatan Kilo juga mempunyai potensi budi daya mutiara, yang dapat menjadi sumber mata pencarian.
Sebuah perusahaan dari Mataram pada tahun 2000 lalu pernah mengembangkan budi daya mutiara disini. Namun baru 2 tahun beroperasi, perusahaan gulung tikar karena kenakalan karyawannya, dan seringnya mutiara hilang dicuri orang.
Padahal di Kecamatan Pekat, budi daya mutiara berkembang pesat dengan menghasilkan 30 ribu butir mutiara yang dipanen 4 tahun sekali. Modal utamanya, daerah ini memiliki laut yang sangat ideal untuk budi daya mutiara.
Kabupaten Dompu juga memiliki potensi dibidang pariwisata, yakni Pantai Lakey yang sangat cocok untuk olahraga selancar.
Pantai Lakey yang terletak sekitar 46 kilometer dari kota Dompu menurut Studi Asosiasi Surfing Australia memiliki 6 gelombang yang sangat cocok untuk berselancar. Karena itu, bibit-bibit peselancar muda banyak bermunculan disini.
Di sebelah barat Pantai Lakey terdapat Pantai Ria yang memiliki panorama taman bawah laut yang indah. Sehingga daerah ini sangat cocok untuk olahraga menyelam. Lokasi pantai ini juga sangat strategis karena tidak jauh dari Lombok dan Bali.
Selain itu juga terdapat Pulau Satongga yang tidak berpenghuni. Di pulau ini terdapat danau air asin yang indah. Di tempat ini hidup kelelawar raksasa dengan tangan sayap sepanjang satu meter.
Pulau Satongga juga penuh misteri. Ada mitos siapa saja yang dapat menggantungkan batu di dahan pohon, segala permintaannya akan terpenuhi.
Dompu juga memiliki potensi di bidang budi daya udang dan ikan. Tambak udang lobster dan ikan kerapu di air asin, ikan bandeng di air payau dan ikan nila di air tawar bertebaran di daerah ini.
Sayang tingkat kegagalannya masih tinggi. Hal ini disebabkan konstruksi tambak belum sesuai dengan teknologi yang dianjurkan. Daerah ini juga memiliki potensi di bidang perkebunan, diantaranya jambu mete. Luas perkebunan jambu mete mencapai 6.420 hektar dengan produksi lebih dari 3.000 ton per tahun.
Dengan berbagai potensi tersebut, Kabupaten Dompu merupakan permata terpendam yang bila ditangani dengan baik, dan adanya dukungan dana dari investor, dapat mengejar ketertinggalan dari daerah lain di Indonesia. (Suprie)