HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
RAGAM

Dukun Maut Dari Cikareo



Reporter / Cameraman : Henny Murniati
Penulis Naskah : Arni Gusmiarni
Tayang : Senin, 30 Juli 2007 Pukul 12.30 WIB

Enam orang diduga menjadi pelaku pembunuhan terhadap 8 orang korban penipuan berkedok penggandaan uang di Desa Cikareo, Kecamatan Cileles, Lebak, Banten. Ke-6 tersangka itu semua lelaki. 4 diantaranya diduga yang menggali kuburan. Tapi keempatnya mengaku tidak tahu telah terjadi pembunuhan.

Dari pemeriksaan sementara, Yusuf Maulana dan Oyon ditetapkan sebagai tersangka utama. Yusuf yang berperan sebagai dukun, sementara Oyon yang mencari calon korban. Berdasarkan keterangan para tersangka, pada hari Selasa tanggal 24 Juli lalu, polisi pun melakukan penggalian di lokasi penguburan para korban yang terdapat didua tempat. Salah satunya, di Desa Cikareo, Kecamatan Cileles, Lebak, Banten.

Sebelumnya, sekitar satu setengah kilometer dari lubang itu, polisi sudah menggali sebuah lubang lain yang berisi 3 orang mayat. Terungkapnya kasus ini sendiri berawal ketika sejumlah warga Tangerang melaporkan kehilangan anggota keluarga mereka ke kepolisian Banten. Salah satu istri korban yang hilang memberitahukan, suaminya tengah berguru ilmu di Lebak, Banten. Awalnya, polisi mengira ini merupakan kasus penipuan dan penculikan.

Berdasarkan keterangan para tersangka, kelima korban yang dikubur disini adalah Solihin, Yudi, Olon, Imi Zamzami, dan Umron. Mereka berlima dikubur tanggal 17 Mei 2007.

Sementara tiga korban yang ditemukan di lubang lain, belum lama dikubur, yakni pada tanggal 19 Juli 2007. Mereka adalah Sanali, Anto dan Nasrun.

Yusuf Maulana, sang dukun, menjanjikan bisa memberi kekayaan melimpah pada para korban, dengan menetapkan persyaratan dan melakukan ritual khusus. Terbayang kaya mendadak, para korban itu menurut saja ketika disuruh Yusuf untuk minum minuman yang telah dicampur racun.

Begitu para korban sudah tak sadarkan diri, mereka dimasukkan ke dalam lubang. Kelima jenazah yang diduga sebagai warga Tangerang, Banten itu langsung dibawa ke RSUD Serang, Banten, untuk diotopsi. Menyusul tiga jenazah yang telah ditemukan malam sebelumnya.

Dalam pemeriksaan, terjadi saling menyalahkan antara kedua tersangka utama, yakni Yusuf dan Oyon. Pemeriksaan sendiri dilakukan polisi berulang kali, mengingat pengakuan keduanya berlawanan.

Segmen II

Dalam pemeriksaan selanjutnya akhirnya hanya 2 orang yang tetap jadi tersangka dalam kasus pembunuhan massal di Cikareo itu. Tindak pembunuhan tersebut diduga dilatarbelakangi takut, aksi penipuan mereka ketahuan. Karena uang yang diminta dari para korban sudah habis dipakai para tersangka.

Polisi akhirnya membebaskan empat orang dari enam tersangka sindikat pengganda uang, yang sempat diamankan terkait pembunuhan delapan warga Tanggerang, yang dikubur di Cikareo, Lebak, Banten.

Pelepasan mereka itu karena kurangnya bukti untuk penahanan. Sementara dua tersangka lainnya, Oyon dan Tubagus Yusuf Maulana alias Usep ditetapkan sebagai tersangka.

Sejak awal, tersangka Oyon dan Yusuf kerap saling menuduh. Oyon menuding Yusuf membubuhkan racun pada minuman yang diberikan kepada para korban tanpa sepengetahuannya, sementara Yusuf menyebut seluruh kejadian ini adalah ide Oyon.

Tersangka Oyon bahkan mengaku bingung dengan perkembangan peristiwa itu. Sebab menurutnya, ia pun korban penipuan Yusuf, yang menjanjikan pinjaman uang dari bank gaib. Usai membunuh, barang berharga milik para korban diambil tersangka. Antara lain telepon genggam dan dompet.

Disisi lain, Oyon yang disebut Yusuf sebagai otak pembunuhan, mengaku sama sekali tidak tahu kalau kedelapan korban yang jadi sasaran penipuan mereka itu tewas. Saat kejadian, ia menemani istri dan anak salah satu korban yang menunggu dirumah kerabat Yusuf.

Begitulah, antara Yusuf dan Oyon saling menyalahkan. Namun polisi toh tak percaya begitu saja. Menurut Yusuf, uang yang diperoleh dari para korban mencapai 35 juta rupiah. Uang itu diserahkan sebagai mahar kepada jin pengambil uang. Demikian para tersangka membohongi korban.

Namun karena uang melimpah yang dijanjikan tak juga muncul, para korban mendesak tersangka. Tak dinyana, mereka malah dibunuh. Dengan alasan uang akan muncul dari dalam lubang yang sudah digali, para korban disuruh melakukan ritual dengan berkeliling mengitari lubang dan minum air teh yang sebetulnya telah dibubuhi racun ikan.

Selain mengamankan barang berharga milik para korban, dari tempat praktek Yusuf, polisi juga berhasil memperoleh sejumlah barang bukti. Antara lain seperangkat alat ritual sang dukun maut, sebuah mobil dan sepeda motor yang dibeli dari uang mahar para korban.

Polisi curiga, para tersangka telah merencanakan pembunuhan ini sedari awal, dengan dalih melakukan prosesi terakhir pengambilan uang gaib. Padahal yang diincar adalah harta para korban. Kecurigaan itu berdasarkan penuturan sejumlah anggota keluarga para korban.

Segmen III

Bisa dibilang ini merupakan kasus dimana logika dan moral tak mampu mengalahkan nafsu. Nafsu untuk memperoleh kekayaan dengan cepat. Keluarga para korban sendiri tak habisnya menyesali nasib tragis yang menimpa korban. Seluruh jenazah korban nafsu serakah para tersangka dibawa ke RSUD Serang, Banten, untuk diotopsi. Keluarga korban sudah mulai berdatangan untuk keperluan identifikasi.

Keluarga korban yang dihubungi pihak kepolisian tak mengira anggota keluarga mereka berakhir tragis seperti itu. Lima orang jenazah yang dikubur dalam satu lubang itu saling mengenal satu sama lain. Sebelum menemui ajal pada tanggal 17 Mei lalu, setidaknya mereka sering bolak - balik menemui tersangka Yusuf.

Terakhir, mereka pamit pada keluarga masing - masing dengan mengatakan akan mengambil pinjaman gaib seperti yang dijanjikan para tersangka.

Almarhum Anto adalah korban yang ditemukan bersama dua mayat lainnya, Sanali dan Nasrun. Identifikasi terhadap ketiga mayat tersebut relatif lebih mudah daripada lima korban lainnya, karena kondisi mayat belum banyak yang rusak.

Sementara pada kelima jenazah rombongan kedua, sempat keluarga korban salah mengenali. Pihak keluarga curiga, para korban sudah dihipnotis oleh tersangka Yusuf, sehingga mau saja menuruti permintaan dukun tersebut, dan tidak menggubris nasehat yang diberikan orang-orang di sekitar mereka.

Setelah para korban menghilang, Oyon sempat datang menemui keluarga korban untuk minta komisi sepuluh juta rupiah perorang sesuai kesepakatan.

Menurut Oyon, berdasarkan pemberitahuan Yusuf, para korban sudah berhasil mendapatkan uang, namun Oyon tak tahu menahu kemana para korban menghilang. Komisi yang diminta Oyon itu ditolak mentah - mentah keluarga korban.

Yusuf sang dukun bersikukuh, Oyon tahu semua rencana pembunuhan tersebut. Hanya pada pembunuhan kedua, rekan yang baru dikenalnya awal tahun 2007 itu tidak ikut melihat. Pemeriksaan memang masih terus berjalan, terutama seputar sejauh mana peran masing - masing dalam pembunuhan itu. Polisi sendiri sudah menyiapkan jeratan hukum bagi para tersangka.

Kematian para korban itu terasa sebuah ironi. Ingin mendapatkan untung secara instant, malah maut yang menjemput. Maut yang datang melalui tangan sang dukun, yang juga mencari kekayaan dengan jalan pintas.

Hanya saja ia melakukannya dengan cara membunuh. Memiliki harta berlimpah adalah hasrat kebanyakan orang. Namun keinginan memiliki secara cepat, bisa menjebak seseorang terjerumus dalam tindak kejahatan, entah sebagai pelaku atau bahkan sebagai korban. (Arni Gusmiarni/Dv)

Bookmark and Share


Page: 1
1-Aug-2007 10:13:37 WIB by herry kurniawan, gorntalo
kefakiran berpotensi menjadikan diri manusia terjebak dalam kemusyrikan (penghambaan kpd selain Allah)..nauzubillahi min dzalik
30-Jul-2007 19:38:29 WIB by ana
dasar manusia bejat,kita sebagai manusia harus berhati-hati dalam bertindak berpikir sebelum melakukan sesuatu
30-Jul-2007 13:47:27 WIB by goper
Bobrok donyane!!!
Sopo sing ora jenjem bakal sirno!!!
Sopo sing ora ngabekti tulus ing Gusti bakal Musno!

 

Nama:
Email:
Security Code: