
indosiar.com, Banda Aceh - Beginilah kegiatan nelayan pesisir Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam seusai kembali dari melaut. Mereka menjual ikan hasil tangkapan di tempat pelelangan ikan Peunayung, Lampulo, Banda Aceh, setelah seminggu melaut.
Sejak tsunami dan gempa bumi melanda bumi rencong, kehidupan nelayan sempat tak terdengar. Karena sebagian nelayan tewas dan hilang. Dari 400 ribu nelayan yang mendiami pesisir, kini tinggal sekitar 200 ribu nelayan saja yang kembali melaut.
Selain trauma, nelayan di Aceh, umumnya tidak memiliki keahlian lain untuk menopang hidupnya. Sebagian nelayan mengandalkan hidup dari bantuan pemerintah, bantuan dari luar negeri dan Lembaga Swadaya Masyarakat.
Menurut Khairul Amri, Kepala Desa, karena para nelayan selamat dari tsunami dalam keadaan luka-luka sehingga tidak mungkin mereka langsung mencari rejeki. Namun dia yakin, lama-lama ketergantungan terhadap bantuan tersebut bisa hilang sendiri, seiring dengan berkurangnya bantuan yang datang.
Kini setelah dua tahun peristiwa tsunami berlalu, kegiatan nelayan Aceh kembali bergeliat. Mereka meninggalkan barak pengungsian dan kembali ke perkampungan mereka di pinggir pantai.
Denyut kehidupan nelayan ini sudah tampak di Desa Lambadalo, Aceh Besar. Penduduk di tempat ini kembali menjalani rutinitas yang telah mereka jalani sejak sebelum bencana tsunami.
Meskipun penduduknya telah berkurang hingga hanya tinggal sepertiganya. Sebelum terjadi bencana tsunami, jumlah penduduk desa ini mencapai 2.250 jiwa. Namun setelah bencana tsunami hanya tinggal 625 jiwa.
Sulaiman Tripa, Staff Expert Lembaga Hukum Adat Laut NAD mengungkapkan, mereka kembali menjadi nelayan karena hanya itulah keterampilan yang mereka miliki.
Kembalinya nelayan ke laut memberi berkah kepada para pembuat kapal. Seperti di kawasan Lampulo, Banda Aceh. Untuk kapal semacam ini dibuat selama 6 bulan dengan biaya sekitar 80 juta rupiah.
Geliat juga tampak di tempat pembuatan perahu di Pantai Ulele, Banda Aceh. Untuk perahu kecil semacam ini dibuat dalam waktu dua minggu dengan biaya 2 juta rupiah.
Bergairahnya kembali usaha pembuatan perahu ini tidak terlepas dari banyaknya bantuan dari pemerintah, dari luar negeri dan dari Lembaga Swadaya Masyarakat. Tidak kurang dari 200 unit perahu dan kapal bantuan, telah disalurkan kepada nelayan dan digunakan untuk melaut.
Namun pemberian bantuan semacam ini dinilai sebagian pihak tidak memberikan alternatif lain kepada nelayan untuk mencari nafkah. Padahal masih banyak potensi lain di pantai yang dapat dijadikan sumber mata pencarian apabila mereka memiliki keterampilan.
Hal ini mengakibatkan secara ekonomi nasib para nelayan tidak mengalami banyak perbaikan dibandingkan sebelum bencana tsunami terjadi.
Melayan memang tidak dapat dipisahkan dari laut. Karena tradisi melaut ini telah dilakoni sejak masa nenek moyang mereka. Namun perlu juga dipikirkan alternatif lain untuk meningkatkan taraf hidup nelayan.
Karena mencari nafkah bagi para penduduk di pesisir tidak hanya semata-mata harus pergi ke laut. Mereka juga dapat melakukan budi daya berbagai biota laut di pinggir pantai sehingga mereka mendapat nilai tambah yang lebih besar, yang sekaligus dapat meningkatkan penghasilan. (Sup)