
Tim Peliput : Asep Syaifullah
Juru Kamera : Kiki Suhartono
Produser : Widayat S. Noeswa
Tayang : Jumat, 16 Januari 2009, Pukul 12.30 WIB
indosiar.com - Cinta Surti terhadap suaminya tak pernah lekang oleh waktu, meski ia harus membanting tulang untuk membiayai suaminya yang tergolek tak berdaya, namun Surti ikhlas menjalaninya.
Aku biasa dipanggil Nek Surti, usiaku kini 75 tahun. Aku hidup bersama dengan suamiku Saan, usianya sudah 79 tahun.
Kami hidup di gubuk kecil ini sejak 13 tahun lalu. Sejak 9 tahun lalu, kehidupanku banyak berubah, setelah suamiku menderita sakit. Entah kenapa, tiba-tiba kedua kakinya lumpuh tak bisa digerakkan. Kini Saan hanya bisa duduk dan terbaring didalam rumah. Kini aku terpaksa mengambil perannya mencari nafkah.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari aku berjualan makanan. Gorengan ini aku masak sendiri dan aku jual disekitar tempat tinggalku. Aku tahu, berjualan seperti ini tidak bisa diandalkan, apalagi aku hanya pedagang kecil-kecilan. Rata-rata aku hanya bisa mendapat 20 hingga 40 ribu rupiah perhari, tapi tak jarang daganganku tidak laku.
Karena itu sering aku kehabisan modal, sehingga tak bisa lagi berjualan. Jika sudah kepepet, aku kadang meminjam modal pada tetangga. Tapi hidup ini memang harus terus berjalan. Aku berusaha mensyukuri segala nikmat yang diberikan Tuhan. Susah dan senang akan aku hadapi dengan kepasrahan, apalagi aku dan Saan tinggal menikmati hari tua.
Aku juga bersyukur, meski rumah tinggalku kecil dan mirip gubuk tapi milik sendiri. Tanah ini merupakan hasil jerih paya suamiku saat masih sehat dan getol mencari uang. Ya, Saan membeli tanah ini 13 tahun lalu. Aku hanya menyesal tidak bisa membawa suamiku berobat ke dokter atau ke rumah sakit, karena memang kami tak punya biaya.
Untuk hidup sehari-hari saja, rasakan berat. kata orang pihak kelurahan bisa membantu pengobatan bagi orang-orang tak mampu seperti kami, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya.
Di sisa umurku ini aku selalu berdoa kepada Tuhan semoga aku diberi kesehatan agar bisa mengurus suamiku yang tidak berdaya ini. Suamiku kadang menangis melihat aku membanting tulang mencari nafkah. Meski tanpa suara, tapi aku bisa mengerti, jika saja Saan sehat, tidak mungkin dia membiarkan aku bekerja seperti ini.
Semua ini aku lakukan demi baktiku kepada Saan, suamiku. Ya Tuhan, aku mohon kepadaMu agar aku diberi kekuatan dalam menjalani semua ini. (Sup/Ijs)