HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Geliat Dangdut di Pantura



indosiar.com, Tegal - Malam semakin larut. Pentas dangdut di sebuah hajatan di kota Tegal, Jawa Tengah ini semakin panas. Irama dinamis yang mengalun dari musik di panggung terus menggoda penontonnya untuk larut dalam goyang pinggul sang biduan.

Tarian dengan gerak yang lebih bertumpu pada pinggul seperti ini pula, yang kemudian melambungkan nama seorang penyanyi dangdut wanita asal Jawa Timur hingga ke mancanegara. Bahkan sempat menjadi polemik berbagai kalangan di Indonesia, karena goyang pinggulnya yang dianggap terlalu seronok.

Pentas dangdut seronok memang bukan tontonan aneh, apalagi tabu bagi mereka yang tinggal di desa atau kota-kota kecil. Bisa dibilang hampir sepanjang malam di kawasan Pesisir Utara Pulau Jawa digelar orkes dangdut. Biasanya dalam sebuah hajatan atau pesta. Semakin panas goyang penyanyinya, semakin ramai orang datang.

Goyangan sang penyanyi yang mayoritas perempuan, tidak ayal membuat imajinasi erotis pun terbangkitkan. Tidak bisa dihindari, pandangan negatif seringkali kemudian melekat pada para penyanyi dangdut kelas bawah ini. Sebuah sikap yang disadari oleh kebanyakan biduannya sendiri.

Kebanyakan dari para penyanyi ini, tampaknya memang tidak ingin dipusingkan dengan polemik apakah mereka mengumbar sensualitas, ataupun memancing birahi para lelaki. Apa yang terjadi setelah pentas usai, adalah urusan masing-masing, yang harus dipertanggungjawabkan secara individu pula. Bagi mereka, gaya seronok, erotis, ataupun sensual adalah bagian dari sebuah aksi panggung.

Untuk satu kali pementasan, seorang penyanyi setidaknya harus menembangkan empat judul lagu . Biasanya dalam satu paket pertunjukan, terbagi dalam dua sesi. Satu kali pertunjukan pada siang hari, dan satu lagi pada malam harinya . Atas hasil kerjanya itu, sang penyanyi akan mendapatkan uang sebesar 100 ribu rupiah hingga 200 ribu rupiah. Besaran honorarium ini bergantung pada popularitas sang biduan di kalangan penonton setempat. Semakin namanya terkenal, maka semakin besar pula bayaran yang akan diterimanya.

Bayaran dari penyelenggara acara akan berlipat ganda, bila penyanyinya pernah rekaman di studio. Jumlah uang ini belum termasuk pemberian penonton saat pementasan, atau kerap disebut dengan istilah saweran. Kadang uang saweran jumlahnya lebih besar daripada honorarium penyanyi. Namun acara saweran ini, tidak jarang menjadi ajang bagi penonton pria untuk melecehkan penyanyi wanita.

Pelecehan seksual, pandangan negatif, adalah risiko yang sudah menjadi santapan mereka tiap hari. Bagaimanapun, dunia pentas memang selalu membius. Apalagi dunia kerja di luar itu tidak selalu menjanjikan. Setidaknya, dari panggung rakyat ini seorang artis bisa bertahan hidup.

Dalam satu minggu paling tidak, ada satu tawaran untuk berpentas, baik dalam acara-acara perayaan kelompok semacam pesta rakyat, maupun dalam perhelatan, seperti sunatan dan perayaan perkawinan. Jumlah pendapatan dengan jadwal pementasan seperti ini, untuk ukuran kota kecil seperti Tegal, Jawa Tengah, setidaknya bisa mencukupi kebutuhan mereka. Baik untuk perlengkapan panggung , maupun untuk kebutuhan sehari-hari. Namun tentu impian menggapai ketenaran yang lebih luas adalah mimpi yang terus dirajut setiap saat.

Keberadaan para penyanyi wanita dengan goyangnya yang aduhai ini, sejatinya adalah bagian dari denyut kehidupan masyarakat di nusantara. Suka atau tidak, mereka punya penggemar. Sementara masalah moralitas, adalah persoalan yang harus dipertanggungjawabkan secara individu, yang tidak selayaknya dibebankan pada musik atau sang artis.

Maraknya pertunjukan musik dangdut, di berbagai kota kecil di kawasan Pesisir Utara Pulau Jawa, membuka pula peluang bagi bisnis pertunjukan. Salah satunya yang memanfaatkan peluang itu adalah Darsono. Berawal dari usaha pembuatan dan penyewaan sound system, akhirnya pria yang akrab dipanggil Soni ini membentuk sebuah kelompok musik pada tahun 1990.

Kini, orkes dangdutnya cukup ternama di kota Tegal. Setidaknya dalam sebulan ada 8 kali permintaan pentas. Sekali pentas, 5 juta rupiah diraupnya. Selain di Tegal, Soni dan anak buahnya pun seringkali memenuhi undangan pentas dari kota-kota sekitarnya bahkan pernah hingga ke Lampung. Dari bisnis inilah kini pria yang pernah jadi mekanik bengkel sepeda motor ini hidup cukup mapan.

Namun, sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia hiburan, tidak jarang muncul isu minor terhadapnya. Terutama bila akrab dengan penyanyi wanita. Seringkali ayah 4 anak itu diisukan berselingkuh dengan sang penyanyi. Sebuah ujian bagi keutuhan rumah tangganya.

Sebagai pemilik orkes dangdut, urusan Soni pun tidak semata urusan panggung. Penampilan para penyanyi dangdut dengan goyangnya yang cukup menantang di panggung, tak jarang membuat beberapa penonton pria, kemudian menawarkan sejumlah imbalan tertentu kepada sang penyanyi agar dapat berkencan. Seringkali tawaran itu disampaikan melalui Soni.

Walaupun aksi panggung para penyanyi perempuan ini banyak memancing protes dari kalangan tertentu, selama Soni menjalani usaha hiburannya ini, tidak pernah sekalipun ia mendapat tekanan untuk mengurangi aksi panggung para penyanyinya tersebut. Bahkan seringkali pihak pengundang meminta agar artis yang tampil, yang aksi tarinya paling atraktif. Alias yang goyangnya paling panas.

Pentas dangdut yang banyak digelar di sepanjang Pesisir Utara Pulau Jawa ini, dan juga berbagai tempat lain di pelosok tanah air, sejatinya adalah sebuah panggung rakyat. Tempat dimana rakyat menemukan pelepas lelahnya, dan pada sisi lain pula membuka berbagai peluang kerja. Dari mulai bisnis hiburan seperti milik Soni, hingga para pedagang kagetan yang selalu menyertai keberadaan sebuah keramaian.

Eksistensi dangdut sebagai sebuah bentuk budaya populer di kalangan masyarakat kelas bawah adalah fakta yang tidak bisa disangkal. Soal goyang pinggul yang seolah melekat pada musik dangdut, lebih baik disikapi secara arif. Tidak memandang dari kacamata hitam putih semata.(Iwan Munandar dan Iwan Agung/Idh)

Video Streaming

Bookmark and Share